Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kesalahan Afiliator Pemula yang Bikin Penjualan Zonk

5 min read
6 Kesalahan Afiliator Pemula yang Bikin Penjualan Zonk
ilustrasi digital advertising (pexels.com/Cedric Fauntleroy)
  • Afiliator pemula disarankan membangun pengikut organik, bukan membeli follower yang belum tentu aktif atau berpotensi menjadi pelanggan.
  • Promosi perlu disertai penjelasan produk yang jelas dan respons komentar yang profesional, bukan sekadar menyebarkan tautan tanpa informasi.
  • Jangkauan penjualan dapat terhambat oleh spam link di komentar, akun privat, serta penggunaan hashtag tidak relevan dengan produk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Salah satu pilihan pekerjaan yang menjanjikan untuk menambah penghasilan saat ini adalah menjadi afiliator marketplace. Pekerjaan ini sangat berpotensi cuan karena sekarang hampir semua orang memiliki media sosial. Dengan kamu mengiklankan produk di medsos, begitu banyak orang bisa melihatnya.

Mereka amat mungkin tertarik membeli, apalagi jika produk yang ditawarkan bagus dan sesuai dengan kebutuhan. Afiliator juga tak perlu menstok barang di rumah sehingga kemungkinan rugi nol. Kalau pekerjaan ini diseriusi, bahkan dapat menghasilkan lebih banyak uang daripada gaji dari pekerjaan utamamu.

Namun, afiliator pemula kerap mengeluhkan bahwa tidak ada orang yang membeli produk yang dipromosikan, sekalipun sudah menyebarkan link. Tak jarang mereka juga menduga penyebabnya adalah kamera smartphone yang kurang bagus untuk menghasilkan konten. Itu bisa berpengaruh, tapi sebenarnya ada enam kesalahan afiliator pemula yang bikin penjualan zonk dan hal ini lebih fatal.

  1. 1. Gak sabar mengumpulkan follower organik

    mempromosikan pakaian
    ilustrasi mempromosikan pakaian (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Siapa nih, afiliator pemula yang tergoda membeli follower seharga puluhan ribu rupiah untuk sekian akun? Sayang sekali kamu sampai harus mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan pengikut. Memang tidak gampang bagi akun afiliator baru untuk memperoleh pengikut secara organik.

    Namun, hasil dari kamu punya pengikut organik dengan sekadar beli follower sangat berbeda. Dirimu gak tahu akun-akun pengikut yang dibeli betul-betul ada orangnya dan aktif bertransaksi di marketplace atau cuma buatan sistem. Sayangnya, sering kali akun-akun itu bodong.

    Kamu merasa punya ribuan pengikut pun tetap tak menjamin produkmu laku. Lain dengan follower organik yang mengikuti akunmu karena sungguh-sungguh tertarik dengan unggahan-unggahanmu. Kemungkinan mereka berbelanja bahkan menjadi pelanggan yang sangat besar.

  2. 2. Cuma menyebarkan link tanpa menjelaskan produknya

    menggunakan smartphone
    ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Pekerjaan sebagai afiliator marketplace sering sekali disederhanakan sebagai aktivitas menyebarkan tautan produk. Mungkin kamu kerap mendengar atau membaca kalimat cukup sebar link saja bisa cuan. Faktanya, mempromosikan dagangan apa pun tidak segampang itu.

    Agar orang tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan, foto atau video produk saja tak cukup. Apalagi kamu cuma membagikan sepotong tautan. Dirimu harus meluangkan waktu untuk mempelajari produk tersebut.

    Tidak perlu kamu tahu sampai detail sekali, tapi minimal bisa mendeskripsikannya dalam setiap unggahan. Seperti nama produk, fungsi, spesifikasi, harga, daerah pengiriman, keunggulannya, dan sebagainya. Dengan demikian, orang tahu gambaran produk yang ditawarkan. Memang butuh effort lebih kalau kamu ingin hasil yang maksimal.

  3. 3. Sebar link di kolom komentar postingan orang

    menggunakan smartphone
    ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/SHVETS production)

    Sebagai pengguna media sosial, barangkali kamu sudah sering melihat para afiliator menyebarkan link produk masing-masing di kolom komentar unggahan siapa pun. Padahal, pembuat postingan tidak sengaja memberikan kesempatan buat para afiliator titip link produk. Ini membuat komentar tidak sesuai dengan unggahan.

