"Kami melihat bahwa sustainable living kini sudah menjadi kebiasaan lintas generasi, bukan lagi sekadar tren," ucapnya.
SustainableLiving, Jurus Hemat Masyarakat saat Plastik Makin Mahal

- Tren sustainable living makin populer di tengah kenaikan harga plastik, dengan 97 persen responden sudah menerapkannya meski hanya 87 persen yang memahami konsepnya secara teori.
- Gaya hidup berkelanjutan kini dijalankan lintas generasi, terutama Gen Z yang paling aktif karena merasa bangga memberi dampak positif bagi lingkungan meski masih ada kendala ekonomi dan fasilitas.
- Kenaikan harga plastik mendorong masyarakat membawa tas belanja sendiri, memakai wadah pribadi, serta beralih ke alternatif non-plastik sebagai bentuk adaptasi sekaligus penghematan.
Di tengah situasi seperti sekarang, sustainable living atau gaya hidup berkelanjutan jadi salah satu tren yang kian banyak diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kebiasaan sederhana, mulai dari mengurangi sampah hingga menggunakan produk yang lebih ramah lingkungan, menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan bumi untuk jangka panjang.
Menariknya, tren ini juga beriringan dengan kenaikan harga plastik yang belakangan terjadi akibat meningkatnya biaya bahan bakar global. Survei Jakpat terhadap 1.373 responden menunjukkan, bahwa meski hanya 87 persen yang memahami konsep sustainable living secara teori, sebanyak 97 persen ternyata sudah menerapkannya dalam keseharian. Kondisi ini membuat gaya hidup berkelanjutan gak hanya dipandang sebagai langkah peduli lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu jurus hemat masyarakat saat plastik makin mahal.
1. Lebih dari tren: Realita praktik dan motivasi hidup berkelanjutan

Gaya hidup ramah lingkungan seperti mematikan lampu dan perangkat elektronik saat gak digunakan jadi salah satu kebiasaan sustainable living yang paling populer. Survei menunjukan, 68 persen masyarakat punya kesadaran untuk melakukan hal tersebut. Kemudian, kesadaran untuk meminimalisisr limbah dengan membawa botol minum, tempat makan, dan alat makan, serta tas belanja sendiri juga semakin meningkat, bahkan setengah dari jumlah responden telah mempraktikkannya.
Kemudian, hasil survei juga menunjukkan 1 dari 2 orang memilih untuk bersepeda atau berjalan kaki saat menempuh jarak dekat dan 44 persen aktif melakukan penghematan air bersih. Gak hanya itu, 65 persen responden juga mulai tergera untuk mengurangi sampah dan menjaga kelestarian bumi.
Lalu, alasan praktis seperti mengurangi penumpukan barang di rumah serta efisiensi pengeluaran bulanan turut menjadi pendorong utama dengan persentase masing-masing 53 persen. Motivasi emosional pun muncul, di mana 50 persen responden ingin mewariskan lingkungan sehat bagi generasi mendatang dan 46 persen merasa bangga dapat berkontribusi langsung pada kebersihan lingkungan.
2. Banyak masyarakat yang sudah menerapkan sustainable living sebagai kebiasaan

Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna, menjelaskan, kebiasaan sustainable living kini bukan hanya dilakukan oleh generasi atas atau bawah aja. Lebih jauh dari itu, kebiasaan hidup ramah lingkungan ini sudah mulai dilakukan oleh lintas generasi.
Namun jika dilihat lebih jauh, gen Z menjadi kelompok yang paling aktif menerapkan gaya hidup berkelanjutan. Mereka memiliki pemahaman yang lebih baik dan motivasi yang kuat, terutama karena merasa bangga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Hal ini menunjukkan, bahwa sustainable living kini gak hanya didorong oleh kesadaran lingkungan, tetapi juga oleh kepuasan dan nilai pribadi.
Meski begitu, penerapan gaya hidup berkelanjutan masih menghadapi sejumlah tantangan. Bagi responden yang belum atau gak tertarik menerapkannya, faktor ekonomi menjadi hambatan utama yang dirasakan oleh 38 persen responden. Sementara itu, sekitar 30 persen responden mengaku kesulitan karena kurangnya informasi tentang cara memulai serta belum memadainya fasilitas pendukung, seperti tempat sampah terpilah dan akses transportasi umum.
3. Respons masyarakat terhadap kenaikan harga plastik yang meroket

Tren gaya hidup berkelanjutan semakin menguat sejak harga plastik mengalami kenaikan pada April 2026. Kantong plastik sekali pakai yang sebelumnya dianggap sebagai kebutuhan sehari-hari kini menjadi pengeluaran tambahan bagi banyak konsumen. Survei Jakpat menunjukkan, 9 dari 10 pengguna plastik merasakan dampaknya, terutama karena harga kantong plastik yang semakin mahal. Kebijakan kantong plastik berbayar serta berkurangnya penyediaan kantong plastik di pusat perbelanjaan juga mendorong masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan mereka.
Sebagai respons, banyak orang mulai mencari cara untuk mengurangi penggunaan plastik. Membawa tas belanja sendiri menjadi pilihan paling populer, diikuti dengan membawa wadah makanan, botol minum, dan perlengkapan makan pribadi. Sebagian masyarakat juga mulai beralih ke alternatif non-plastik seperti kardus atau daun, sementara yang lain memilih menggunakan kembali plastik yang sudah dimiliki agar lebih hemat dan mengurangi limbah.
"Menariknya, tekanan seperti kenaikan harga justru mempercepat terbentuknya kebiasaan baru. Ketika penggunaan plastik tidak lagi semudah sebelumnya, konsumen mulai beradaptasi, dan dari situ perlahan terbentuk pola perilaku yang lebih berkelanjutan sebagai bagian dari keseharian," terang Hasna.
Kenaikan harga plastik gak hanya mendorong masyarakat untuk lebih berhemat, tetapi juga mempercepat adopsi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Jika kebiasaan ini terus dipertahankan, sustainable living berpotensi menjadi bagian dari keseharian masyarakat, bukan sekadar tren sesaat.


















