Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Kalimat yang Terdengar Merendahkan tapi Sering Gak Disadari
ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian (pexels.com/kampus)

Dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin pernah mengucapkan kalimat yang terdengar biasa saja. Namun, tanpa disadari, beberapa ucapan bisa membuat lawan bicara merasa diremehkan atau dianggap kurang mampu.

Sikap merendahkan gak selalu muncul lewat kata-kata kasar, tetapi juga bisa terasa dari pilihan kata, nada bicara, atau cara kita menyampaikan sesuatu. Bahkan, kalimat yang sebenarnya bermaksud membantu pun bisa terdengar menggurui bagi orang yang mendengarnya, jadi yuk, kenali beberapa contohnya!

1. “Oh, lucunya.”

ilustrasi kedua perempuan berbincang (pexels.com/augustderichelieu)

Ucapan “Oh, lucunya” bisa terdengar manis jika memang ditujukan untuk sesuatu yang menggemaskan. Namun, ketika digunakan untuk menanggapi pemikiran atau usaha seseorang, kalimat ini bisa terasa seperti meremehkan. Apalagi jika disampaikan dengan nada seolah-olah kita berada di posisi yang lebih tahu.

Elisabeth Crain, seorang psikoterapis, dikutip dari HuffPost, mengatakan bahwa ungkapan tersebut bisa membuat usaha seseorang terdengar sepele. Karena itu, daripada melabeli sesuatu sebagai “lucu”, lebih baik berikan apresiasi yang sesuai dengan usaha atau hal yang sedang diceritakan.

“‘Itu lucu’ bisa terdengar seperti meremehkan,” ujar Elisabeth Crain.

2. “Kamu tinggal perlu...”

ilustrasi dua perempuan berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

Memberikan saran dengan kalimat “Kamu tinggal perlu...” seolah menunjukkan bahwa solusi masalah seseorang sebenarnya sederhana. Padahal, kita gak selalu mengetahui seluruh situasi yang sedang dihadapinya. Kalimat ini juga bisa membuat lawan bicara merasa bahwa cara yang selama ini dilakukannya adalah salah.

Crain menyarankan agar nasihat disampaikan dengan bahasa yang lebih terbuka, misalnya “Menurutku, mungkin ini bisa membantu.” Perubahan kecil seperti itu membuat saran terdengar sebagai pilihan, bukan perintah yang seolah paling benar.

“Apa pun yang menyiratkan cara pasti dalam melakukan sesuatu bisa dianggap merendahkan karena memberikan tekanan pada pesan yang disampaikan,” ujar Elisabeth Crain.

3. “Kamu sudah berusaha sebaik mungkin.”

ilustrasi perempuan berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction)

Kalimat ini memang bisa menjadi bentuk dukungan, tetapi maknanya sangat bergantung pada situasi dan nada bicara. Dalam kondisi tertentu, ucapan tersebut justru bisa terdengar seperti kita sudah menetapkan ekspektasi yang rendah terhadap kemampuan seseorang. Terlebih jika dikatakan setelah seseorang gagal mencapai hasil yang diinginkan.

Phoebe Mertens, seorang penulis dan pembicara, dikutip dari HuffPost, menjelaskan bahwa kalimat ini dapat terdengar menggurui ketika nada bicara gak sesuai dengan maksudnya. Daripada langsung menganggap seseorang sudah melakukan yang terbaik, cobalah mengakui kesulitan yang sedang dihadapinya.

4. “Itu gak seberapa, kok.”

ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

Saat seseorang sedang kecewa atau kesal, kita mungkin ingin menenangkan dengan mengatakan bahwa masalahnya gak besar. Namun, ucapan tersebut bisa membuat perasaannya terasa gak valid karena kita seolah menentukan seberapa penting sebuah masalah bagi dirinya. Padahal, sesuatu yang terlihat sepele bagi kita belum tentu terasa sama bagi orang lain.

Psikolog Scott Rower, dikutip dari HuffPost, mengatakan bahwa perasaan seseorang tetap nyata meskipun menurut orang lain reaksinya terlihat berlebihan. Jadi, sebelum mencoba mengecilkan masalahnya, lebih baik dengarkan dan akui perasaan yang sedang dirasakan.

5. “Kamu gak akan mengerti.”

ilustrasi dua wanita berdisukusi (pexels.com/tirachardkumtanom)

Ucapan ini sering muncul ketika kita merasa pengalaman yang dialami terlalu sulit untuk dijelaskan kepada orang lain. Namun, kalimat tersebut bisa terdengar seperti menganggap lawan bicara gak cukup pintar untuk memahami situasi. Akibatnya, percakapan yang seharusnya menjadi ruang berbagi justru terasa seperti penolakan.

Crain menjelaskan bahwa ungkapan seperti “Kamu gak akan mengerti” dapat menyiratkan bahwa orang lain gak cukup mampu memahami pengalaman yang bukan miliknya. Jika memang sulit dijelaskan, kamu bisa mengatakan bahwa pengalaman tersebut sulit diceritakan tanpa langsung meragukan kemampuan orang lain.

“Ungkapan-ungkapan ini menyiratkan bahwa orang yang mendengarnya gak cukup pintar untuk memahami sesuatu atau memahami pengalaman yang bukan merupakan pengalaman mereka sendiri,” ujar Elisabeth Crain.

6. “Ya, sebenarnya...”

ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian (pexels.com/kampus)

Kalimat “Ya, sebenarnya...” gak selalu bermasalah, tetapi bisa terdengar merendahkan jika digunakan untuk mengoreksi sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui lawan bicara. Hal ini sering dikaitkan dengan mansplaining, yaitu ketika seseorang menjelaskan sesuatu secara berlebihan kepada orang yang sebenarnya sudah memahami atau bahkan ahli di bidang tersebut. Nada bicara yang terlalu menggurui dapat membuat informasi yang disampaikan justru sulit diterima.

Jadi, sebelum buru-buru mengoreksi, perhatikan dulu apakah orang tersebut memang membutuhkan penjelasan. Kalau dia sudah memahami topiknya, percakapan akan terasa lebih nyaman jika kita memberikan ruang untuk berdiskusi, bukan sekadar menunjukkan bahwa kita lebih tahu.

Kalimat yang terdengar merendahkan gak selalu lahir dari niat buruk, tetapi cara penyampaiannya bisa memengaruhi perasaan orang lain. Yuk, lebih peka memilih kata dan nada bicara agar percakapan tetap terasa nyaman bagi kedua pihak!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article