Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kesalahan Bermedia Sosial yang Bisa Mengurangi Pahala

4 min read
6 Kesalahan Bermedia Sosial yang Bisa Mengurangi Pahala
ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Los Muertos Crew)
  • Informasi keagamaan di media sosial perlu diverifikasi sebelum dibagikan agar niat menyebarkan kebaikan tidak turut menyebarkan kekeliruan.
  • Pengguna diingatkan menghindari komentar menyakitkan, penyebaran aib, dan ghibah digital karena unggahan serta percakapan daring dapat berdampak luas dan bertahan lama.
  • Berbagi kebaikan perlu menjaga niat, sementara penggunaan media sosial harus dikendalikan agar tidak mengurangi waktu untuk ibadah, belajar, pekerjaan, keluarga, dan istirahat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Media sosial sekarang sudah menjadi bagian dari keseharian. Bangun tidur cek notifikasi, istirahat sebentar buka TikTok, lalu sebelum tidur masih sempat scrolling Instagram atau membaca komentar orang lain. Kelihatannya sepele, tetapi apa yang kamu tulis, bagikan, dan komentari tetap bisa menjadi bagian dari perilaku yang perlu dipertanggungjawabkan.

Apalagi kalau media sosial dipakai untuk membagikan konten keagamaan, mengingatkan orang lain, atau sekadar menyampaikan pendapat. Niat baik memang penting, tetapi cara menyampaikannya juga gak kalah penting. Tanpa sadar, aktivitas yang awalnya ingin membawa kebaikan justru bisa menimbulkan masalah ketika kita gak berhati-hati menjaga lisan dan tulisan di dunia digital.

  1. 1. Membagikan informasi agama tanpa mengecek kebenarannya

    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Karolina Grabowska)
    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Pernah menemukan kutipan agama yang terdengar bagus lalu langsung ingin membagikannya ke story? Hal seperti ini cukup mudah dilakukan karena tinggal menekan tombol share. Masalahnya, gak semua kutipan yang menggunakan nama ulama, hadis, atau ayat tertentu di media sosial benar-benar memiliki sumber yang jelas.

    Keinginan menyebarkan kebaikan sebaiknya tetap disertai kehati-hatian. Kalau kamu belum yakin terhadap sebuah informasi, luangkan waktu untuk mengecek sumbernya terlebih dahulu. Jangan sampai niat ingin mengajak orang berbuat baik justru membuat kamu ikut menyebarkan informasi yang keliru.

  2. 2. Menulis komentar yang menyakiti orang lain

    ilustrasi membuka sosial media (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi membuka sosial media (pexels.com/cottonbro studio)

    Kolom komentar kadang membuat orang lebih berani mengatakan sesuatu yang mungkin gak akan mereka ucapkan secara langsung. Cukup mengetik beberapa kata, lalu komentar tersebut bisa dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang. Candaan yang menurut kamu lucu bisa saja terasa menghina bagi orang yang menerimanya.

    Sebelum menekan tombol kirim, coba baca kembali komentar yang kamu tulis. Apakah isinya benar-benar perlu disampaikan atau hanya mengikuti emosi sesaat? Kalau gak ada manfaatnya, memilih diam justru bisa menjadi pilihan yang lebih aman daripada meninggalkan kalimat yang berpotensi menyakiti orang lain.

  3. 3. Ikut menyebarkan aib atau kesalahan seseorang

    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Plann)
    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Plann)

    Ketika ada seseorang yang sedang viral karena melakukan kesalahan, rasa penasaran biasanya langsung muncul. Kamu mungkin tergoda mencari videonya, membaca komentarnya, bahkan ikut membagikan ulang supaya orang lain tahu. Padahal, menyebarkan sesuatu yang mempermalukan orang lain gak otomatis menjadi tindakan yang benar hanya karena informasinya sudah beredar luas.

