Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Berita Penyakit Hanatavirus Bikin Overthinking? Trauma Pandemik!

Kenapa Berita Penyakit Hanatavirus Bikin Overthinking? Trauma Pandemik!
ilustrasi virus dan penyakit (pixabay.com/Tumisu)
Intinya Sih
  • Kasus hantavirus di kapal MV Hondius memicu kekhawatiran publik karena mengingatkan pada trauma pandemi COVID-19, meski penularannya berbeda dan belum terbukti menjadi wabah besar.
  • Paparan informasi berlebihan di media sosial meningkatkan kecemasan masyarakat, terutama setelah pengalaman pandemi yang menurunkan toleransi terhadap ketidakpastian dan memperkuat rasa waswas terhadap isu kesehatan.
  • Kebiasaan self-diagnose akibat konten tidak akurat di media sosial dapat menyesatkan, sehingga penting mencari informasi dari sumber resmi dan pendampingan profesional untuk menjaga kesehatan mental maupun fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kasus hantavirus dalam kapal ekspedisi MV Hondius menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran masyarakat, akankah menjadi pandemi selanjutnya? Hal ini mungkin terkait pengalaman masyarakat global dengan pandemik COVID-19 yang memiliki penularan cepat dan merebah menjadi wabah global.

Dilansir IDN Times, hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami hidup dalam hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Manusia akan terinfeksi oleh partikel kecil dari kotoran atau urin hewan pengerat yang mengering kemudian terbang di udara dan terhirup. Kemungkinan dapat terjadi jika seseorang membersihkan gudang, loteng, atau area tertutup lain.

Banyaknya informasi terkait hantavirus dan penyebarannya mungkin saja memicu kekhawatiran. Berikut adalah beberapa tips agar tidak merasa overwhelming dengan informasi tentang hantavirus yang beredar.

1. Too much information bikin anxiety

ilustrasi virus terdeteksi
ilustrasi virus terdeteksi (freepik.com/rawpixel.com)

Banjir informasi yang bisa didapatkan dari teknologi hingga media sosial ternyata memengaruhi kecemasan manusia. Dilansir Psychology Today, sebuah penelitian mencatat terjadinya peningkatan yang signifikan dalam gangguan kecemasan selaras dengan perkembangan teknologi informasi. Salah satu alasannya adalah muncul berita yang mengganggu ketenangan tanpa diharapkan oleh pengguna, utamanya terjadi di media sosial.

Psikolog Bonnie Zucker, Ph.D., menyebut teknologi meningkatkan kecemasan karena mengikis kemampuan manusia untuk menolerir ketidakpastian. Artinya, manusia menjadi lebih mudah cemas karena meningkatnya intensitas paparan informasi akan suatu kejadian yang belum pasti terjadi. Manusia terbiasa mendapatkan informasi yang cepat dan instan, sehingga ketika suatu kondisi perlu waktu untuk dikaji, mereka menjadi lebih mudah resah. Sebab, batas toleransi untuk bersabar dalam menghadapi ketidakpastian semakin rendah.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Sebagai anxiety disorders expertise, Bonnie menyarankan agar masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap teknologi. Misalnya, ketika hantavirus menjadi topik pembicaraan yang ramai di jejaring media sosial, cobalah untuk tidak terus menggalinya dan menanyakan pada AI. Betul bahwa berkonsultasi pada fitur kecerdasan buatan akan membuat individu memahami sesuatu dan mengatasi ketidakpastian secara instan, namun segera setelah lepas dari AI, kecemasan yang lebih besar akan kembali.

Solusinya, dapatkan informasi secukupnya dan tunggu perkembangan melalui laman berita terpercaya. Tidak perlu berspekulasi atau mengkhawatirkan sesuatu terlalu dalam, informasi penting untuk dimiliki sebagai bentuk kewaspadaan.

2. Efek pandemik COVID-19 bikin generasi sekarang lebih sensitif terhadap isu kesehatan

Ilustrasi virus dan bakteri.
ilustrasi virus dan bakteri (IDN Times/Novaya Siantita)

Sensitivitas emosi masyarakat tampaknya meningkat jika mendengar isu terkait penyebaran virus, pasca terjadinya wabah COVID-19. Pandemik menjadi trauma kolektif yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan kehidupan berbagai lapisan masyarakat.

Pandangan tersebut ditegaskan oleh Khalid Afzal, MD, psikiater anak di University of Chicago Medicine dalam laman resmi UChicago Medicine, "COVID-19 memengaruhi seluruh generasi individu di setiap tingkatan".

Menurut Afzal, gangguan sosial besar akibat pandemi memicu tekanan mental yang memengaruhi perilaku. Selain itu, Infeksi COVID 19 dapat memengaruhi otak, emosi, dan perilaku manusia. Pengamatan oleh peneliti menemukan, bahkan orang yang tidak terinfeksi COVID-19 juga dapat mengalami brain fog sehingga meningkatnya rasa mudah tersinggung. Artinya, pandemik COVID-19 yang telah dinyatakan usai selama beberapa tahun belakangan pun tetap membawa dampak bagi kehidupan masyarakat masa kini.

Sehingga, dampak yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 terbukti berkontribusi terhadap kesehatan mental individu. Trauma dan pergolakan yang dialami oleh masyarakat, di mana sebuah wabah telah merenggut kehidupan orang terdekat mereka, juga dapat menimbulkan kekhawatiran yang besar.

3. Kebiasaan self diagnose dan konten yang tidak akurat

Ilustrasi virus influenza yang menyerang kala musim dingin
Ilustrasi virus influenza yang menyerang kala musim dingin (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Munculnya platform media sosial memungkinkan individu untuk mengamati tren kesehatan mental secara mandiri. Informasi terus meningkat, pengetahuan mudah didapatkan. Akan tetapi, banjir informasi yang terjadi juga menimbulkan akibat lain. Dampak jangka panjang dari kemudahan informasi adalah melakukan diagnosis mandiri atau self diganose.

Pengguna media sosial dapat mengamati gejala yang terjadi pada diri mereka untuk kemudian dibandingkan dengan identifikasi gejala di media sosial. Hal ini dapat berbahaya karena adanya potensi risiko diagnosis diri.

Jurnal berjudul "TikTok-inspired self-diagnosis and its implications for educational psychology practice" mencatat potensi faktor paparan media sosial mendorong orang untuk melakukan diganosis mandiri. Terlebih dengan paparan konten yang terus menerus menampilkan berita serupa, membuat informasi yang diterima menjadi kurang akurat dan sulit untuk memahami kondisi diri. Oleh karenanya, penting untuk mendapatkan pendampingan profesional untuk mengidentifikasi penyakit fisik maupun kesehatan mental.

Penyebaran hantavirus memang menimbulkan keresahan. Namun, diharapkan masyarakat tidak panik dan menunggu informasi atau laporan lebih lanjut dari lembaga resmi pemerintah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Related Articles

See More