Kita memang gak bisa menghindari semua masalah. Namun, bukan berarti setiap kejadian harus dipikirkan berulang-ulang atau setiap orang harus mendapat penjelasan dari kita. Ada beberapa hal yang mungkin sudah waktunya gak lagi terlalu kamu urusi, apa sajakah itu?
5 Hal yang Harus Dilepaskan demi Hidup yang Lebih Tenang

Kebiasaan merasa gak enakan dan memikirkan omongan orang lain dapat mengganggu ketenangan hidup.
Keinginan membuat semua orang paham dan membandingkan pencapaian dengan teman sebaya dapat memicu tekanan diri.
Penyesalan atas keputusan masa lalu perlu diganti dengan mengambil pelajaran dan memperbaiki langkah ke depan.
Kadang kita capek sendiri gara-gara memikirkan sesuatu yang sebenarnya gak harus diselesaikan hari itu juga. Chat teman yang belum dibalas, omongan orang bikin kepikiran sampai malam, atau satu kesalahan kecil di tempat kerja bikin suasana hati berantakan seharian. Mau mengalihkan perhatian pun rasanya susah karena pikiran terus kembali ke hal yang sama.
1. Gak enakan sampai susah menolak

ilustrasi gak enakan (pexels.com/SHVETS production) Teman minta tolong saat kamu sedang sibuk, rekan kerja minta bantuan padahal tugasmu sendiri belum selesai, atau keluarga mengajak pergi ketika kamu sebenarnya ingin istirahat. Kamu ingin menolak, tetapi malah memikirkan bagaimana perasaan mereka nanti. Akhirnya, kamu bilang iya meski dalam hati sangat keberatan.
Kalau kebiasaan ini terus dibiarkan, waktu dan tenagamu bisa habis untuk mengurus kebutuhan orang lain. Menolak permintaan bukan berarti kamu gak peduli. Kamu bisa menjelaskan bahwa kali ini belum bisa membantu tanpa harus membuat alasan panjang atau merasa wajib menebus penolakan itu dengan bantuan lain. Orang lain boleh kecewa, tetapi kamu juga perlu punya waktu untuk mengurus diri sendiri.
2. Omongan orang yang terus dipikirkan

ilustrasi omongan orang lain (pexels.com/RDNE Stock project) Pernah gak, seseorang melontarkan komentar yang sebenarnya cuma beberapa detik, tetapi kamu masih mengingatnya sampai berhari-hari? Bisa jadi soal penampilan, pekerjaan, penghasilan, atau keputusan hidup yang menurut mereka kurang tepat. Kamu mungkin sudah menjawab atau membalas omongan mereka saat itu, tetapi setelah sampai rumah malah terpikir jawaban lain yang seharusnya bisa kamu katakan.
Kalau komentarnya memang berisi masukan yang masuk akal, kamu bisa mempertimbangkannya. Namun, gak semua ucapan orang perlu dijadikan bahan untuk meragukan diri sendiri. Ada komentar yang memang gak perlu ditanggapi, apalagi kalau orang tersebut gak benar-benar memahami keadaanmu. Kamu gak harus membuktikan bahwa hidupmu baik-baik saja kepada setiap orang yang punya pendapat tentangmu.
3. Keinginan untuk membuat semua orang paham

ilustrasi salah paham (pexels.com/Keira Burton) Saat terjadi salah paham, wajar kalau kamu ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Masalahnya, penjelasan yang sama kadang sudah disampaikan berkali-kali, tetapi orang lain tetap punya penilaian sendiri. Kamu terus mencari cara agar mereka mengerti.
Ada kalanya penjelasan memang dibutuhkan, terutama jika menyangkut tanggung jawab atau hubungan yang penting. Namun, kalau kamu sudah menyampaikan maksud dengan jelas dan lawan bicara tetap gak mau memahami, percakapan itu gak harus terus diperpanjang. Kamu bisa memberi ruang bagi orang lain untuk punya pandangan sendiri tanpa harus selalu menyetujuinya. Gak semua salah paham bisa dibereskan saat itu juga, dan gak semua orang akan melihat kejadian dari sisi yang sama denganmu.
4. Membandingkan pencapaian dengan teman sebaya

ilustrasi membeli rumah (freepik.com/pressfoto) Saat membuka media sosial, kita sering melihat teman sudah punya rumah, teman kuliah mendapat pekerjaan dengan gaji besar, atau kenalan menikah lebih dulu. Padahal, beberapa menit sebelumnya kamu merasa cukup puas dengan keadaan sendiri. Setelah melihat unggahan itu, kamu malah sibuk menghitung apa saja yang belum berhasil dicapai.
Perasaan seperti ini bisa muncul tanpa disadari, terutama ketika kamu merasa seharusnya sudah berada di tahap hidup tertentu pada usia sekarang. Padahal, kamu gak tahu seluruh cerita di balik pencapaian orang lain, sama seperti mereka juga gak tahu semua hal yang sedang kamu usahakan. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu capai, jadikan itu alasan untuk menyusun langkahmu sendiri, bukan untuk terus merasa kalah. Kamu boleh menginginkan hidup yang lebih baik tanpa harus menganggap hidupmu sekarang gagal.
5. Menyalahkan diri sendiri atas hal yang sudah lewat

ilustrasi menyalahkan diri sendiri (pexels.com/Tim Gouw) Salah memilih pekerjaan, terlambat mengambil kesempatan, atau bertahan dalam hubungan yang ternyata gak baik bisa meninggalkan penyesalan. Apalagi kalau sekarang kamu melihat pilihan lain yang sepertinya akan membuat hidup lebih mudah. Pikiran seperti “coba waktu itu aku gak begitu” pun muncul setiap kali mengingat kejadian tersebut.
Kamu boleh menyesali keputusan lama, tetapi gak perlu terus mengulang kesalahan yang sama di kepala seolah-olah kejadian itu masih bisa diubah. Kalau memang ada hal yang perlu diperbaiki, lihat apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Kalau akibatnya gak bisa sepenuhnya diperbaiki, kamu tetap bisa belajar agar gak mengambil keputusan serupa. Kamu membuat pilihan pada masa lalu dengan pengetahuan dan keadaan yang kamu miliki saat itu. Sekarang, kamu sudah punya pengalaman tambahan untuk menentukan langkah berikutnya.
Hidup mungkin gak langsung terasa lebih mudah setelah kamu berhenti memikirkan hal-hal tersebut. Akan selalu ada orang yang gak setuju, rencana yang berantakan, atau keputusan yang belakangan terasa kurang tepat. Kadang, lebih baik kamu tidur lebih nyenyak lalu berhenti memikirkan hal yang memang gak bisa kamu ubah agar hidup semakin tenang.















![[QUIZ] Kartun Favoritmu Ungkap Inner World Kamu yang Asli](https://image.idntimes.com/post/20210826/bermix-studio-gf0j-hdazra-unsplash-0233b6721c13849a556a63e6e961653d-82aa5c81d8f9d1cedd5a15556c2163e3.jpg)






