"Jika kamu ingin mengendalikan perbandingan sosial yang tidak sehat ke tingkat yang lebih wajar dan sehat, kuncinya adalah memvalidasinya daripada mencelanya," sarannya dikutip dari lamannya Nick Wignall.
Hidup Bukan Lomba, Stop Bandingkan! Ini Cara Bebas dari Rasa Kurang

Membandingkan diri dengan orang lain sering terjadi tanpa sadar, apalagi di era sekarang yang serba terbuka lewat media sosial. Melihat pencapaian orang lain yang terlihat lebih cepat atau lebih baik bisa membuat kamu merasa kurang, bahkan meragukan diri sendiri. Padahal, setiap orang punya jalan hidup yang berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.
Kebiasaan ini jika dibiarkan bisa berdampak pada kepercayaan diri dan kesehatan mental. Karena itu, penting untuk mulai belajar berhenti membandingkan diri, agar kamu bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan percaya diri.
1. Bukan siapa paling cepat, tapi siapa yang tetap kuat

Banyak orang merasa hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin. Melihat orang lain lebih dulu mencapai sesuatu sering membuat kamu merasa tertinggal. Padahal, hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang mampu bertahan dan terus berjalan.
Setiap orang punya ritme hidup yang berbeda. Ada yang cepat di awal, ada juga yang berkembang perlahan tapi stabil. Fokus pada kekuatan diri sendiri akan membuat kamu lebih tenang, daripada terus membandingkan langkah dengan orang lain.
Menurut psikolog klinis Nick Wignall, sangat normal untuk membandingkan dirimu dengan orang lain. Kecenderungan ini bisa mencapai tingkat yang tidak sehat. Tapi cobalah untuk memvalidasinya.
2. Lihat ke dalam, bukan terus membandingkan

Kebiasaan membandingkan diri sering membuat kamu lupa melihat apa yang sebenarnya sudah kamu capai. Kamu jadi terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain, sampai tidak menyadari perkembangan dirimu sendiri.
Mulailah membiasakan diri untuk melihat ke dalam. Sadari hal-hal kecil yang sudah kamu lakukan dan capai. Dengan begitu, kamu akan lebih menghargai diri sendiri dan tidak mudah merasa kurang hanya karena melihat orang lain.
"Memberikan sedikit rasa welas asih pada diri sendiri akan membuatmu merasa jauh lebih mudah untuk mengendalikan tindakan kamu; untuk berhenti memikirkan orang lain, bagaimana membandingkan dirimu dengan mereka, apa yang perlu kamu lakukan agar lebih seperti mereka, dan sebagainya," jelas Nick.
3. Media sosial bukan cermin nyata, jangan mudah percaya

Apa yang kamu lihat di media sosial sering kali hanya sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Foto bahagia, pencapaian besar, dan momen menyenangkan bisa membuat hidup orang lain terlihat sempurna. Padahal, ada banyak hal yang tidak ditampilkan, seperti perjuangan dan kegagalan.
Jika kamu terus membandingkan hidupmu dengan apa yang terlihat di layar, kamu akan mudah merasa tertinggal. Karena itu, penting untuk lebih bijak dalam melihat dan menyikapi media sosial.
Menurut Susan Biali Haas, M.D. seorang dokter yang berfokus dalam pengurangan stres, pencegahan kelelahan, kesehatan mental, kesejahteraan, dan ketahanan, sebisa mungkin menghindari menggulir unggahan media sosial tanpa tujuan. Pasalnya, waktu yang dihabiskan di media sosial meningkatkan depresi dan rasa iri serta menurunkan kesejahteraan.
"Jadi gunakan media sosial dengan tujuan tertentu, khususnya memilih apa yang akan kamu lihat dan meminimalkannya," saran Susan dikutip dari Psychology Today.
"Ingatkan dirimu bahwa 'penampilan luar' orang lain tidak bisa dibandingkan dengan 'kepribadian dalam' dirimu. Kamu sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi di balik itu," tambahnya.
4. Setiap orang punya jalan, tak perlu ikut arah yang sama

Sering kali kamu merasa harus mengikuti standar yang sama dengan orang lain, entah itu soal karier, hubungan, atau pencapaian hidup. Padahal, jalan hidup setiap orang tidak harus sama.
Kamu berhak menentukan arah hidupmu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keinginanmu. Dengan memahami ini, kamu tidak akan mudah merasa tertinggal hanya karena pilihanmu berbeda dari orang lain.
"Jika kamu berkomitmen untuk bersyukur atas hal-hal baik dalam hidupmu dan mengingatkan dirimu setiap hari, kamu akan jauh lebih tidak rentan terhadap perbandingan dan rasa iri," jelas Susan.
Perasaan kurang sering muncul karena kamu melihat apa yang belum kamu miliki. Semakin sering membandingkan, semakin besar rasa tidak puas yang kamu rasakan. Sebaliknya, jika kamu mulai fokus pada apa yang sudah kamu punya, rasa syukur akan tumbuh.
5. Hargai proses sendiri, jangan terlalu keras hati

Banyak orang terlalu fokus pada hasil akhir dan lupa menghargai proses yang sedang dijalani. Akibatnya, kamu merasa belum cukup hanya karena belum sampai di tujuan. Padahal terus membandingkan diri hanya akan mengaburkan nilaimu sendiri.
"Masalah dari perbandingan adalah mengalihkan identitasmu ke pihak lain, kamu membiarkan orang lain dan hal-hal di luar dirimu untuk menentukan nilai dirimu sendiri," jelas terapis pernikahan dan keluarga Emma McAdam, LMFT dikutip dari laman Therapy In a Nutshell.
Padahal, setiap langkah kecil adalah bagian penting dari perjalanan. Dengan menghargai proses, kamu bisa lebih menikmati hidup tanpa tekanan berlebih. Ini juga membantu kamu berhenti membandingkan diri dan lebih fokus pada perkembangan pribadi.
"Kamu harus menyadari bahwa nilai dirimu tidak bergantung pada apakah kamu lebih baik dari orang lain. Mari kita pilih sesuatu yang lebih jujur, nilaimu bersifat inheren, kamu selalu berharga dan bernilai. Dan kebaikan hidupmu bergantung pada seberapa dekat kamu menjalani nilai-nilaimu," tambah Emma.
Berhenti membandingkan diri bukan berarti kamu tidak boleh belajar dari orang lain. Justru, kamu tetap bisa mengambil inspirasi tanpa harus merasa lebih rendah. Kuncinya adalah memahami bahwa setiap orang punya waktu, proses, dan tantangan yang berbeda-beda.