Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Mudik Terasa Lebih Melelahkan dari Liburan Biasa?

Kenapa Mudik Terasa Lebih Melelahkan dari Liburan Biasa?
ilustrasi mudik (vecteezy.com/Suwinai Sukanant)
Intinya Sih
  • Mudik sering terasa lebih melelahkan karena perjalanan dimulai saat tubuh sudah lelah setelah menyelesaikan pekerjaan sebelum libur.

  • Kepadatan lalu lintas dan waktu tempuh yang lebih lama membuat perjalanan menjadi lebih menguras tenaga.

  • Setelah tiba di kampung halaman, agenda bertemu keluarga dan aktivitas yang padat mengurangi waktu istirahat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mudik selalu menjadi momen yang ditunggu menjelang hari raya, terutama bagi perantau yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Perjalanan ini sering dianggap sebagai bagian penting dari tradisi keluarga di Indonesia. Meski begitu, jaraknya jauh dan waktunya terbatas.

Menariknya, banyak orang merasa mudik jauh lebih melelahkan dibanding liburan biasa, bahkan ketika durasi perjalanan keduanya kurang lebih sama. Rasa capek itu sering muncul sejak perjalanan dimulai hingga kembali lagi ke kota tempat bekerja. Untuk memahami kenapa pengalaman ini terasa berbeda, simak beberapa hal yang sering terjadi selama mudik berikut.

1. Perjalanan mudik sering dilakukan dalam kondisi fisik yang sudah lelah

ilustrasi mudik
ilustrasi mudik (vecteezy.com/Sanhanat Pimpa)

Mudik jarang dilakukan saat tubuh benar-benar segar karena kebanyakan orang baru berangkat setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum libur panjang. Banyak pekerja masih harus menutup laporan, membereskan tugas kantor, atau mengejar tenggat sebelum cuti dimulai. Akibatnya, perjalanan dimulai ketika tubuh sebenarnya sudah kehabisan energi sejak awal. Situasi ini berbeda dengan liburan biasa yang biasanya direncanakan saat kondisi tubuh lebih siap.

Banyak orang bahkan langsung mudik menuju terminal, stasiun, atau bandara setelah seharian bekerja. Tidur di kendaraan pun sering tidak nyaman karena posisi duduk sempit atau perjalanan terlalu padat. Ketika sampai di kampung halaman, rasa lelah dari perjalanan panjang itu masih terasa dalam tubuh.

2. Kepadatan perjalanan membuat waktu tempuh terasa jauh lebih panjang

ilustrasi macet
ilustrasi macet (pexels.com/Denniz Futalan)

Salah satu hal yang paling terasa saat mudik ialah kepadatan perjalanan yang tidak biasa. Jalan tol, jalur arteri, hingga stasiun sering dipenuhi orang yang memiliki tujuan sama. Kondisi ini membuat perjalanan yang biasanya singkat berubah menjadi jauh lebih lama.

Perjalanan darat Jakarta–Yogyakarta, misalnya, normalnya sekitar 8 jam. Namun, ini bisa berubah menjadi 12 jam atau lebih saat musim mudik. Kendaraan sering berjalan sangat pelan, bahkan berhenti cukup lama di beberapa titik. Waktu yang habis di jalan membuat tubuh terasa kaku karena terlalu lama duduk. Tidak heran jika setelah sampai tujuan, badan terasa jauh lebih pegal dibandingkan perjalanan liburan biasa.

3. Agenda bertemu banyak orang membuat waktu istirahat berkurang

ilustrasi Lebaran
ilustrasi Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Setelah tiba di kampung halaman, banyak orang tidak langsung mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Jadwal biasanya sudah penuh dengan kegiatan keluarga, seperti silaturahmi, makan bersama, atau berkunjung ke rumah kerabat. Aktivitas ini memang menyenangkan, tetapi sering membuat waktu istirahat menjadi sangat terbatas.

Dalam 1 hari, seseorang bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk bertemu saudara yang jarang ditemui. Kadang, perjalanan kecil antardesa atau antarkota juga harus dilakukan untuk mengunjungi keluarga yang lebih jauh. Kegiatan tersebut membuat tubuh terus bergerak tanpa jeda panjang untuk benar-benar beristirahat. Akibatnya, rasa lelah menumpuk tanpa disadari.

4. Persiapan mudik sering lebih rumit dibanding liburan biasa

ilustrasi persiapan mudik
ilustrasi persiapan mudik (pexels.com/Kampus Production)

Mudik jarang dilakukan secara sederhana karena biasanya melibatkan banyak persiapan. Banyak orang harus menyiapkan oleh-oleh, membawa barang tambahan, atau mengatur jadwal keberangkatan bersama anggota keluarga lain. Proses ini sering dimulai beberapa hari sebelum perjalanan dilakukan.

Pemudik harus memesan tiket transportasi jauh hari karena kursi cepat habis. Belum lagi, ada urusan mengemas barang, menyiapkan makanan selama perjalanan, hingga memastikan rumah yang ditinggal tetap aman. Semua hal tersebut membutuhkan tenaga dan perhatian sebelum perjalanan benar-benar dimulai. Tanpa disadari, energi sudah terkuras bahkan sebelum perjalanan mudik dimulai.

5. Perjalanan pulang membuat tubuh kembali menyesuaikan diri

ilustrasi mudik
ilustrasi mudik (vecteezy.com/Suwinai Sukanant)

Setelah beberapa hari berada di kampung halaman, perjalanan kembali ke kota sering terasa tidak kalah melelahkan. Waktu libur biasanya hampir selesai sehingga banyak orang berangkat dalam waktu yang hampir bersamaan. Situasi ini membuat arus balik sering sama padatnya dengan perjalanan mudik.

Tubuh juga harus kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas kerja atau aktivitas sehari-hari. Setelah beberapa hari tidur tidak teratur dan banyak kegiatan keluarga, tubuh membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri. Ketika harus langsung kembali bekerja, rasa lelah dari perjalanan pulang sering masih terasa. Inilah yang membuat mudik terasa lebih menguras tenaga dibanding liburan biasa.

Mudik memang sering terasa melelahkan, tetapi pengalaman tersebut tetap menjadi bagian penting dari tradisi pulang ke rumah. Perjalanan panjang hingga banyaknya kegiatan keluarga membuat energi cepat terkuras. Namun, bagi banyak orang, semua kelelahan itu tetap terasa sepadan karena bisa bertemu kembali dengan orang-orang terdekat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us