Renovasi eksterior rumah sangat dipengaruhi kondisi cuaca, pemilihan material, hingga kualitas finishing yang digunakan. Salah memilih waktu renovasi bisa membuat proses pekerjaan lebih lama, hasil pengecatan kurang optimal, bahkan biaya membengkak. Hal ini karena hujan yang datang tiba-tiba saat perbaikan atap bisa menyebabkan interior rumah rusak karena air hujan masuk. Selain itu, kelembaban tinggi saat mendung dan gerimis bisa membuat cat luntur sebelum mengering sehingga pekerjaan harus diulang.
Di Indonesia, waktu renovasi eksterior rumah umumnya paling ideal dilakukan saat musim kemarau. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya sama di seluruh daerah.
Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, dan sebagian Kalimantan umumnya mengalami cuaca paling kering pada Juli hingga Agustus. Sementara beberapa wilayah Indonesia timur dan daerah dengan pola hujan berbeda bisa mengalami pergeseran musim beberapa minggu hingga beberapa bulan. Karena itu, sebelum memulai renovasi eksterior, pemilik rumah sebaiknya memperhatikan pola cuaca di daerah masing-masing.
Selain pemilihan waktu, ada beberapa faktor penting lain yang juga perlu dipersiapkan sebelum menjalankan renovasi eksterior rumah.
