“Bagi korban, mencari keadilan bagi dirinya dalam kondisi seperti itu sudah pasti melelahkan banget. Seperti luka di tangan yang berdarah-darah tapi harus menyetir motor sendiri ke rumah sakit. Bisa jadi mereka bingung harus melakukan apa dulu,” katanya, kepada IDN Times secara online.
Kenapa Perempuan Takut Speak Up saat Terjadi Pelecehan?

Rasa malu, takut dihakimi, dan minimnya dukungan sosial dapat membuat perempuan memilih diam setelah mengalami pelecehan.
Stigma menyalahkan korban serta ketimpangan kuasa membuat korban takut melapor dan merasa tidak berdaya.
Respons beku, kurangnya pengetahuan, dan dampak trauma turut memengaruhi keputusan korban untuk speak up.
Sport massage sejatinya menjadi cara untuk memulihkan performa fisik justru berubah menjadi pengalaman yang meninggalkan rasa takut dan tidak nyaman. Seorang pelari perempuan akhirnya memberanikan diri membagikan pengalamannya di Threads, ketika ia diduga mengalami pelecehan seksual saat melakukan sport massage pada Minggu (18/10/2026) di area kawasan Gelora Bung Karno (GBK).
Terapis diduga memijat dan menyentuh bagian yang tidak seharusnya disentuh. Meskipun sempat merasakan kejanggalan, korban berpikir positif dan merasa bahwa perilaku tersebut adalah bagian dari treatment. Sempat diam, korban akhirnya memilih untuk speak up setelah kejadian tersebut berlaku. Kisah ini pun kemudian mendapatkan banyak respons dari warganet.
Nyatanya, tak sedikit perempuan yang mengalami kisah serupa. Selain fisik, komentar-komentar di utas Threads tersebut menunjukkan bahwa ada pula perempuan-perempuan yang mengalami pelecehan secara verbal. Fenomena ini menunjukkan bagaimana pelecehan seksual masih sering terjadi di setiap kalangan. Namun pertanyaannya, mengapa perempuan merasa begitu sulit untuk speak up setelah mengalami pelecehan seksual?
1. Ada rasa malu, takut dihakimi, dan ketiadaan akan dukungan sosial

Ilustrasi pelecehan seksual. (IDN Times/Arief Rahmat) Sebagai Psikolog Klinis, Putri Aisya Pahlawani, merasa bahwa kasus ini sering kali terjadi dalam berbagai bentuk. Ia juga menyadari masih banyak korban yang memilih diam atau tidak berani mengungkapkan pelecehan seksual yang mereka hadapi. Namun, Putri merasa setiap orang punya faktor atau alasan yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah rasa malu, ketakutan dihakimi, dan merasa tidak ada dukungan sosial.
Ketika dihubungi oleh IDN Times pada Sabtu (7/10/2026), Putri menjelaskan bahwa korban pelecehan seksual atau kekerasan seksual kerap merasa sendirian. Ketika hal itu terjadi, mereka merasa takut kalau disalahkan dan merasa tidak ada bantuan secara emosional yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.
Direktur Eksekutif Yayasan Pulih Dr. Livia Iskandar, M.Sc., Psikolog, Plt. mengatakan bahwa ia kerap menemui masalah serupa. Menurutnya, alasan terbesarnya adalah rasa malu yang harus ditanggung.
“Malu dengan keluarganya, malu untuk speak up, karena nanti apa ya, apa kata orang-orang di luar sana tentang gue, tentang keluarga gue, karena this happened to me. Dia merasa waktu itu dia belum menemukan sarana yang tepat untuk bisa minta bantuan,” katanya di Media Gathering International Women’s Day yang berlangsung pada Kamis, (5/3/2026) di Jakarta.
2. Stigma yang masih melekat untuk menyalahkan korban

Ilustrasi pelecehan seksual (IDN Times/Aditya Pratama) Dr. Livia mengatakan bahwa konsekuensi dari berkata jujur atau speak up itu gak selalu positif, apalagi masih banyak stigma yang melekat pada perempuan. Hal ini juga disampaikan oleh Putri Aisya bahwa ada stigma yang melekat untuk menyalahkan korban.
“Ada stigma yang masih melekat untuk menyalahkan korban, entah pakaian, entah sikap, entah aksi saat itu. Seperti ‘Lah, kenapa pas saat itu diem aja? Kenapa baru speak up sekarang? Caper ya?’. Kata-kata seperti itu bikin korban jadi takut melapor dan biasanya malah self blame atau menyalahkan diri. Selain itu, dari stigma itu mungkin bikin korban malu secara sosial seperti takut dikucilkan dan lain-lain,” tuturnya.
Tidak semua orang punya kemampuan untuk speak up atas pelecehan yang mereka alami. Livia menyebut ini soal keberanian dan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri sehingga sebenarnya perempuan memang perlu dukungan lebih dan pemberdayaan.
Livia melanjutkan, “Apalagi perempuan, pagar-pagar psikologis yang ditetapkan untuk perempuan itu tinggi banget dan sering kali membutuhkan keberanian lebih untuk bisa lompat galah. Pagar-pagar psikologis ini gak hanya oleh orang tersebut tapi oleh masyarakat secara keseluruhan”.
3. Pelaku mungkin punya power yang lebih besar daripada korban

