Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Banyak Gen Z Mulai Suka Merawat Tanaman?

Kenapa Banyak Gen Z Mulai Suka Merawat Tanaman?
Ilustrasi merawat tanaman (unsplash.com/Photo by Nasim Keshmiri)
Share Article

Belakangan ini merawat tanaman bukan lagi sekadar hobi ibu-ibu atau orang yang sudah pensiun. Banyak anak muda, terutama Gen Z, mulai memenuhi kamar kos, meja kerja, sampai sudut rumah mereka dengan berbagai tanaman hias. Mulai dari monstera, sirih gading, sampai kaktus kecil, semuanya jadi bagian dari gaya hidup yang terasa lebih tenang dan estetik.

Fenomena ini ternyata bukan cuma soal ikut tren media sosial. Di balik kebiasaan menyiram tanaman setiap pagi atau melihat daun baru tumbuh, ada kebutuhan emosional yang sedang dicari banyak anak muda.

1. Tanaman jadi bentuk healing yang sederhana

ilustrasi merawat tanaman (freepik.com/freepik)
ilustrasi merawat tanaman (freepik.com/freepik)

Banyak Gen Z mulai melihat merawat tanaman sebagai aktivitas healing yang murah dan mudah dilakukan di rumah. Tidak perlu liburan mahal atau pergi jauh, cukup duduk sambil menyiram tanaman atau membersihkan daun saja sudah bisa memberi rasa tenang. Aktivitas kecil seperti ini membuat pikiran terasa lebih pelan setelah seharian menghadapi tugas, pekerjaan, dan media sosial.

“Dikelilingi oleh tanaman hijau dan terlibat dalam berkebun selaras dengan hubungan evolusioner kita dengan lingkungan alami, menumbuhkan rasa kesejahteraan," kata psikolog klinis Dr. Gurpreet Kaur dikutip dari Psychreg.

"Paparan terhadap tanaman hijau, tanah, dan tumbuhan dapat memicu respons emosional positif dan berkontribusi pada rasa ketenangan. Ini juga dapat membantu kesadaran diri, karena berkebun membutuhkan fokus pada saat ini sambil menggabungkan unsur-unsur alami ke dalam lingkungan manusia," tambahnya.

2. Gen Z mulai lelah dengan dunia digital

ilustrasi perempuan  sedang merawat tanaman (freepik.com/freepik)
ilustrasi perempuan sedang merawat tanaman (freepik.com/freepik)

Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Hampir semua aktivitas mereka terhubung dengan layar, mulai dari belajar, bekerja, hiburan, sampai komunikasi. Karena itulah, gak sedikit Gen Z mulai mengalami digital fatigue atau kelelahan digital akibat terlalu lama terpapar dunia online.

Menurut Survei Tahunan Generasi Z dan Milenial Deloitte Global dalam laman Forbes, telah mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong stres dan kecemasan yang berkelanjutan. Hasilnya 58 persen Gen Z mengalami kelelahan digital, dan milennial 54 persen.

"Meskipun banyak responden bersikap positif tentang bagaimana AI akan mendukung pertumbuhan dan karier mereka dari waktu ke waktu, 58 persen dari Generasi Z dan 54 persen dari milenial mengatakan bahwa mereka secara teratur mengalami kelelahan digital, yang disebabkan oleh peringatan terus-menerus dan kebutuhan untuk beralih antara berbagai alat dan platform," demikian tulis laporan tersebut.

3. Tren slow living membuat tanaman semakin populer

ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/cottonbro studio)

Konsep slow living juga ikut membuat tanaman semakin digemari Gen Z. Gaya hidup ini mengajak seseorang untuk menjalani hidup dengan lebih sadar, tidak terburu-buru, dan lebih menikmati proses sehari-hari. Merawat tanaman dianggap cocok dengan pola hidup seperti itu karena membutuhkan kesabaran dan perhatian kecil setiap hari.

