"Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan adanya manfaat hedonis dan interpersonal dalam pemberian hadiah berupa pengalaman, konsumen sering kali lebih memilih memberikan hadiah berupa barang materiil dibandingkan pengalaman," jelas Joseph K. Goodman dan Sarah Lim, peneliti yang menulis studi tentang preferensi hadiah material dan pengalaman di Journal of Consumer Research di Oxford Academic.
"Pemberi hadiah memandang bahwa pemilihan hadiah berupa pengalaman memerlukan pengetahuan yang lebih spesifik mengenai preferensi penerima guna menghindari risiko sosial yang lebih besar akibat memberikan hadiah yang tidak sesuai,
Kenapa Souvenir Nikahan Kini Lebih Sering Barang Fungsional?

Souvenir pernikahan tidak lagi selalu identik dengan benda kecil yang disimpan di sudut rumah atau lemari pajangan. Kini, semakin banyak pasangan mempertimbangkan hadiah yang bisa langsung digunakan tamu, mulai dari pouch, tote bag, alat makan, hingga produk perawatan tubuh. Pergeseran ini membuat souvenir bukan sekadar kenang-kenangan, tetapi juga bagian dari pengalaman tamu setelah menghadiri pernikahan.
Perubahan tersebut berkaitan dengan cara orang memandang fungsi, anggaran, dan keberlanjutan sebuah barang. Lantas, apa yang membuat barang fungsional semakin menarik, dan apakah souvenir pajangan benar-benar mulai ditinggalkan?
1. Dari kenang-kenangan ke barang yang punya kegunaan

ilustrasi souvenir pernikahan (freepik.com/pvproductions) Souvenir pernikahan pada dasarnya merupakan bentuk apresiasi kepada tamu yang telah hadir dan ikut merayakan kebahagiaan pengantin. Dulu, benda seperti miniatur, patung kecil, atau hiasan meja sering dipilih karena bentuknya menarik dan mudah diberi identitas acara. Kini, pertimbangan tersebut mulai dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih praktis: apakah barang ini akan berguna setelah dibawa pulang?
Pergeseran ini terlihat dalam berbagai inspirasi souvenir pernikahan yang beredar. Perubahan ini dipahami sebagai bertambahnya pilihan dan pertimbangan dalam memilih hadiah. Dalam kajian perilaku konsumen, hadiah juga tidak hanya dinilai dari bentuknya, tetapi dari manfaat dan kesesuaiannya dengan penerima.
Tapi perlu dicatat bahwa remuan ini memang membahas hadiah secara umum, bukan souvenir pernikahan secara khusus. Tetapi masih relevan untuk memahami mengapa barang yang memiliki kegunaan bisa menjadi pilihan yang menarik.
2. Barang fungsional dianggap lebih worth it

Ilustrasi souvenir pernikahan (pexels.com/Karolina Grabowska) Salah satu alasan souvenir fungsional semakin diminati adalah karena barang tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas sehari-hari. Pouch dapat digunakan untuk menyimpan kabel atau kosmetik, tote bag untuk berbelanja, sedangkan botol minum bisa dibawa ke kantor maupun kampus.
Ketika barang memiliki fungsi yang jelas, tamu tidak perlu mencari kegunaan baru agar souvenir tersebut terasa bernilai. Pertimbangan ini juga berkaitan dengan pengalaman penerima hadiah. Tentunya barang yang bisa dipakai berulang kali berpotensi terasa lebih bermanfaat daripada benda yang hanya cocok untuk dipajang.
3. Kesadaran soal sampah membuat souvenir sekali pakai kurang menarik

