“Ini bukan berarti berpura-pura bahwa hal-hal buruk tidak terjadi atau sepenuhnya menghindari berita. Bloomscrolling lebih tentang menciptakan keseimbangan yang lebih sehat sehingga semua yang kamu lihat secara online tidak membuatmu merasa cemas, marah, atau kewalahan," kata Sanam Hafeez, PsyD, ahli neuropsikologi dan direktur Comprehend the Mind, mengutip Real Simple.
Kenali Bloomscrolling, Alternatif yang Lebih Sehat dari Doomscrolling

Kita mendambakan kegembiraan dan hal-hal baru saat menjelajahi media sosial. Setiap kali memperbarui beranda, muncul rasa antisipasi, alias tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa jadi video hewan-hewan lucu atau unggahan dari selebriti reality show.
Namun bagaimana jika media sosialmu dibanjiri konten negatif, di mana kamu berakhir melakukan doomscrolling. Alih-alih sepenuhnya menjauhkan diri dari berita, ada alternatif lain, namanya bloomscrolling, yang mendorong orang untuk memilih dan berinteraksi dengan konten daring yang mendukung kesejahteraan emosional, koneksi, dan inspirasi. So, berikut yang perlu kamu ketahui tentang bloomscrolling!
1. Apa Itu bloomscrolling dan contohnya

Ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Kampus Production) Bloomscrolling merupakan istilah modern yang menggambarkan kebiasaan atau aktivitas menggulir konten digital (scrolling) di era digital. Ini adalah tindakan sadar untuk mencari konten yang membangkitkan semangat, indah, atau menginspirasi, untuk melindungi kedamaian batin, meningkatkan suasana hati, dan menumbuhkan digital wellness.
Kunci dari bloomscrolling adalah memperhatikan bagaimana konten yang kamu konsumsi memengaruhi suasana hati.
Aktivitas bloomscrolling mengembalikan kendali kepada pengguna. Alih-alih merasa tak berdaya melawan tarikan konsumsi media tanpa berpikir, algoritma negatif, dan clickbait yang memicu kemarahan, orang dapat menggulir layar dengan cara yang sadar yang mendukung kesehatan mental bukan merusaknya.
Contoh bloomscroll:
- Menonton video tentang alam atau pemandangan yang menenangkan.
- Ikuti para kreator yang berbagi seni, musik, atau tari.
- Mencari video hewan atau humor ringan.
- Mempelajari keterampilan baru atau menjelajahi konten pendidikan.
- Melihat kisah-kisah tentang komunitas atau kebaikan.
2. Mengapa harus mengganti doomscrolling dengan bloomscrolling?

Ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Anastasia Shuraeva) Bloomscrolling pada dasarnya adalah kebalikan dari doomscrolling, di mana kamu bisa terjebak membaca satu cerita menyedihkan demi cerita menyedihkan lainnya.
Doomscrolling dapat membuat kamu merasa lebih cemas, mudah tersinggung, dan merasa lelah setelah selesai menggunakan ponselmu. Kamu mungkin kesulitan berkonsentrasi atau menghentikan diri dari merenung. Doomscrolling memicu 'lingkaran setan' yang dipicu oleh stres dan kewaspadaan berlebihan.
“Meskipun interaksi nyata di dunia nyata adalah penawar utama kelelahan digital, bloomscrolling adalah kebiasaan yang jauh lebih sehat daripada doomscrolling. Melakukan bloomscrolling dapat menggeser kimia otak ke arah pelepasan oksitosin dan dopamin yang stabil. Hormon-hormon ini dilepaskan sebagai respons terhadap interaksi sosial yang positif," tambah Hafeez.
Selain itu, bloomscrolling dapat membantu membuat hubungan dengan media sosial terasa sedikit lebih seimbang dan tidak terlalu menguras emosi. Alih-alih merasa bersalah karena menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, bloomscrolling memungkinkan kamu untuk memuaskan rasa ingin tahu secara alami tentang dunia, yang membantu membangun empati. Melihat konten positif mengingatkanmu bahwa hal-hal baik terjadi di dunia di samping hal-hal negatif.
3. Tips praktik bloomscrolling

Ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Andrea Piacquadio) Kelola feed media sosial
Gunakan opsi yang ditawarkan oleh platform media sosial untuk mengelola feed. Misalnya, kamu dapat menggunakan tab "tidak tertarik" atau fungsi mute untuk mengurangi postingan yang berbahaya.
Follow konten yang membuatmu berkembang
Temui kreator, pendidik, dan organisasi yang selaras dengan minat dan nilai-nilaimu. Mungkin itu adalah para profesional kesehatan, pengulas buku, seniman, organisasi konservasi, fotografer alam, kreator perjalanan, pendidik keuangan, atau orang-orang yang mengajarkan keterampilan hidup praktis.
Carilah akun untuk diikuti, tetapi juga berinteraksi dengan konten yang meningkatkan suasana hati, sehingga aplikasi media sosial akan memberi kamu lebih banyak konten seperti itu.
Tetapkan tujuan scrolling
Masalah besar doomscrolling adalah biasanya tidak ada tujuan atau akhir yang jelas dari kebiasaan ini. Maka, tetapkan tujuan dan batasan waktu saat menggulir media sosial. Memiliki tujuan dapat membantu mencegah siklus tanpa akhir membuka satu video demi video tanpa memikirkan bagaimana hal itu memengaruhi
"Bagi sebagian orang, bloomscrolling menjadi praktik kesadaran digital (digital mindfulness) yang ringan. Apalagi jika dipadukan dengan refleksi, tujuan, dan kesadaran emosional," ungkap psikolog klinis Mehezabin Dordi, dari Rumah Sakit Sir HN Reliance Foundation, mengutip laman Cosmopolitan.
Seimbangkan inspirasi online dengan kehidupan nyata
Media sosial bisa menjadi sumber ide dan koneksi yang luar biasa, tetapi akan berfungsi paling baik jika melengkapi hidupmu, bukan menggantikannya. Luangkan waktu di alam, bacalah buku, jalan-jalan, cobalah hobi baru, menelepon teman. Semakin kaya kehidupan offline, semakin kecil kemungkinan kamu bergantung pada aktivitas scrolling tanpa henti untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasan.
Itulah beberapa insight mengenai bloomscrolling, sebagai alternatif yang lebih sehat dari doomscrolling. Jadi, kamu termasuk yang sering melakukan bloomscrolling, atau doomscrolling, nih?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