    Tindakan main sebar link di postingan orang begini jelas sangat mengganggu pemilik akun. Kalau mereka kesal, malah akunmu bisa diblokir. Semakin banyak pengguna medsos yang memblokir akunmu, semakin menyempit jangkauan unggahanmu.

    Lagi pula, sangat kecil kemungkinan ada orang yang tiba-tiba mau beli produk hanya karena melihat link-link produk yang tidak pada tempatnya seperti di atas. Jangan membuat usahamu menawarkan produk terkesan negatif serta tidak etis. Bangun sendiri lapak jualanmu di medsos dan fokuslah mempromosikan produk di situ. Ibarat kamu membuka toko, alamat tokomu menjadi jelas.

  4. 4. Gak balas komentar atau cara membalas tidak profesional

    menggunakan smartphone
    ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/SHVETS production)

    Ketika kamu mengiklankan berbagai produk di media sosial, artinya kamu juga harus siap membalas berbagai komentar. Apalagi komentar seputar produk itu. Walaupun orang yang bertanya-tanya tentang produk belum tentu membeli, respons yang tepat meningkatkan peluang tersebut.

    Jangan sampai dirimu cuma mau membalasnya ketika suasana hatimu lagi bagus. Afiliator harus profesional seperti admin media sosial pada umumnya. Terkadang orang berkomentar di kontenmu juga untuk mengecek.

    Kira-kira dirimu serius berjualan atau gak? Cara menjawab pertanyaan pun mesti baik. Misalnya, orang menanyakan harga produk. Dari link yang disematkan, sebenarnya juga sudah terlihat harganya.

    Namun, jangan pernah kamu menjawab, "Itu, kan, sudah kelihatan harganya," atau "Klik link saja biar tahu harganya." Tetaplah fokus menjawab sesuai pertanyaannya. Baru kamu kembali mengarahkannya untuk klik tautan guna mengetahui informasi produk selengkapnya serta pemesanan.

  5. 5. Akun privat

    menggunakan smartphone
    ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Akun privat tidak cocok untukmu berjualan. Media sosial sebetulnya memiliki jangkauan yang sangat luas. Ibaratnya, semua orang di dunia ini bisa tahu unggahan-unggahanmu. Dengan catatan, kamu tidak mengaturnya dalam mode privat.

    Sekalipun pengikutmu sudah lumayan, kalau postingan dalam mode privat, maka dirimu tidak bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Sebaliknya, sekalipun akunmu masih 0 follower atau pengikutnya gak sampai 10 akun, kalau modenya publik, maka jangkauannya sangat luas. Postinganmu dapat dilihat oleh siapa pun.

    Termasuk akun-akun yang tidak berteman denganmu. Ingat, kamu berjualan offline saja, orang-orang di sekitarmu belum tentu membelinya. Maka jangan menggantungkan nasib hanya pada pengikutmu. Gunakan prinsip seisi dunia harus tahu produk yang diiklankan olehmu.

  6. 6. Hashtag gak relevan dengan produk

    melihat smartphone
    ilustrasi melihat smartphone (pexels.com/Brett Sayles)

    Banyak sekali postingan di media sosial yang diberi tagar #fyp, #viral, #trending, bahkan #fyppppp. Tidak terkecuali unggahan produk afiliator pemula. Seolah-olah hashtag itu akan memudahkan produk yang diiklankan menjadi terkenal serta dipesan oleh banyak orang.

    Namun, semua tagar itu gak relevan dengan produk yang ditawarkan. Fungsi pemberian tagar ialah sebagai tanda pengenal atau identifikasi unggahanmu tentang apa. Kalau tanda pengenalnya salah, bagaimana produkmu bisa ditemukan orang?

    Contoh, dirimu mempromosikan produk sampo, tapi hashtag-nya #fyp atau #viral. Tentu tidak ada orang yang sedang mencari rekomendasi sampo dengan mengetik kata "viral" atau "fyp" di kolom pencarian. Tagar yang tepat adalah sampo, shampo, shampoo, berikut merek samponya. Sayang sekali jika dirimu tidak memanfaatkan tagar secara tepat supaya orang mudah menemukan produkmu.

    Tidak ada pekerjaan yang segampang membalik telapak tangan kalau kamu mau hasil yang maksimal. Begitu pula di dunia affiliate, dirimu harus mau belajar dan menunjukkan profesionalitas dalam menawarkan beragam produk. Tugas afiliator bukan sekadar menyebarkan link, tetapi memperkenalkan produk serta membangun kepercayaan konsumen. Oleh sebab itu, hindari enam kesalahan afiliator pemula yang bikin penjualan zonk, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More