Ilustrasi souvenir pernikahan (unsplash.com/Ricardo Moura) Pertimbangan lingkungan turut memengaruhi cara sebagian orang memilih barang untuk acara. Souvenir yang bisa digunakan berulang kali, memiliki kemasan minim, atau dibuat dari material yang lebih tahan lama sering dianggap lebih sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan. Bukan berarti semua souvenir pajangan otomatis menghasilkan sampah, tetapi barang yang jarang digunakan memang berisiko lebih cepat menjadi barang tidak terpakai.
Dalam studi yang diterbitkan di Journal of Consumer Behaviour pada 2026, Komal Chopra, peneliti dari Symbiosis Institute of Management Studies, bersama timnya meneliti dampak pernikahan bertema keberlanjutan terhadap perilaku belanja ramah lingkungan. Penulis menyimpulkan bahwa paparan terhadap pernikahan berkelanjutan berkaitan dengan niat dan perilaku belanja yang lebih ramah lingkungan.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan yang berkelanjutan berdampak positif terhadap niat dan perilaku jangka panjang konsumen, dengan media sosial dan pengaruh rekan sebaya memainkan peran mediasi yang signifikan," demikian laporannya dikutip dari Wiley Online Library.
4. Souvenir kini ikut menjadi bagian dari konsep pernikahan

ilustrasi souvenir pernikahan (pexels.com/George Chambers) Pernikahan modern sering dirancang dengan konsep visual dan pengalaman yang saling terhubung, mulai dari dekorasi, undangan, meja makan, hingga suvenir. Karena itu, barang fungsional tidak harus tampil biasa saja. Pouch dengan warna sesuai tema, sabun handmade dalam kemasan minimalis, atau sendok kayu dengan ukiran kecil tetap bisa terlihat estetik sekaligus memiliki kegunaan.
Hal tersebut bisa diterapkan pada souvenir dengan cara yang sederhana. Pengantin tidak harus mencetak foto wajah atau nama lengkap secara besar-besaran pada setiap barang. Cukup gunakan inisial, tanggal pernikahan, ilustrasi kecil, warna khas acara, atau kartu ucapan yang personal. Dengan begitu, souvenir tetap terasa sebagai bagian dari pernikahan, tetapi tidak terlalu sulit digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Pajangan belum hilang, tetapi fungsi dan makna semakin dipertimbangkan

ilustrasi souvenir pernikahan paling bermanfaat (pexels.com/Burak Evlivan) Pergeseran menuju souvenir fungsional bukan berarti barang pajangan sudah tidak diminati sama sekali. Souvenir berupa keramik kecil, miniatur, atau hiasan dengan desain khusus masih bisa memiliki nilai sentimental, terutama jika bentuknya berkaitan dengan budaya, lokasi acara, atau kisah pasangan. Bagi sebagian tamu, benda yang indah dan memiliki cerita justru tetap menjadi kenang-kenangan yang berharga.
Goodman dan Lim menemukan bahwa pilihan antara hadiah material dan pengalaman dipengaruhi oleh kedekatan sosial serta seberapa jauh pemberi memahami preferensi penerima. Mereka menulis bahwa pemberi hadiah lebih mungkin memilih pengalaman untuk penerima yang memiliki hubungan sosial dekat, sementara hadiah material dapat dipilih ketika risiko ketidakcocokan perlu dipertimbangkan.
Karena itu, yang berubah bukan semata-mata bentuk souvenir, melainkan cara orang menilai makna sebuah pemberian. Barang yang berguna bisa menjadi pengingat pernikahan melalui rutinitas sehari-hari, sedangkan pajangan bisa menyimpan kenangan melalui bentuk dan tampilannya. Keduanya tetap memiliki tempat, selama dipilih dengan mempertimbangkan kualitas, anggaran, tema acara, dan kemungkinan benar-benar dihargai oleh tamu.
Souvenir pernikahan yang bergeser dari pajangan ke barang fungsional mencerminkan keinginan untuk menghadirkan hadiah yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pertimbangan manfaat, keberlanjutan, personalisasi, dan anggaran membuat pilihan souvenir semakin beragam. Pada akhirnya, souvenir yang berkesan bukan hanya yang terlihat cantik saat diberikan, tetapi juga yang memiliki alasan untuk tetap disimpan, digunakan, atau dikenang oleh penerimanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