    Coba tanyakan kepada diri sendiri sebelum ikut membagikan, 'Apa manfaat orang lain mengetahui hal ini?' Kalau jawabannya hanya karena lucu, penasaran, atau ingin ikut ramai, mungkin konten tersebut gak perlu diteruskan. Dunia maya punya jejak yang panjang, sehingga sesuatu yang kamu bagikan dalam hitungan detik bisa terus beredar jauh lebih lama.

  4. 4. Pamer kebaikan demi mendapatkan pengakuan

    ilustrasi sedang bermain sosial media (pexels.com/Samson Katt)
    ilustrasi sedang bermain sosial media (pexels.com/Samson Katt)

    Berbagi aktivitas positif di media sosial gak selalu berarti pamer. Ada orang yang membagikan pengalaman sedekah, kegiatan sosial, atau aktivitas ibadah karena ingin menginspirasi orang lain. Namun, kamu tetap perlu memperhatikan niat dan cara ketika mengunggahnya.

    Kalau setiap kebaikan mulai terasa kurang lengkap tanpa likes, komentar, atau pujian, coba berhenti sebentar dan mengevaluasi diri. Gak semua amal harus diketahui banyak orang. Ada juga kebaikan yang justru terasa lebih personal ketika hanya kamu dan Allah yang mengetahuinya.

  5. 5. Terlalu mudah ikut ghibah di dunia maya

    ilustrasi seseorang bermain sosial media
    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Tofros.com)

    Ghibah gak hanya terjadi ketika beberapa orang duduk dan membicarakan seseorang secara langsung. Percakapan di grup, komentar, unggahan, atau fitur live juga bisa menjadi tempat seseorang membicarakan keburukan orang lain. Apalagi ketika sebuah isu sedang viral, obrolan bisa berkembang begitu cepat tanpa ada yang merasa sedang melakukan sesuatu yang serius.

    Kalau kamu berada dalam percakapan seperti ini, gak ada salahnya memilih untuk gak ikut menambahkan komentar. Mengalihkan pembicaraan atau berhenti berpartisipasi juga bisa menjadi cara untuk menjaga diri. Ingat, fakta bahwa seseorang sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang gak otomatis membuat kita bebas mengatakan apa saja tentang dirinya.

  6. 6. Menghabiskan waktu berlebihan untuk hal yang gak bermanfaat

    ilustrasi seseorang bermain sosial media
    ilustrasi seseorang bermain sosial media (pexels.com/Brian Ramirez)

    Coba jujur, berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk scrolling setiap hari? Awalnya mungkin cuma lima menit, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu karena kamu terus berpindah dari satu video ke video berikutnya. Kalau kebiasaan ini membuat waktu untuk ibadah, belajar, bekerja, keluarga, atau beristirahat menjadi berkurang, kamu perlu mulai memperhatikannya.

    Media sosial sebenarnya bisa menjadi sarana yang bermanfaat kalau digunakan secara bijak. Kamu bisa belajar, mencari informasi, berdagang, membangun jaringan, atau menyebarkan konten positif. Kuncinya ada pada kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial agar teknologi tetap menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sesuatu yang justru menghabiskan waktu tanpa terasa.

    Media sosial memberi kita kesempatan untuk berbicara kepada banyak orang hanya lewat sebuah layar. Karena itu, setiap unggahan, komentar, dan konten yang kita sebarkan sebaiknya tetap dipikirkan sebelum dipublikasikan. Gak perlu menjadi sempurna, tetapi setidaknya biasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum mengetik atau membagikan sesuatu.

    Mulai sekarang, coba lihat media sosial sebagai bagian dari kehidupan yang juga perlu dijaga adabnya. Kalau sebuah konten bermanfaat, bagikan secara bijak; kalau sebuah komentar hanya akan menyakiti, mungkin lebih baik dilewatkan. Sebab, di dunia digital pun, apa yang keluar dari jari kita tetap mencerminkan bagaimana kita menjaga diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More