Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kalau Kita Baik Orang Lain Malah Berbuat Semanu Mereka?
ilustrasi berbuat baik ke orang lain (pexels.com/Allan Mas)
  • Terlalu sering memaklumi dan memaafkan kesalahan berulang dapat membuat orang lain menganggap batas diri longgar, sehingga mereka makin berani meremehkan.
  • Pertolongan, waktu, dan fasilitas yang selalu tersedia tanpa jeda bisa dianggap sebagai hal biasa, membuat penerima kehilangan penghargaan terhadap pengorbanan.
  • Sikap diam demi menghindari konflik saat diperlakukan tidak adil dapat dibaca sebagai kelemahan; ketegasan dan batas kesabaran perlu ditunjukkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya niat tulus buat jadi orang yang ramah dan suka menolong ke siapa saja terkadang malah jadi bumerang buat diri sendiri. Alih-alih dihargai karena ketulusan, yang didapat justru perlakuan semena-mena seolah kita tidak punya harga diri. Giliran mulai pasang batas atau berani menolak, langsung dicap egois dan dibilang berubah. Bikin mikir dua kali, emangnya salah ya jadi orang baik di zaman sekarang?

Fenomena ini sering bikin kita bertanya-tanya, apakah berbuat baik itu ada batas toleransinya atau memang ada yang salah dari cara kita memperlakukan orang lain? Jawabannya terletak pada bagaimana kamu menempatkan prinsip diri di hadapan orang lain. Daripada terus-terusan makan hati karena kebaikanmu diinjak-injak, yuk kenali tiga alasan utama kenapa orang lain malah berbuat semena-mena saat kamu bersikap terlalu baik!

1. Terlalu sering memaklumi kesalahan orang lain dan gampang memaafkan

ilustrasi memahami orang lain (pexels.com/ Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Penyebab pertama kenapa orang lain berani berbuat semanu mereka adalah karena mereka tahu kamu adalah tipe orang yang gampang melupakan kesalahan. Setiap kali mereka berbuat salah, bersikap tidak sopan, atau bahkan merugikanmu, kamu selalu memilih untuk langsung memaafkan tanpa memberikan efek jera sedikit pun. Kamu berpikir bahwa memaklumi adalah bentuk kedewasaan dan cara terbaik untuk menjaga perdamaian dalam pertemanan.

Padahal, terlalu gampang memberikan toleransi pada kesalahan yang berulang justru mengirim sinyal bawah sadar bahwa perilakunya itu bukan masalah besar. Mereka menangkap pesan bahwa batasan dirimu sangat longgar dan kamu tidak akan pernah marah separah apa pun mereka bertindak. Akibatnya, alih-alih merasa bersalah dan kapok, mereka malah makin meremehkanmu karena tahu kamu akan selalu menerima mereka kembali tanpa syarat.

2. Orang lain terbiasa menerima tanpa pernah belajar menghargai prosesnya

ilustrasi kebaikan (pexels.com/Ivan S)

Kebaikan yang diberikan secara terus-menerus tanpa ada jeda atau syarat sering kali membuat orang lain menjadi manja dan lupa daratan. Mereka menganggap segala bentuk pertolongan, waktu luang, dan fasilitas yang kamu berikan adalah hal yang pasti ada setiap kali mereka butuh. Karena tidak pernah merasakan susahnya berjuang sendiri, mereka kehilangan rasa hormat dan empati terhadap pengorbanan yang sudah kamu lakukan.

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk meremehkan hal-hal yang didapatkan dengan terlalu mudah tanpa perjuangan. Ketika kamu terlalu gampang diandalkan dan selalu ada dalam kondisi apa pun, nilaimu justru turun di mata mereka. Mereka lupa bahwa ketulusanmu juga punya batas dan butuh dihargai, bukan malah diperlakukan layaknya pelayan pribadi yang siap siaga 24 jam.

3. Kurang menunjukkan sisi tegas saat harga dirimu mulai diserang

ilustrasi kurang tegas (pexels.com/Jopwell)

Kesalahan terbesar dari orang yang terlalu baik adalah sering memilih diam dan memendam kekesalan demi menghindari konflik berkepanjangan. Kamu berpikir kalau mengalah terus adalah cara paling aman untuk menjaga perdamaian dalam sebuah hubungan sosial. Padahal, sikap diam dan selalu memaklumi kesalahan orang lain justru dibaca sebagai tanda kelemahan oleh mereka yang berniat buruk.

Ketika kamu tidak pernah memberikan teguran atau batasan tegas saat diperlakukan tidak adil, orang lain akan merasa tindakan semena-menanya itu sah-sah saja dilakukan. Mereka mengira kamu tidak punya gigi untuk melawan atau membela harga dirimu sendiri. Makanya, sesekali tunjukkan kalau kamu punya batas kesabaran; kalau lagi gak suka, ya tunjukkan  saja biar mereka tahu diri dan gak sembarangan ngelunjak ke kamu.

Menjadi orang baik adalah sebuah pilihan mulia, tetapi kebaikan tanpa batasan yang jelas hanya akan mengantarkanmu pada perlakuan yang tidak adil. Jangan biarkan ketulusan hatimu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih. Ingat, kamu berhak disegani dan dihormati sebesar usaha tulus yang sudah kamu berikan kepada dunia!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article