“Ini akan menjadi Piala Dunia terakhir saya. Saya ingin menikmatinya, bermain di Amerika Serikat tempat saya tinggal sekarang, dan mengucapkan selamat tinggal kepada tim nasional dengan cara yang tepat,” katanya kepada jurnalis Argentina, Fabrizio Romano dikutip dari FIFA Watch.
5 Mindset Lionel Messi di Piala Dunia 2026 yang Relate Banget buat Gen Z

Di saat banyak pemain seusianya sudah pensiun atau mulai kehilangan performa, Lionel Messi masih mampu bersaing hingga 2026 FIFA World Cup. Di usia yang hampir 39 tahun, Messi masih dipercaya menjadi bagian penting Timnas Argentina dan tetap dianggap berbahaya oleh lawan-lawannya.
Hal itu membuat banyak orang kagum, bukan cuma karena bakatnya, tapi karena mentalitas dan cara hidupnya. Buat Gen Z yang hidup di era serba cepat dan mudah merasa tertinggal, perjalanan Messi jadi pengingat bahwa konsistensi lebih penting daripada viral sesaat.
1. Tetap disiplin meski sudah berada di puncak

Banyak orang kehilangan semangat setelah merasa sukses, tapi Messi justru tetap menjaga ritme latihan dan kondisi tubuhnya meski sudah memenangkan hampir semua trofi besar. Sampai menjelang Piala Dunia 2026, ia masih aktif bermain dan menjaga performa bersama Inter Miami serta timnas Argentina.
Dalam laporan FIFA Watch tentang persiapan Messi menuju Piala Dunia 2026, disebutkan bahwa menit bermainnya memang lebih dijaga karena faktor usia, tetapi kualitas permainan dan kontribusinya masih dianggap elite. Artikel itu menjelaskan bahwa kekuatan Messi sekarang bukan lagi soal fisik semata, tetapi soal keputusan bermain, visi, dan pengalaman.
Buat Gen Z, hal ini penting banget untuk dipelajari. Banyak orang ingin hasil besar dengan cepat, tapi Messi memperlihatkan bahwa menjaga konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar sukses sesaat. Umur boleh bertambah, tapi kualitas diri tetap bisa dijaga kalau seseorang disiplin dengan prosesnya.
2. Tidak takut dengan umur dan persaingan baru

Di Piala Dunia 2026 nanti, Messi akan bermain melawan pemain-pemain yang usianya jauh lebih muda. Namun sampai sekarang, banyak orang tetap percaya bahwa ia masih bisa memberi perbedaan besar di pertandingan penting.
"Rasanya istimewa bisa bermain bersama tim nasional, terutama di kompetisi resmi besar, dan terlebih lagi mengingat arti penting Piala Dunia, terutama setelah memenangkannya," kata Messi dalam wawancaranya dikutip FOX Sports.
"Tapi seperti yang saya katakan, saya tidak ingin menjadi beban, bisa dibilang begitu. Saya ingin merasa bugar secara fisik, untuk memastikan saya bisa membantu dan berkontribusi pada tim," tambahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Messi tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Buat Gen Z yang sering overthinking soal 'ketinggalan umur', perjalanan Messi jadi bukti bahwa kemampuan dan semangat seseorang tidak selalu ditentukan oleh usia saja.
3. Tetap mau berkembang walaupun sudah legenda

Messi sudah dianggap sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, tapi ia tetap terus beradaptasi. Cara bermainnya berubah seiring usia. Dulu ia dikenal cepat dan agresif, sekarang ia lebih mengandalkan visi permainan, kontrol bola, dan kecerdasannya membaca situasi.
Dalam artikel FIFA Watch, dijelaskan bahwa Messi tetap efektif karena kemampuan teknis dan pengambilan keputusannya menurun jauh lebih lambat dibanding kemampuan fisik pemain biasa. Penelitian yang dikutip dari British Journal of Sports Medicine juga menyebut pemain usia 37+ memang mengalami penurunan sprint dan intensitas fisik, tetapi kualitas teknis dan pengalaman tetap sangat berpengaruh.
Dari sini, Gen Z bisa belajar bahwa bertahan lama bukan soal jadi yang paling cepat atau paling viral, tetapi soal kemampuan beradaptasi. Dunia terus berubah, dan orang yang bisa terus belajar biasanya akan bertahan lebih lama dibanding yang hanya mengandalkan momentum.
4. Tetap tenang di tengah tekanan besar

Messi selalu berada di bawah sorotan dunia selama hampir dua dekade. Bahkan menjelang Piala Dunia 2026, kondisi tubuh dan performanya masih terus dibahas media internasional. Ketika sempat terlihat memegang pahanya di pertandingan terakhir sebelum Piala Dunia, dunia langsung panik soal kemungkinan cedera. Namun yang menarik, Messi jarang terlihat bereaksi berlebihan terhadap tekanan tersebut. Ia tetap tampil tenang dan fokus pada permainannya.
Di era media sosial yang penuh komentar dan tuntutan, banyak Gen Z mudah merasa cemas atau burnout karena tekanan online. Dari Messi, kita bisa belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi secara emosional. Kadang, tetap tenang justru membuat seseorang lebih kuat dan jernih menghadapi tekanan.
5. Fokus pada kualitas, bukan sekadar sensasi

Meski statusnya superstar dunia, Messi dikenal bukan tipe yang suka mencari sensasi. Sampai sekarang, orang tetap menghormatinya bukan karena kontroversi, tapi karena kualitas permainannya yang konsisten selama bertahun-tahun.
Banyak fans menyebut Piala Dunia 2026 sebagai 'last dance' Messi karena ini kemungkinan menjadi turnamen terakhirnya. Menariknya, meski sudah jauh dari masa puncak usia atlet, banyak orang tetap percaya Messi masih bisa menciptakan momen besar di turnamen tersebut.
Buat Gen Z, ini jadi pelajaran penting bahwa reputasi yang bertahan lama biasanya dibangun dari kualitas dan konsistensi, bukan sekadar viral sesaat. Messi membuktikan bahwa seseorang tidak perlu selalu menjadi yang paling ramai untuk tetap dihormati dunia.
Di tengah budaya yang sering membuat anak muda takut kalah cepat atau takut tertinggal, perjalanan Messi seperti pengingat bahwa hidup bukan perlombaan instan. Kadang, yang membuat seseorang benar-benar hebat adalah kemampuan untuk terus bertahan, beradaptasi, dan tetap mencintai prosesnya sampai akhir.



















