Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Membedakan Male Centered Woman dan Pick Me

Cara Membedakan Male Centered Woman dan Pick Me
ilustrasi pick me (unsplash.com/Vitaly Gariev)
  • Perilaku pick me berfokus pada usaha terlihat berbeda, lebih menarik, atau cocok agar dipilih laki-laki, sering kali dengan membandingkan diri dengan perempuan lain.
  • Kecenderungan male centered muncul saat selera, keputusan, kepercayaan diri, dan penilaian terhadap perempuan lain terlalu bergantung pada pandangan atau respons laki-laki.
  • Keduanya tidak selalu hitam-putih: satu kebiasaan, keinginan berkencan, atau senang dipuji laki-laki tidak otomatis menandakan seseorang termasuk salah satu kategori.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sekilas, male centered woman dan pick me memang kelihatan seperti hal yang sama karena keduanya sama-sama berkaitan dengan cara perempuan memandang laki-laki. Padahal, perbedaannya bisa terlihat dari alasan di balik suatu perilaku, terutama ketika seseorang mengambil keputusan, mencari pengakuan, atau menilai dirinya sendiri. Satu kebiasaan saja juga belum cukup untuk membuat seseorang masuk ke salah satu kategori tersebut.

Cara membedakan male centered woman dan pick me justru bisa dilihat dari kejadian sehari-hari. Ada perilaku yang muncul karena ingin mendapatkan perhatian dari laki-laki, sementara ada pula kebiasaan yang menunjukkan bahwa pandangan laki-laki sudah terlalu sering dijadikan patokan. Berikut beberapa situasi yang bisa membantu kamu melihat bedanya.

  1. 1. Mengaku berbeda dari perempuan lain

    ilustrasi pick me
    ilustrasi pick me (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Perilaku pick me biasanya lebih mudah terlihat ketika muncul usaha untuk menunjukkan diri sebagai perempuan yang “tidak seperti perempuan kebanyakan”. Contohnya, saat obrolan tentang makeup berlangsung, muncul komentar seperti “Aku gak ngerti kenapa cewek harus dandan lama-lama, aku mah simpel, cukup bedakan aja,” terutama ketika ada laki-laki yang sedang diajak bicara. Tidak ada masalah jika seseorang memang tidak suka berdandan, tetapi konteksnya menjadi berbeda ketika hal tersebut sengaja ditonjolkan agar terlihat lebih menarik dibandingkan dengan perempuan lain.

    Sementara itu, male centered woman tidak harus mengatakan dirinya berbeda atau lebih baik dari perempuan lain. Kebiasaan yang lebih terlihat justru ketika pilihannya mulai mengikuti gambaran tentang selera laki-laki, misalnya menghindari lipstik merah karena merasa laki-laki lebih menyukai makeup natural meskipun sebenarnya warna tersebut ia sukai. Jadi, pick me condong semacam usaha menunjukkan “aku berbeda supaya dipilih”, sedangkan male-centered woman lebih ke kebiasaan bertanya, “Apa yang biasanya disukai laki-laki?” sebelum menentukan pilihan sendiri.

  2. 2. Mengubah gaya supaya cocok dengan laki-laki tertentu

    ilustrasi di rumah
    ilustrasi di rumah (vecteezy.com/Mix and Match Studio)

    Menyesuaikan diri ketika sedang menyukai seseorang sebenarnya sangat wajar. Masalahnya, perubahan tersebut sampai membuat kebiasaan dan karakter pribadi ikut berganti demi menciptakan kesan yang dianggap lebih menarik. Misalnya, seorang laki-laki yang sedang didekati menyukai perempuan yang tidak terlalu sering nongkrong, lalu muncul klaim bahwa dirinya merupakan anak rumahan, padahal sebelumnya hampir setiap akhir pekan selalu pergi bersama teman.

    Situasi tersebut lebih dekat dengan perilaku pick me ketika perubahan dilakukan untuk mendapatkan perhatian atau membuat seseorang merasa cocok. Sementara itu, kecenderungan male centered bisa muncul tanpa adanya laki-laki tertentu yang sedang didekati. Contohnya, kesempatan bekerja di luar kota ditolak karena muncul anggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan yang terlalu sibuk akan lebih sulit mendapatkan pasangan. Tidak ada laki-laki yang meminta untuk ditinggalkan, tetapi kemungkinan mendapatkan pasangan sudah ikut menentukan keputusan karier.

  3. 3. Mencari perhatian laki-laki atau menjadikan perhatian sebagai value diri

    ilustrasi perhatian
    ilustrasi perhatian (pexels.com/Yan Krukau)

    Keinginan mendapatkan perhatian dari orang yang disukai belum tentu menunjukkan perilaku male centered. Pada perilaku pick me, perhatian biasanya memang menjadi sesuatu yang sedang diusahakan. Contohnya, unggahan media sosial dibuat dengan gaya tertentu karena berharap laki-laki yang sedang didekati memberikan respons, kemudian muncul rasa puas ketika komentar atau pesan yang ditunggu akhirnya datang.

