Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Candaan yang Lucu di Tongkrongan Belum Tentu Lucu di Internet?

5 min read
Kenapa Candaan yang Lucu di Tongkrongan Belum Tentu Lucu di Internet?
ilustrasi bercanda (pexels.com/ELEVATE)

Pernah ada momen ketika satu orang di tongkrongan nyeletuk sesuatu, lalu semua langsung pecah ketawa? Tidak perlu penjelasan panjang. Teman-teman di meja itu sudah tahu konteksnya, tahu siapa yang sedang dibicarakan, tahu sejarah candaan tersebut, bahkan tahu bahwa orang yang menjadi bahan lelucon sebenarnya tidak tersinggung. Lima menit kemudian, seseorang mengunggah candaan yang sama ke media sosial. Tiba-tiba responsnya berbeda: ada yang tertawa, ada yang bingung, bahkan ada yang mengatakan, “Ini sebenarnya lucunya di mana?”

Perbedaan itu bukan selalu karena orang internet terlalu sensitif atau teman tongkrongan terlalu santai. Ada sesuatu yang berubah ketika sebuah candaan berpindah tempat, terutama di internet. Lalu mengapa bisa demikian?

  1. 1. Di tongkrongan, semua orang sudah punya konteks

    ilustrasi bercanda dengan teman-teman (freepik.com/odua)
    ilustrasi bercanda dengan teman-teman (freepik.com/odua)

    Bayangkan kamu sedang duduk bersama lima teman dekat. Salah satu teman baru saja mengalami kejadian memalukan minggu lalu. Semua orang di meja tahu ceritanya. Ketika ada yang berkata, “Wah, hati-hati jangan kejadian lagi,” semua tertawa karena mereka memahami sejarah di balik kalimat tersebut.

    Kalimat yang sama akan terasa sangat berbeda jika dipotong dari percakapan lalu diunggah ke internet. Orang yang membacanya tidak tahu apa yang terjadi minggu lalu. Mereka tidak tahu siapa yang menjadi sasaran candaan, bagaimana hubungan antarorang tersebut, atau apakah orang yang dijadikan bahan lelucon sebenarnya ikut tertawa. Mereka hanya mendapatkan satu potongan informasi.

    Inilah alasan sebuah candaan bisa terasa aman di meja makan tetapi berisiko ketika masuk ke timeline. Teman tongkrongan mungkin memahami kalimat tersebut sebagai lelucon karena mereka memiliki cerita yang sama. Sementara orang lain hanya melihat kalimat tanpa latar belakang. Bukan candanya yang berubah, tetapi konteks yang mengelilinginya.

  2. 2. Di internet, kamu tidak pernah benar-benar tahu siapa yang membaca

    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)
    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

    Di tongkrongan, kamu bisa melihat siapa saja yang sedang berada di sana. Kalau ada lima orang, ya lima orang itulah audiensnya. Kamu juga mungkin sudah mengenal karakter mereka: siapa yang gampang tersinggung, siapa yang suka bercanda kasar, dan siapa yang lebih nyaman dengan humor absurd.

    Internet berbeda. Satu unggahan bisa dilihat teman sekolah, teman kantor, keluarga, mantan, dosen, calon rekruter, bahkan orang yang sama sekali tidak mengenalmu. Penelitian yang dilakukan Microsoft Research menunjukkan bahwa pengguna media sosial menghadapi “imagined audiences” karena mereka harus membayangkan siapa yang sebenarnya sedang membaca konten mereka.

    "Teknologi media sosial meleburkan beragam kelompok audiens ke dalam satu konteks tunggal, sehingga menyulitkan orang untuk menerapkan teknik yang sama-seperti yang biasa mereka gunakan untuk mengelola keragaman audiens dalam percakapan tatap muka-saat berinteraksi secara daring. Makalah ini mengkaji bagaimana para pembuat konten menyikapi ‘audiens imajiner’ di Twitter," demikian laporan Microsoft Research.

    Masalahnya, kita sering membayangkan audiens berdasarkan orang-orang yang kita kenal. Kita berpikir, “Teman-temanku pasti tahu ini cuma bercanda.” Padahal unggahan tersebut bisa keluar dari lingkaran awal dan dibaca oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan yang sama.