"Slow living memungkinkan kamu mendengarkan dengan saksama, memberi ruang untuk respons yang bijaksana daripada reaksi defensif. Berhenti sejenak membantu mengatur emosi, menghasilkan interaksi yang lebih tenang, dan mencegah stres yang dapat memperburuk konflik," jelas Carolyn Sharp, LICSW, psikoterapis, dikutip dari Psychology Today.

Tanaman akhirnya menjadi simbol hidup yang lebih pelan dan lebih mindful. Banyak anak muda mulai menikmati rutinitas sederhana seperti memindahkan pot, menyemprot daun, atau melihat tunas baru tumbuh. Hal-hal kecil itu memberi rasa puas yang sering kali tidak didapat dari dunia digital yang serba cepat.

 

4. Tanaman memberi rasa punya kendali

Ilustrasi merawat tanaman (unsplash.com/Photo by Nasim Keshmiri)
Ilustrasi merawat tanaman (unsplash.com/Photo by Nasim Keshmiri)

Di tengah hidup yang penuh ketidakpastian, tanaman memberi rasa bahwa ada sesuatu yang bisa dirawat dan dikembangkan perlahan. Banyak Gen Z merasa hidup mereka penuh tekanan, mulai dari masalah karier, ekonomi, sampai tuntutan sosial. Ketika banyak hal terasa tidak pasti, melihat tanaman tumbuh bisa memberi rasa nyaman tersendiri.

Merawat tanaman atau berkebun membuat seseorang belajar bahwa pertumbuhan memang butuh waktu. Tidak semua daun langsung tumbuh dalam sehari, dan tidak semua tanaman selalu sehat. Dari situ, banyak orang merasa lebih sabar terhadap diri sendiri karena mereka belajar bahwa hidup juga berjalan pelan seperti tanaman.

“Berkebun bisa membantu mengurangi stres karena ekoterapi, interaksi dengan alam, telah dikaitkan dengan pengaturan kortisol, hormon stres. Menghabiskan waktu di kebun bisa membantu menurunkan kadar kortisol, meningkatkan rasa tenang dan mengurangi stres," kata Dr. Gurpreet.

"Sensasi taktil saat memegang tanah dan tanaman dapat menenangkan dan memberikan pengalaman yang kaya akan indra yang berkontribusi pada relaksasi,” tambahnya.

5. Estetika dan media sosial juga punya pengaruh

Ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/Rizky Sabriansyah)
Ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/Rizky Sabriansyah)

Tidak bisa dimungkiri, media sosial juga ikut membuat tanaman makin populer di kalangan Gen Z. Foto kamar dengan tanaman hijau terlihat lebih estetik, lebih nyaman, dan memberi kesan hidup yang tenang. Banyak konten TikTok atau Pinterest yang menampilkan sudut rumah dengan tanaman sebagai simbol self-care dan ketenangan hidup.

Namun di sisi lain, tekanan media sosial juga membuat banyak anak muda merasa lelah secara mental. Dr. Manju Rani, PhD psikolog dan assistant professor, menyebut fenomena ini sebagai aesthetic fatigue.

"Ini merupakan keadaan yang meluas dan melelahkan secara emosional yang mencerminkan dampak diam-diam dari menjalani hidup dengan penuh kepuasan. Kelelahan estetika muncul dari kebutuhan yang konstan, seringkali kompulsif, untuk menampilkan diri secara visual menarik, dapat diterima secara sosial, dan memberikan imbalan secara algoritmik di platform seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest," jelasnya dalam Psychologist Manju Antil.

Karena itu, tanaman menjadi semacam penyeimbang. Walaupun awalnya dibeli karena estetik, banyak orang akhirnya benar-benar menikmati proses merawatnya. Tanaman membantu menciptakan suasana yang lebih hangat dan lebih “manusiawi” di tengah hidup digital yang kadang terasa terlalu ramai dan melelahkan.

Di tengah dunia digital yang terus bergerak tanpa henti, banyak anak muda mulai sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, melihat daun baru tumbuh atau menyiram tanaman di pagi hari saja sudah cukup membuat hari terasa lebih ringan.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Inspirasi Makeup Yoona di Cannes 2026, Fresh Pink Look!

27 Mei 2026, 12:11 WIBLife