Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari pencapaian, hidup pelan kadang terasa seperti sebuah kesalahan. Baru lulus harus segera bekerja, sudah bekerja harus mengejar promosi, punya pekerjaan harus terus meningkatkan kemampuan, dan ketika beristirahat muncul rasa bersalah karena merasa belum melakukan cukup banyak. Akhirnya, hidup seperti perlombaan yang garis finisnya terus berpindah semakin jauh.
Padahal, manusia bukan mesin yang harus terus menghasilkan sesuatu setiap hari. Pelan bukan berarti menyerah atau tidak punya ambisi. Justru, memperlambat langkah bisa menjadi cara untuk memahami apa yang sebenarnya penting dan menjaga agar perjalanan hidup tetap bisa dinikmati.
