Jakarta, IDN Times – Di tengah gempuran modernisasi dan stigma bahwa generasi muda menyukai hal-hal serba instan, hadir sebuah narasi tulus yang membuktikan sebaliknya. Setiap individu, termasuk Generasi Z, menyimpan perjalanan hidup tersembunyi yang tidak selalu tampak di mata dunia. Banyak yang menganggap menjadi bagian dari Gen Z adalah sebuah keberuntungan karena dikelilingi berbagai kemudahan teknologi. Namun, di balik persepsi tersebut, terdapat cerita dan perjuangan pribadi yang terus mereka jaga dengan rapat.
Meski sering dicap sebagai generasi yang rentan akibat terbiasa dengan keinstanan, fakta di lapangan menunjukkan ketangguhan (resilience), kreativitas, serta komitmen mereka dalam memegang teguh nilai kesinambungan. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian masa depan, semangat untuk meraih kehidupan yang lebih baik menjadi pendorong utama bagi mereka untuk melangkah maju dan berbuat lebih dari sekadar bertahan hidup. Lewat pendekatan penuh kehangatan, fotografer profesional Marrysa Tunjung Sari mengabadikan momen-momen inspiratif tersebut melalui lensa kameranya, merekam jejak bagaimana Gen Z terus tumbuh menjadi pribadi yang sarat nilai kehidupan.
Tidak hanya mendokumentasikan perjalanan hidup para Gen Z, Marrysa juga membagikan cerita mendalam di balik karya foto-fotonya melalui forum World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026), ia mengupas tuntas perjuangan dan ketangguhan Gen Z dalam memperjuangkan mimpi serta masa depan mereka. Berikut adalah ulasan lengkapnya.