  3. 3. Ekspresi wajah yang hilang bisa mengubah arti candaan

    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Jack Sparrow)
    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Jack Sparrow)

    Ada satu hal yang sering dilupakan ketika bercanda langsung: tubuh ikut berbicara. Temanmu mungkin mengatakan sesuatu yang terdengar kasar, tetapi langsung tersenyum, tertawa, atau memasang ekspresi yang membuat semua orang tahu bahwa ia sedang bercanda.

    Di internet, terutama dalam unggahan berupa teks, sebagian besar tanda tersebut hilang. Kalimat “Gila, jahat banget sih kamu” bisa menjadi candaan antara dua sahabat. Namun, tanpa ekspresi wajah atau nada suara, orang lain bisa membacanya sebagai serangan sungguhan.

    Emoji, tanda baca, atau kata tambahan memang dapat membantu, tetapi tidak selalu mampu menggantikan seluruh konteks percakapan langsung. Itulah mengapa, candaan berbasis ekspresi atau intonasi memiliki risiko lebih besar ketika dipindahkan menjadi sebuah teks.

    "Runtuhnya konteks (context collapse) berarti bahwa audiens dengan ideologi media, pengetahuan latar belakang, asumsi, dan harapan yang berbeda mendapati diri mereka berada dalam konteks media yang sama, membaca unggahan yang sama, serta saling berinteraksi. Ketika konteks runtuh, sebuah unggahan bisa memicu skandal. Orang yang mengunggah atau muncul dalam unggahan tersebut kehilangan kendali atas bagaimana konten itu ditafsirkan dan disebarluaskan," dikutip dalam studi People, posts, and platforms: reducing the spread of online toxicity by contextualizing content and setting norms dalam PubMed Central (PMC).

  4. 4. Ketika candaan keluar dari circle, orang tidak punya 'kode rahasia' yang sama

    ilustrasi bercanda (pexels.com/ELEVATE)
    ilustrasi bercanda (pexels.com/ELEVATE)

    Di setiap tongkrongan biasanya ada kode-kode yang hanya dimengerti anggota kelompok. Ada panggilan tertentu, cerita lama, meme internal, sampai candaan yang jika dijelaskan kepada orang lain justru tidak lucu. Semakin lama berteman, semakin banyak pula “bahasa internal” yang terbentuk.

    Masalah muncul ketika bahasa internal tersebut dibawa keluar tanpa penjelasan. Orang luar bisa menganggapnya aneh, kasar, atau bahkan menyerang seseorang. Bayangkan saja sebuah candaan yang dibuat untuk enam orang.

    Ketika candaan itu berada di antara enam orang tersebut, candaan itu punya sejarah. Tetapi ketika dilempar ke 6.000 orang, sejarah tersebut tidak ikut terbawa. Yang ikut hanyalah kata-katanya. Akibatnya, orang lain akan menggunakan pengalaman dan nilai mereka sendiri untuk menilai apakah candaan tersebut pantas atau tidak.

  5. 5. Sebelum posting, coba tanyakan: Kalau konteksnya hilang, masih lucu gak ya?

    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Ada kebiasaan yang sebenarnya sederhana tetapi sering dilupakan: membaca ulang unggahan sebelum menekan tombol posting. Bukan hanya untuk memeriksa typo, tetapi juga untuk membayangkan bagaimana tulisan itu terlihat bagi seseorang yang tidak mengenal kita.

    Bayangkan orang asing membaca unggahan tersebut tanpa tahu siapa kamu. Apakah ia masih bisa memahami bahwa itu candaan? Apakah orang yang menjadi bahan lelucon akan merasa aman jika unggahan tersebut tersebar? Apakah ada bagian yang terlihat seperti penghinaan ketika intonasi dan ekspresi wajah tidak tersedia?

    Artinya, kemampuan bercanda di internet membutuhkan sedikit tambahan kesadaran. Bukan berarti semua humor harus dibuat aman sampai kehilangan kelucuan. Justru sebaliknya, semakin kita memahami audiens, konteks, dan kemungkinan interpretasi, semakin mudah menentukan mana candaan yang cocok untuk publik dan mana yang lebih baik disimpan untuk circle sendiri.

    Candaan yang lucu di tongkrongan memang belum tentu lucu di internet, bukan karena internet kehilangan selera humor. Masalahnya, sebuah candaan biasanya lahir bersama konteks: siapa yang mengucapkan, kepada siapa, hubungan mereka seperti apa, apa yang terjadi sebelumnya, dan bagaimana intonasinya. Ketika candaan tersebut masuk internet, sebagian besar konteks itu tetap ada di meja tongkrongan.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More