"Menurut saya, standar yang tinggi—bahkan yang berlebihan—itu sendiri berdampak negatif karena dua alasan. Pertama, meskipun kita berhasil memenuhi standar yang tinggi dan berlebihan tersebut, seorang perfeksionis tidak akan pernah bisa menikmatinya karena selalu ada tuntutan untuk mencapai sesuatu yang lebih lagi. Akibatnya, kita tidak bisa mengapresiasi keberhasilan yang telah kita raih," jelas psikolog dan peneliti, Thomas Curran, PhD, dalam American Psychological Association.
Pelan-pelan Saja, Kenapa Hidup Gak Harus Selalu Mengejar Pencapaian

Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari pencapaian, hidup pelan kadang terasa seperti sebuah kesalahan. Baru lulus harus segera bekerja, sudah bekerja harus mengejar promosi, punya pekerjaan harus terus meningkatkan kemampuan, dan ketika beristirahat muncul rasa bersalah karena merasa belum melakukan cukup banyak. Akhirnya, hidup seperti perlombaan yang garis finisnya terus berpindah semakin jauh.
Padahal, manusia bukan mesin yang harus terus menghasilkan sesuatu setiap hari. Pelan bukan berarti menyerah atau tidak punya ambisi. Justru, memperlambat langkah bisa menjadi cara untuk memahami apa yang sebenarnya penting dan menjaga agar perjalanan hidup tetap bisa dinikmati.
1. Pencapaian bukan satu-satunya ukuran nilai diri

Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/ROMAN ODINTSOV) Kebiasaan mengukur diri berdasarkan pencapaian bisa membuat seseorang merasa harus terus membuktikan dirinya. Ketika mendapatkan promosi, nilai bagus, pekerjaan baru, atau berhasil mencapai target tertentu, muncul rasa puas.
Namun, rasa puas tersebut kadang hanya bertahan sebentar sebelum muncul target berikutnya. Akhirnya, seseorang bisa terus bergerak tanpa pernah merasa benar-benar sampai. Jadi mengejar pencapaian tanpa memberi ruang untuk menghargai proses justru dapat membuat keberhasilan terasa kurang bermakna.
Kamu boleh punya target tinggi, tetapi tidak harus menjadikan setiap pencapaian sebagai bukti bahwa kamu lebih berharga daripada sebelumnya. Nilai diri tidak otomatis naik ketika mendapatkan pencapaian dan tidak otomatis turun ketika sedang mengalami kegagalan atau berjalan lebih lambat.
2. Hidup pelan bukan berarti malas

Ilustrasi bersantai di pagi hari (pexels.com/Thomas balabaud) Ada perbedaan besar antara hidup pelan dan kehilangan arah. Hidup pelan berarti memberikan ruang untuk menentukan ritme yang sesuai dengan kondisi diri, sedangkan kehilangan arah berarti tidak tahu ke mana harus pergi. Seseorang tetap bisa ambisius sambil menjalani hidup dengan lebih tenang karena ambisi tidak harus selalu diwujudkan melalui kesibukan tanpa henti.
Riset mengenai recovery menunjukkan bahwa waktu di luar pekerjaan memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan. Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Occupational Health Psychology menemukan bahwa aktivitas pemulihan dan kemampuan melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan berkaitan dengan lebih rendahnya kelelahan serta lebih baiknya kesejahteraan.
"Aktivitas pemulihan (misalnya, olahraga fisik) dan pengalaman pemulihan (misalnya, pelepasan diri secara psikologis dari pekerjaan) memiliki hubungan negatif dengan gejala tekanan/ketegangan (misalnya, kelelahan) dan hubungan positif dengan indikator kesejahteraan yang positif (misalnya, vitalitas)," dikutip dalam studi Advances in recovery research: What have we learned? What should be done next? PubMed.
3. Tidak semua hari harus produktif

