ilustrasi nonton bola (unsplash.com/David Bayliss)
Ada kegiatan yang sebenarnya kamu sukai, tetapi perlahan kehilangan daya tarik ketika tidak ada kemungkinan bertemu atau mendapatkan perhatian dari laki-laki. Misalnya, pergi ke kafe terasa lebih menarik ketika ada kemungkinan bertemu orang baru, memilih tempat liburan berdasarkan apakah banyak laki-laki menarik di sana, atau merasa malam minggu harus diisi dengan kencan supaya tidak terasa sia-sia. Keinginan untuk bertemu pasangan tentu bukan sesuatu yang salah, tetapi menjadi berbeda ketika hampir setiap aktivitas selalu dicari kaitannya dengan laki-laki.
Kebiasaan tersebut juga dapat terlihat dari cara membicarakan pengalaman sehari-hari. Kamu mungkin lebih bersemangat menceritakan bahwa ada laki-laki yang mengajak berkenalan daripada menceritakan makanan enak yang baru dicoba atau tempat menarik yang baru dikunjungi. Contohnya, setelah pergi nonton bola di stadion, hal yang paling diingat justru siapa yang mendekat atau melihatmu, sementara pengalaman menikmati pertandingannya sendiri hampir tidak dibicarakan. Ketika perhatian laki-laki mulai menjadi bagian yang selalu dicari agar sebuah pengalaman terasa berharga, ada baiknya melihat kembali apa yang sebenarnya membuatmu menikmati hidup.
Memiliki pasangan, menyukai laki-laki, ingin terlihat menarik, atau senang mendapatkan perhatian bukan berarti seseorang otomatis menjadi male centered woman. Hal yang lebih penting adalah melihat apakah penilaian laki-laki perlahan ikut menentukan selera, standar, dan cara kamu menikmati kehidupan sendiri sebagai seorang perempuan. Dari lima kebiasaan kecil yang menunjukkan male centered woman, mana yang pernah kamu lakukan tanpa disadari sebelumnya?