Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Hidup Tenang Sekarang Terasa seperti Kemewahan?
ilustrasi tenang (freepik.com/benzoix)
  • Hidup tenang terasa sulit karena tuntutan hidup membuat kita seperti terus mengejar pencapaian.

  • Beban finansial, pekerjaan, dan tanggung jawab membuat pikiran tetap sibuk meski sedang tidak bekerja.

  • Ketenangan lebih mudah dirasakan ketika kebutuhan dasar, kondisi finansial, waktu istirahat, dan hubungan sosial cukup aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada masa ketika membayangkan hidup enak berarti punya rumah bagus, kendaraan pribadi, pekerjaan dengan gaji besar, atau bisa liburan ke luar negeri. Namun, makin ke sini, rasanya definisi hidup enak mulai bergeser. Bisa tidur tanpa memikirkan tagihan, menjalani hari tanpa drama yang melelahkan, atau menghabiskan akhir pekan tanpa merasa bersalah justru menjadi sesuatu yang sangat diinginkan.

Bukan berarti orang-orang sudah tidak punya ambisi. Kita tetap ingin berkembang, punya penghasilan yang cukup, dan mencapai hal-hal yang selama ini diimpikan. Hanya saja, di tengah berbagai tuntutan hidup, keinginan sederhana untuk merasa tenang mulai terasa mahal. Seolah-olah, kita harus melewati begitu banyak hal terlebih dahulu hanya untuk bisa menikmati hari tanpa beban pikiran.

1. Hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai

ilustrasi menggulir media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)

Salah satu alasan hidup tenang terasa seperti kemewahan adalah karena kita seolah tidak pernah benar-benar selesai mengejar sesuatu. Ketika masih sekolah, kita dituntut mendapat nilai bagus. Setelah lulus, kita memikirkan pekerjaan. Begitu bekerja, muncul target karier, penghasilan, tabungan, hingga berbagai pencapaian lain yang katanya perlu dimiliki sebelum usia tertentu.

Belum lagi ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial. Ada teman yang sudah membeli rumah, kenalan yang kariernya melejit, atau orang seusia kita yang terlihat menikmati hidup dengan begitu mudahnya. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan kehidupan orang lain yang bahkan belum tentu kita ketahui cerita lengkapnya.

Akhirnya, istirahat pun terasa seperti sesuatu yang harus ditebus. Kita merasa belum pantas bersantai karena tabungan belum cukup, pekerjaan belum selesai, atau hidup belum mencapai standar yang kita tetapkan sendiri. Padahal, kalau terus menunggu semua urusan beres, kapan kita bisa benar-benar menikmati hidup?

2. Banyak hal yang harus dipikirkan, bahkan ketika sedang tidak bekerja

ilustrasi melamun (pexels.com/Sóc Năng Động)

Dulu, mungkin kita membayangkan bahwa setelah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan sendiri, hidup akan terasa lebih bebas. Nyatanya, menjadi orang dewasa justru membuat kepala dipenuhi berbagai urusan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Ada biaya hidup yang terus berjalan, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, pekerjaan yang menuntut perhatian, sampai rencana masa depan yang perlu dipersiapkan. Bahkan, ketika sedang duduk santai, pikiran bisa tetap sibuk menghitung pengeluaran bulan ini atau mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Masalahnya, tidak semua orang punya kesempatan untuk benar-benar berhenti sejenak. Bagi sebagian orang, berhenti bekerja berarti kehilangan penghasilan. Mengambil cuti bisa membuat pekerjaan menumpuk. Sementara itu, mengurangi kesibukan belum tentu membuat tanggung jawab ikut berkurang.

Dalam situasi seperti ini, hidup tenang bukan sekadar persoalan mengatur pikiran agar tidak stres. Ada kondisi nyata yang memang membuat seseorang sulit merasa aman. Karena itu, rasanya kurang adil jika ketenangan hanya dianggap sebagai hasil dari kemampuan seseorang mengelola emosi.

3. Kita semakin sulit menikmati sesuatu tanpa memikirkan hal lain

ilustrasi bersantai di atas sofa (pexels.com/Katrin Bolovtsova)

Coba ingat kapan terakhir kali kita melakukan sesuatu tanpa merasa perlu memikirkan produktivitasnya. Menonton film, misalnya, malah membuat kita teringat pekerjaan yang belum selesai. Tidur siang terasa membuang waktu karena masih banyak hal yang bisa dikerjakan. Bahkan ketika sedang berkumpul dengan teman, pikiran justru sibuk memikirkan besok harus melakukan apa.

Kita seperti terbiasa mengukur waktu berdasarkan seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan. Hari yang sibuk dianggap produktif, sedangkan hari yang berjalan santai kadang membuat kita merasa tidak melakukan apa-apa. Padahal, tidak setiap kegiatan harus menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan atau dihitung manfaatnya. Duduk di teras sambil minum teh, berjalan santai sore hari, atau mengobrol dengan orang terdekat juga punya arti. Kita tidak harus selalu mendapatkan pencapaian baru untuk membenarkan keberadaan diri sendiri.

4. Ketenangan juga membutuhkan kondisi hidup yang cukup aman

ilustrasi seseorang bersikap tenang (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Ada anggapan bahwa orang yang hidup sederhana seharusnya lebih mudah bahagia. Padahal, kesederhanaan dan kesulitan hidup adalah dua hal yang berbeda. Hidup sederhana bisa terasa menyenangkan ketika kebutuhan dasar terpenuhi, tetapi situasinya akan berbeda jika setiap bulan kita harus khawatir tentang biaya makan, tempat tinggal, atau tagihan yang belum terbayar.

Tidak heran jika memiliki penghasilan yang stabil, lingkungan yang mendukung, dan waktu istirahat yang cukup terasa begitu berharga. Hal-hal tersebut mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi bisa menjadi sumber kecemasan bagi mereka yang belum memilikinya. Kita juga tidak bisa mengabaikan pentingnya hubungan yang sehat. Punya banyak teman tidak selalu membuat hidup terasa ringan jika hubungan tersebut justru dipenuhi persaingan, tuntutan, atau konflik yang tidak ada habisnya. Sebaliknya, memiliki satu atau dua orang yang bisa diajak bicara tanpa takut dihakimi kadang sudah cukup membuat hari yang berat terasa lebih mudah dilewati.

Pada akhirnya, ketenangan bukan kemewahan yang harus menunggu kita sukses terlebih dahulu. Kita juga berhak merasakannya di tengah hidup yang masih berproses. Jadi, apakah kamu juga termasuk yang sangat mendambakan ketenangan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article