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons) Salah satu jebakan budaya produktivitas adalah anggapan bahwa setiap waktu harus menghasilkan sesuatu. Bahkan waktu luang pun sering ingin diubah menjadi aktivitas yang dianggap produktif, seperti membaca buku untuk meningkatkan kemampuan, mengikuti kursus, berolahraga demi target tertentu, atau membangun personal branding. Akibatnya, seseorang bisa merasa bersalah hanya karena menikmati waktu tanpa tujuan yang jelas.
"Orang-orang mulai menyadari bahwa tentu saja akan bermanfaat untuk memiliki sahabat di dalam diri, alih-alih musuh di dalam diri," kata psikolog Kristin Neff, PhD, associate professor of educational psychology di University of Texas at Austin, dalam American Psychological Association.
Kristin menekankan pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan lebih berbelas kasih. Cara pandang ini penting karena kamu tidak harus selalu memarahi diri sendiri agar mau bergerak. Kadang, memberikan kesempatan untuk berhenti justru membuat kamu mampu kembali menjalani aktivitas dengan energi yang lebih baik.
4. Jangan sampai target mengambil alih kehidupan

Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/damla selen demir) Memiliki target tentu bukan sesuatu yang buruk. Target membantu seseorang menentukan arah, membuat prioritas, dan mengetahui langkah yang ingin dicapai. Masalahnya muncul ketika target menjadi pusat kehidupan sampai-sampai hubungan dengan keluarga, kesehatan, waktu istirahat, hobi, bahkan kebahagiaan harus selalu dikorbankan demi pencapaian berikutnya.
Thomas Curran menjelaskan bahwa fokus yang sehat seharusnya tidak hanya berada pada hasil akhir. Menurutnya, seseorang bisa tetap menjadi high achiever dengan lebih berfokus pada usaha dan proses belajar. Cara berpikir tersebut membuat pencapaian menjadi bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan.
"Jauh lebih baik jika kita menempatkan diri pada jalur yang lebih tepat-jalur di mana kita berfokus pada upaya dan proses pembelajaran. Kita berusaha mencapai target yang lebih tinggi, namun tetap menjaga perspektif yang seimbang serta mengizinkan diri kita untuk menikmati keberhasilan saat hal itu tercapai," jelasnya.
"Hal ini memungkinkan kita untuk menikmati prosesnya dan sebagai hasilnya, menemukan kesejahteraan psikologis, tujuan, serta makna hidup melalui proses tersebut-sesuatu yang mustahil kita dapatkan jika perfeksionisme yang memegang kendali," lanjut Thomas.
5. Pelan-pelan membantu kamu menentukan apa yang benar-benar penting

Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio) Ketika terus bergerak, seseorang terkadang tidak punya cukup waktu untuk bertanya apakah tujuan yang sedang dikejar memang benar-benar diinginkan. Ada target yang muncul karena tekanan keluarga, standar lingkungan, tren media sosial, atau keinginan untuk terlihat sukses di mata orang lain.
Berhenti sebentar dapat memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kembali: apakah aku mengejar ini karena memang penting bagiku, atau hanya karena takut tertinggal? Oleh karena itu, hidup pelan bukan tentang membuang ambisi, melainkan mengubah hubungan dengan ambisi. Kamu tetap boleh mengejar sesuatu, tetapi tidak perlu berlari setiap saat.
Ada kalanya langkah kecil lebih masuk akal daripada memaksakan diri mengambil langkah besar. Ada kalanya berhenti justru membuat arah menjadi lebih jelas. Dan ada kalanya pencapaian terbesar bukan tentang seberapa jauh kamu berhasil melangkah, melainkan tentang bagaimana kamu tetap bisa menikmati hidup selama perjalanan tersebut.
Pada akhirnya, hidup tidak harus selalu menjadi perlombaan. Pelan-pelan saja, selama kamu masih bergerak ke arah yang bermakna bagimu. Sebab hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan secepat mungkin, tetapi tentang memiliki cukup waktu dan tenaga untuk menikmati perjalanannya.






