ilustrasi Pelecehan Seksual (IDN Times/Aditya Pratama) Salah satu kemungkinan kenapa korban memilih diam adalah ketidakberdayaannya dalam menghadapi masalah ini. Putri menyebut latar belakang seseorang sulit untuk speak up bisa muncul ketika mereka tidak punya wewenang atau kekuasaan lebih untuk melakukan perubahan.
“Ada power imbalance di mana pelaku punya power lebih ketimbang korban sehingga mereka takut malah diancam kalau melapor,” ujar Putri.
Di Yayasan Pulih, Livia pun menghadapi permasalahan yang serupa mengenai persoalan pelaporan KDRT. Ada kasus di mana pelaku kekerasan adalah orang yang selama ini menghidupi dia sehingga ada ketergantungan ekonomi. Kasus ini berhubungan dengan penyalahgunaan relasi kuasa hingga budaya patriarki.
4. Korban tidak tahu harus ke mana atau berbuat apa

ilustrasi pelecehan (IDN Times/Aditya Pratama) Respons umum yang mungkin terjadi adalah respons beku atau freeze menurut Putri Aisya. Seseorang bisa saja mengalami respons beku ketika mengalami hal-hal tak terduga.
Putri mengatakan,”Kejadian syok itu bikin dia harus memproses banyak hal sekaligus baik itu soal kejadiannya maupun perasaan”.
Kesulitan untuk speak up juga dipengaruhi oleh seberapa aware seseorang terhadap penanganan kasus ini. Tidak semua orang tahu apa yang harus mereka lakukan ketika mengalami kejadian yang tidak diinginkan seperti pelecehan atau kekerasan seksual.
“Pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau,” ujar Livia Iskandar.
5. Ini dampaknya kalau individu memilih diam

Ilustrasi pelecehan seksual. (IDN Times/Aditya Pratama) Ketika seseorang sulit dan memilih diam, Putri Aisya menyebut dampaknya dominan akan merugikan diri sendiri. Ia melihat ada emosi yang harus ditekan sehingga itu bisa menjadi trauma.
“Ada trauma unresolved (tidak selesai) yang bisa membayangi diri sendiri. Itu bisa membuat dia punya penilaian negatif terhadap dirinya sendiri seperti berpikir ‘Aku kotor’ dan lain-lain. Selain itu, seseorang juga bisa mengalami kecemasan berlebihan, isolasi sosial karena menghindari tempat tertentu dan orang yang punya kemiripan dengan pelaku,” jelasnya.
Gak hanya merugikan diri sendiri, sebenarnya dengan diam maka secara tidak langsung ia membiarkan pelaku tidak bertanggung jawab. Pelaku jadi tidak tahu bahwa perbuatannya salah dan berpotensi menimbulkan kasus dan korban-korban lainnya.
Namun, tentu tidak mudah bagi seseorang untuk membuka ‘luka’nya kembali. Maka dari itu, awareness soal pelecehan maupun kekerasan harus ditanamkan sejak kecil. Dengan begitu, individu akan punya keberanian lebih untuk melapor dan meminta pendampingan psikologis.
Kalau memang terlalu sulit untuk membuka permasalahan ini ke ruang publik, ada baiknya untuk memulai dari lingkaran yang sangat kecil, yaitu satu orang yang dipercaya oleh korban. Jauhkan diri dari pelaku, simpan semua bukti dokumentasi, tulis kronologinya. Selalu ingat bahwa pelecehan bukan kesalahan korban.



![[QUIZ] Dari Petualangan Doraemon Inilah Cara Berpikir Kamu Selama Ini](https://image.idntimes.com/post/20250224/doraemon-d1b21e789592b2d3872afd98437da4d1.jpg)

![[QUIZ] Dari Tokoh Doraemon, Sahabat seperti Apakah Arti Dirimu?](https://image.idntimes.com/post/20241105/t-d225f05f5c16740ca62b5152677b1e4e.jpg)


![[QUIZ] Kalau Sekelas dengan Tokoh Doraemon, Apa Mapel yang Paling Kamu Kuasai?](https://image.idntimes.com/post/20260415/upload_a86a28cb1bec31a7aa894e868ce8397c_bbb26bdf-2a75-4d3b-9cbd-a8f2a072a6c7.jpg)




![[QUIZ] Kamu Lebih Mirip Sifat Upin atau Ipin Kalau Bekerja?](https://image.idntimes.com/post/20261106/screenshot-2026-11-06-164904_1a6ec494-7acc-406f-a41d-50f9c6680416.png)


![[MADING] Konsumsi Tidak Terencana dan Pengeluaran Tersembunyi Remaja](https://image.idntimes.com/post/20261106/1000975715_0ce4225f-d889-42d3-b504-3374b1862bb2.jpg)





