Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gen Z Merajut Budaya, Teknologi, dan Ketangguhan Lewat Lensa Kreatif
World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Jakarta, IDN Times – Di tengah gempuran modernisasi dan stigma bahwa generasi muda menyukai hal-hal serba instan, hadir sebuah narasi tulus yang membuktikan sebaliknya. Setiap individu, termasuk Generasi Z, menyimpan perjalanan hidup tersembunyi yang tidak selalu tampak di mata dunia. Banyak yang menganggap menjadi bagian dari Gen Z adalah sebuah keberuntungan karena dikelilingi berbagai kemudahan teknologi. Namun, di balik persepsi tersebut, terdapat cerita dan perjuangan pribadi yang terus mereka jaga dengan rapat.

Meski sering dicap sebagai generasi yang rentan akibat terbiasa dengan keinstanan, fakta di lapangan menunjukkan ketangguhan (resilience), kreativitas, serta komitmen mereka dalam memegang teguh nilai kesinambungan. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian masa depan, semangat untuk meraih kehidupan yang lebih baik menjadi pendorong utama bagi mereka untuk melangkah maju dan berbuat lebih dari sekadar bertahan hidup. Lewat pendekatan penuh kehangatan, fotografer profesional Marrysa Tunjung Sari mengabadikan momen-momen inspiratif tersebut melalui lensa kameranya, merekam jejak bagaimana Gen Z terus tumbuh menjadi pribadi yang sarat nilai kehidupan.

Tidak hanya mendokumentasikan perjalanan hidup para Gen Z, Marrysa juga membagikan cerita mendalam di balik karya foto-fotonya melalui forum World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026), ia mengupas tuntas perjuangan dan ketangguhan Gen Z dalam memperjuangkan mimpi serta masa depan mereka. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

1. Mendengarkan sebagai kunci utama di balik lensa

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Memotret bukan sekadar proses menekan tombol rana untuk mengambil gambar, melainkan berawal dari kemampuan untuk mau mendengar. Dengan membiasakan diri mendengarkan, seorang fotografer dapat menggali lebih banyak cerita, menyerap informasi berharga, serta menemukan sudut pandang (angle) yang mendalam untuk kebutuhan wawancara, penyusunan narasi, maupun storytelling.

Marrysa menegaskan bahwa proyek fotografinya bukan sekadar sesi pemotretan biasa, melainkan sebuah inisiatif yang mengusung tema kreativitas inklusif dan kesinambungan kolektif. Konsep ini berkaitan erat dengan masa depan yang berkelanjutan melalui kisah-kisah inspiratif dari generasi muda.

“Fotografi itu soal mendengar. Semakin banyak kita mendengar, maka kita akan semakin banyak mendapatkan cerita, akan mendapatkan informasi, akan mendapatkan banyak angle. Dan itu semua yang saya bilang tadi bahwa itulah kenapa memotret itu yang paling bagus adalah kamu belajar mendengarkan,” kata Marrysa.

Proyek ini mempertemukan ragam talenta muda dari berbagai latar belakang, mulai dari seniman tradisional, kreator konten, hingga inovator teknologi seperti pembuat mesin pemilah sampah berbasis AI dan pembaca manuskrip kuno. Melalui kolaborasi lintas disiplin ini, Marrysa ingin membuktikan bahwa perjalanan hidup Gen Z dibangun atas dasar keyakinan akan masa depan yang lebih baik. Menurutnya, Gen Z memiliki dorongan kuat untuk terus bertumbuh dan meraih cita-cita mereka melalui inovasi serta karya kreatif.

2. Menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernitas

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Di balik citra Gen Z yang identik dengan gaya hidup modern, masih banyak di antara mereka yang berjuang menjaga kelestarian budaya Indonesia agar tidak runtuh tergerus zaman. Cerita inilah yang disampaikan Marrysa kepada publik mengenai upaya Gen Z dalam merawat tradisi, seperti pewayangan, manuskrip kuno, hingga filosofi lokal Sunda, sekaligus membuktikan bahwa warisan leluhur dapat dikemas kembali menjadi narasi kreatif yang relevan dengan tren masa kini.

Proyek ini menyoroti bagaimana generasi muda mampu bangkit, mandiri, serta menciptakan nilai ekonomi dari minat dan keahlian yang mereka tekuni, baik di bidang seni, pewayangan, maupun inovasi berwawasan lingkungan. Pemberdayaan ini turut memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan karena digerakkan langsung oleh talenta-talenta muda yang tangguh (resilient).

3. Ketika kreativitas dan teknologi bertransformasi menjadi ekonomi berkelanjutan

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Dalam sesi presentasi bertajuk “Dressed in Resilience: Portrait of Gen Z with Fujifilm” yang diselenggarakan di Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Gen Z terbukti tetap menjunjung tinggi nilai kebudayaan, memiliki tekad yang kuat, serta cerdas memanfaatkan kecanggihan teknologi. Hal tersebut ditegaskan oleh Marrysa, yang menyebutkan bahwa Gen Z berhasil merepresentasikan empat aspek penting, yaitu heritage (warisan budaya), determination (ketetapan hati), continuity (kesinambungan), dan ingenuity (kejelian/inovasi).

Spirit ini tercermin nyata dari sosok Mayo melalui seni pewayangannya, serta inisiatif Karisma yang membangun fondasi sekolah berbasis budaya Sunda. Di tangan mereka, tradisi diolah menjadi produk budaya yang hidup, didukung oleh para donatur, dan didistribusikan ke institusi-institusi pendidikan. Ada pula kisah Aris, seorang inovator yang menciptakan mesin pemilah sampah berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dilengkapi empat ruang chamber. Mesin ini tidak hanya hadir menjawab persoalan sampah di perkotaan yang sibuk, tetapi juga berhasil disewakan serta diberi branding oleh berbagai korporasi besar.

Selain itu, terdapat kisah inspiratif dari Auf, seorang pembaca manuskrip kuno spesialisasi naskah berbahasa Melayu Sumatra, Sulawesi, dan Arab gundul, yang menunjukkan sisi introvert sarat makna. Lewat aktivitasnya di museum, ia membaca lembaran masa lalu—mulai dari filosofi kehidupan setelah kematian hingga prosesi pernikahan—dan membagikan insight mendalam bahwa pesan-pesan leluhur dari masa lampau masih sangat relevan untuk kehidupan hari ini.

“Di balik setiap karya kreatif, terdapat proses mental yang matang. Kisah hidup Alim dan para narasumber lainnya mengajarkan bahwa seni merangkai hidup, meskipun di tengah hantaman duka adalah bentuk ketangguhan tertinggi yang melahirkan karya autentik,” ungkap Marrysa saat menceritakan kisah di balik potret foto kameranya.

Proyek kolaborasi bersama Fujifilm ini menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan visual sebuah potret, tersimpan narasi besar tentang bagaimana generasi muda melanjutkan estafet kebudayaan dan masa depan bangsa. Jejak-jejak masa lalu, baik berupa manuskrip, tradisi, maupun nilai ketangguhan keluarga, bukanlah sekadar peninggalan usang, melainkan peta jalan yang hidup bagi kita saat ini. Sudah saatnya kita belajar "mendengarkan" lebih banyak, karena dari situlah cerita terbaik dan karya kreatif yang berkelanjutan bermula.

Curated For You

Editorial Team

Related Article