ilustrasi journaling (freepik.com/freepik)
Journaling tidak harus selalu membahas masalah. Kalau setiap kali membuka jurnal kamu hanya menuliskan kekhawatiran, kamu bisa mencoba menutup sesi dengan pertanyaan yang lebih menenangkan. Misalnya, “Apa tiga hal baik yang terjadi hari ini?”, “Apa yang berhasil kulakukan?”, “Apa yang ingin kusyukuri?”, atau “Apa satu hal kecil yang bisa kunikmati besok?”
“Menulis jurnal adalah cara yang bagus untuk membantu mengatasi stres, menindaklanjuti tujuan perilaku, dan membantu dalam pemrosesan emosional peristiwa kehidupan,” kata Jeffrey Leichter, Ph.D., psikolog klinis berlisensi dalam Sanford Health.
Kamu bisa membuat ritual penutup jurnal yang sangat singkat. Tulis satu hal yang kamu syukuri, satu hal yang sudah kamu selesaikan, dan satu hal yang akan kamu lakukan berikutnya. Hal ini bisa memperbaiki suasana hatimu.
“Penelitian menunjukkan bahwa hal itu dapat membantu memperbaiki suasana hati dan bahkan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Sebuah studi menunjukkan bahwa hanya dengan mencatat tiga hal baik yang terjadi selama sehari selama 14 hari menyebabkan pengurangan gejala depresi yang serupa dengan efektivitas antidepresan untuk individu dengan depresi ringan hingga sedang,” tambah Jeffrey.
Journaling bukan cara ajaib untuk membuat overthinking hilang dalam semalam. Namun, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi ruang untuk mengeluarkan isi kepala, mengenali emosi, memisahkan fakta dari asumsi, dan menentukan langkah yang masih bisa kamu kendalikan.