Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Class Blindness Bikin Nasihat Self Help Terasa Gak Relate?

4 min read
Kenapa Class Blindness Bikin Nasihat Self Help Terasa Gak Relate?
ilustrasi kebingungan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Konten self-help dikritik karena kerap menganggap semua orang punya titik awal, waktu, uang, perangkat, dan akses kesempatan yang setara.
  • Motivasi seperti "kalau mau pasti bisa" dapat memojokkan karena mengabaikan hambatan di luar kendali individu, termasuk beban kerja, keluarga, dan kondisi ekonomi.
  • Self-help tetap bermanfaat bila memberi pilihan sesuai kondisi audiens serta mengakui bahwa perubahan pribadi berjalan bersama faktor struktural.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Konten self-help memang banyak di media sosial. Mulai dari tips mengatur keuangan, membangun kebiasaan positif, mengatasi burnout, sampai cara menjadi lebih produktif. Banyak konten tersebut memang menawarkan sudut pandang yang menarik dan terasa relevan. Namun, tak sedikit pula membencinya karena dianggap terlalu menyederhanakan masalah kehidupan.

Persoalan yang sering muncul adalah class blindness atau ketidakpekaan terhadap perbedaan kondisi kelas sosial. Masalahnya bukan selalu karena saran dalam konten self-help sepenuhnya salah. Persoalannya, nasihat tersebut kadang disampaikan seolah-olah semua orang mempunyai titik awal, sumber daya, dan kesempatan yang sama. Itulah kenapa class blindness membuat edukasi self-help yang banyak mendapat kritik.

  1. 1. Saran self-help sering mengabaikan titik awal yang berbeda

    Tangga
    ilustrasi menaiki anak tangga (unsplash.com/lindsayhenwood)

    Salah satu alasan konten self-help mendapat hujatan adalah karena nasihat yang diberikan sering menganggap semua orang memulai dari kondisi yang sama. Misalnya, ada konten yang mengatakan bahwa siapa pun bisa mencapai kebebasan finansial jika mampu mengatur pengeluaran. Secara umum, mengelola keuangan memang penting.

    Namun, kemampuan untuk menghemat tentu berbeda setiap orang. Hal serupa juga terjadi pada edukasi karier. Nasihat untuk mengikuti kursus tambahan, membeli laptop yang lebih bagus, membangun personal branding, atau mengikuti networking event memang masuk akal. Namun, tak semua orang mempunyai uang, waktu, perangkat, atau lingkungan sosial yang mendukung langkah tersebut.

  2. 2. Kalimat "kalau mau pasti bisa" terasa sangat memojokkan

    Pria sukses
    ilustrasi pria sukses (unsplash.com/brucemars)

    Motivasi merupakan bagian penting dari banyak konten self-help. Masalahnya muncul ketika motivasi berubah menjadi seolah-olah hasil hidup seseorang sepenuhnya ditentukan oleh kemauan diri. Kalimat seperti "kamu cuma kurang disiplin", "semua orang punya waktu 24 jam yang sama", atau "kalau benar-benar mau, pasti ada jalan", semuanya terdengar benar.

    Namun, kalimat tersebut juga dapat mengabaikan berbagai hambatan yang berada di luar kendali seseorang. Seseorang yang bekerja delapan jam sehari tentu memiliki kondisi berbeda dengan orang yang harus bekerja sekaligus mengurus keluarga. Bukan berarti usaha gak penting. Namun, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan juga dipengaruhi oleh sumber daya dan situasi tempat ia berada.

  3. 3. "Tips hemat" tidak selalu cocok untuk semua kelas sosial

    Menabung
    ilustrasi menabung (unsplash.com/towfiqu999999)

    Konten finansial menjadi salah satu contoh yang mudah memperlihatkan persoalan class blindness. Kamu mungkin pernah menemukan tips seperti berhenti membeli kopi, kurangi nongkrong, bawa bekal, atau hapus langganan layanan hiburan agar bisa menabung. Tidak ada yang salah dengan langkah tersebut jika memang sesuai dengan kondisi seseorang.

    Namun, penghematan memiliki batas. Kalau seseorang sudah memangkas berbagai pengeluaran yang gak penting tapi masih kesulitan ekonomi, menyuruhnya mengurangi "pengeluaran kecil" tentu gak menyelesaikan masalah. Tanpa konteks edukasi finansial yang realistis, tips finansial cuma terasa seperti mengatakan bahwa seseorang miskin atau mengalami kesulitan ekonomi karena tidak cukup pandai mengatur uang.

  4. 4. Self-help yang terlalu individualistis bisa menutupi masalah struktural

    Kesulitan
    ilustrasi merasa kesulitan (pexels.com/Inzmam Khan)

    Tidak semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan perubahan kebiasaan pribadi. Misalnya, seseorang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Konten self-help mungkin menyarankan memperbaiki CV, memperluas networking, mengikuti kursus,dan sebaginya. Langkah-langkah tersebut bisa membantu, tapi tetap gak menghilangkan faktor lain seperti jumlah lapangan kerja, lokasi, pengalaman kerja, atau persaingan tinggi.

    Class blindness muncul ketika faktor-faktor tersebut sama sekali tak dibicarakan dan semua persoalan dikembalikan kepada individu. Padahal, perubahan pribadi dan perubahan lingkungan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersamaan. Kamu tetap bisa memperbaiki kebiasaan sambil menyadari bahwa tak semua hambatan dapat diselesaikan hanya dengan usaha pribadi.

  5. 5. Edukasi self-help tetap bisa bermanfaat jika disampaikan dengan konteks

    Seminar
    ilustrasi pelaksanaan seminar (unsplash.com/apellaes)

    Kritik terhadap class blindness bukan berarti semua konten self-help harus ditinggalkan. Justru, edukasi self-help bisa menjadi lebih berguna ketika pembuat konten menyadari bahwa audiensnya memiliki kondisi yang beragam. Daripada mengatakan "kamu harus melakukan ini", sebuah konten bisa menjelaskan beberapa pilihan berdasarkan situasi.

    Orang yang memiliki penghasilan lebih dapat mencoba strategi investasi tertentu. Sementara orang dengan penghasilan terbatas mungkin perlu memprioritaskan dana darurat atau kebutuhan dasar terlebih dahulu. Pendekatan seperti ini tidak membuat self-help menjadi kurang memotivasi. Justru, nasihat terasa lebih realistis karena mengakui bahwa setiap orang mempunyai keterbatasan sekaligus sumber daya yang berbeda.

    Class blindness dalam konten self-help menjadi persoalan ketika pengalaman hidup disederhanakan menjadi satu ajaran untuk semua orang. Itulah mengapa beberapa edukasi self-help mendapat kritik keras dari netizen. Berkembang tetap penting, tetapi memahami keterbatasan dan konteks kehidupan juga tidak kalah penting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More