ilustrasi memasak daging kurban (unsplash.com/Sholahudien Al Ayyuby)
Tidak sedikit orang yang mengingat Idul Adha justru dari suasana dapurnya. Aroma sate, gulai, atau tongseng sering membuat rumah terasa lebih ramai dibanding hari biasa. Menariknya, momen sederhana seperti membagi tugas memotong daging atau menyalakan arang ternyata menciptakan kedekatan yang jarang terjadi pada hari kerja normal. Bahkan keluarga yang sehari-hari sibuk sendiri-sendiri bisa duduk bersama lebih lama hanya karena menunggu masakan matang.
Hal seperti ini membuat banyak orang mulai melihat rezeki dari bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan nyata. Bukan hanya soal uang atau jumlah hewan kurban, tetapi juga waktu berkumpul yang semakin sulit dicari. Ada orang yang merasa Idul Adha menjadi satu-satunya momen ketika seluruh anggota keluarga makan bersama tanpa terburu-buru. Dari situ muncul kesadaran bahwa suasana hangat di rumah juga termasuk bentuk rezeki yang sering dianggap biasa. Perspektif semacam ini terasa sederhana, tetapi justru paling mudah dirasakan banyak orang.
Idul Adha memang tidak selalu mengubah hidup seseorang secara besar-besaran, tetapi momen kecil di dalamnya sering membuat cara pandang tentang rezeki ikut berubah pelan-pelan. Ada yang mulai lebih tenang soal kondisi finansial, ada pula yang jadi lebih peka melihat kehidupan orang lain tanpa sibuk membandingkan diri. Setelah melewati suasana seperti itu, masihkah rezeki hanya soal angka dan barang yang terlihat?