    Perbedaannya terlihat ketika perhatian laki-laki mulai menentukan penilaian terhadap diri sendiri. Misalnya, penampilan si cewek ini sebenarnya sudah terasa bagus ketika berangkat ke pesta, tetapi rasa percaya diri langsung turun karena sepanjang acara tidak ada laki-laki yang mendekat. Setelah pulang, muncul kesimpulan bahwa pakaian, rambut, atau makeup pasti kurang menarik. Dalam situasi seperti ini, tidak ada laki-laki tertentu yang sedang dikejar, tetapi respons laki-laki sudah menjadi ukuran untuk menentukan apakah penampilan diri dianggap berhasil atau tidak.

  4. 4. Menjadikan perempuan lain sebagai saingan atau menjadikan laki-laki sebagai sudut pandang

    ilustrasi bersaing
    ilustrasi bersaing (pexels.com/ArtHouse Studio)

    Pada perilaku pick me, perempuan lain sering dijadikan pembanding agar diri sendiri terlihat lebih menarik di mata laki-laki. Misalnya, ketika seorang laki-laki bercerita bahwa mantannya sering meminta dibelikan barang, langsung muncul komentar, “Kalau aku mah gak bakal minta macam-macam dari cowok, paling anti ngemis-ngemis.” Pernyataan tersebut bukan sekadar menceritakan kebiasaannya, tetapi sekaligus menempatkan dirinya sebagai pilihan yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan perempuan sebelumnya.

    Sementara itu, perempuan dengan kecenderungan male-centered tidak harus merendahkan perempuan lain. Misalnya, ketika seorang teman mendapatkan promosi jabatan, pembicaraan justru beralih pada apakah pacarnya merasa minder dengan keberhasilan tersebut. Bahkan ketika sedang membahas keputusan perempuan lain untuk tidak menikah, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana peluangnya untuk mendapatkan pasangan nanti. Laki-laki akhirnya menjadi sudut pandang yang otomatis digunakan untuk menilai kehidupan perempuan, meskipun topik awalnya sama sekali tidak berkaitan dengan hubungan.

  5. 5. Hanya ingin dipilih atau merasa hidup kurang lengkap tanpa pasangan

    ilustrasi pick me
    ilustrasi pick me (unsplash.com/Matheus Câmara da Silva)

    Pick me lebih berkaitan dengan situasi ketika seseorang ingin mendapatkan pengakuan atau dipilih oleh laki-laki. Karena itu, perilakunya dapat muncul sangat kuat ketika ada orang yang sedang ingin didekati, tetapi belum tentu memengaruhi seluruh kehidupannya. Setelah urusan pendekatan selesai, perhatian bisa kembali beralih ke pekerjaan, pertemanan, hobi, keluarga, atau hal lain yang memang penting.

    Kecenderungan male-centered terlihat lebih luas karena keberadaan laki-laki ikut menentukan bagaimana kehidupan dinilai secara keseluruhan. Misalnya, pekerjaan yang sebenarnya disukai mulai dianggap tidak menarik karena tidak memberi kesempatan bertemu pasangan, akhir pekan terasa sia-sia ketika tidak ada laki-laki untuk diajak bertemu, atau usia 28 tahun mulai dianggap sebagai tanda tertinggal hanya karena belum menikah. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan lagi tentang ingin mendapatkan satu laki-laki, tetapi tentang menjadikan hubungan dengan laki-laki sebagai salah satu ukuran utama keberhasilan hidup.

    Perbedaan keduanya memang tidak selalu hitam putih karena seseorang bisa saja pernah bersikap pick me dalam situasi tertentu tanpa menjadikan laki-laki sebagai pusat kehidupannya. Begitu pula, seseorang yang senang berkencan, ingin punya pasangan, atau merasa senang ketika dipuji laki-laki tidak otomatis termasuk male centered woman. Kalau melihat cara membedakan male centered woman dan pick me tadi, menurutmu perilaku apa yang paling sering keliru dianggap sebagai pick me?

    Referensi

    "Between Feminism and Misogyny: The “Pick Me Girl” Discourse and Gender Policing Among Women on TikTok" Feminist Inquiry in Social Work. Diakses pada Agustus 2026

    "Unpacking the “Pick Me Girl” and Why Giving Someone That Label is Complicated" Verywell Mind. Diakses pada Agustus 2026

    "What is Male-Centered Women in the Workplace and How Does This Affect the Rights of All Women?" Stop Workplace Bullies. Diakses pada Agustus 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More