Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Cinta Presiden Indonesia, dari Soekarno hingga Prabowo
SBY dan Ani Yudhoyono (dok. Wikimedia Commons/Ministry of Defence of Indonesia)
  • Kisah pasangan presiden Indonesia berawal dari beragam pertemuan, seperti pengasingan, perjodohan, sekolah, hingga lingkungan keluarga.

  • Sejumlah istri mendampingi perjalanan karier suami, termasuk saat tugas militer, studi di luar negeri, merintis pekerjaan, hingga menjalankan pemerintahan dan aktivitas politik.

  • Perjalanan rumah tangga mereka mencakup dukungan jangka panjang, wafatnya pasangan, serta perceraian Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto pada 1998, meski hubungan keduanya tetap baik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di balik kehidupan para presiden Indonesia yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab negara, ada kisah pribadi yang menarik untuk disimak. Hubungan mereka dengan pasangan juga melewati berbagai cerita, mulai dari perkenalan sederhana, perjuangan menjalani rumah tangga, hingga menghadapi masa-masa sulit bersama.

Kisah cinta presiden Indonesia pun memiliki cerita yang beragam dan tidak semuanya berjalan dengan cara yang sama. Ada pasangan yang setia mendampingi hingga akhir hayat, ada pula yang harus berpisah setelah bertahun-tahun bersama. Yuk, simak kisah lengkapnya!

1. Kisah cinta Soekarno dan Fatmawati

Soekarno dan Fatmawati (dok. Wikimedia Commons/Perpustakaan Presiden)

Dilansir NKRI Post, kisah cinta Soekarno dan Fatmawati bermula di Bengkulu pada 1938, ketika Soekarno menjalani masa pengasingan. Ia mengenal Fatmawati melalui ayahnya, Hasan Din, tokoh Muhammadiyah yang meminta Soekarno mengajar di salah satu sekolah Muhammadiyah. Saat itu, Fatmawati masih berusia 15 tahun. Setelah mengetahui Fatmawati putus sekolah, Soekarno membantu mencarikan sekolah dan Fatmawati kemudian tinggal di rumah Soekarno agar dapat melanjutkan pendidikan. Kedekatan mereka pun semakin erat hingga Soekarno mulai menaruh hati kepada Fatmawati.

Namun, hubungan tersebut tidak mudah karena Soekarno masih berstatus sebagai suami Inggit Garnasih. Fatmawati tidak ingin dipoligami dan menolak menerima cinta Soekarno selama ia masih bersama Inggit. Setelah sekitar 20 tahun menikah tanpa dikaruniai anak, Soekarno dan Inggit akhirnya berpisah pada 1943. Soekarno dan Fatmawati kemudian menikah pada 1 Juni 1943. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai lima anak, termasuk Megawati Soekarnoputri.

2. Kisah cinta Soeharto dan Tien Soeharto

Soeharto dan Tien Soeharto (dok. Wikimedia Commons)

Hubungan Soeharto dan Siti Hartinah atau Ibu Tien bermula dari perjodohan. Ketika Soeharto berusia 26 tahun, bibinya, Prawiro, menyarankan agar ia menikahi Hartinah, teman sekolah adiknya.

Soeharto sempat ragu karena Hartinah berasal dari keluarga ningrat, sedangkan dirinya berasal dari kalangan biasa. Namun, keraguan itu akhirnya hilang setelah keluarga Hartinah menerima lamarannya. Keduanya menikah pada 26 Desember 1947 di Solo dalam sebuah acara sederhana.

Setelah menikah, kehidupan mereka kerap dipisahkan oleh tugas militer Soeharto. Ibu Tien pun terbiasa menjalani kehidupan mandiri sambil mendukung karier suaminya. Salah satu hal yang kemudian dekat dengan kehidupan mereka adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), proyek yang digagas Ibu Tien dan mendapat dukungan Soeharto meski sempat menuai protes. Ibu Tien meninggal dunia pada 28 April 1996. Setelah kepergian sang istri, Soeharto kerap meminta anak-anaknya mengantarnya ke TMII untuk mengenang Ibu Tien dan mengobati rasa rindunya.

3. Kisah cinta B.J. Habibie dan Ainun

B.J. Habibie dan Ainun (dok. Wikimedia Commons/Office of the Vice President The Republic of Indonesia)

B.J. Habibie dan Hasri Ainun sudah saling mengenal sejak sekolah di Bandung. Rumah keluarga mereka berdekatan dan keduanya bahkan sering dijodoh-jodohkan oleh teman, meski saat itu hanya berteman. Setelah lulus sekolah, mereka menjalani kehidupan masing-masing. Habibie melanjutkan pendidikan ke ITB dan Jerman, sedangkan Ainun kuliah kedokteran di Universitas Indonesia.

Keduanya baru bertemu kembali pada 1962 ketika Habibie pulang ke Indonesia dan berkunjung ke rumah keluarga Ainun. Pertemuan itu menjadi awal tumbuhnya kembali perasaan di antara mereka hingga akhirnya bertunangan pada April 1962 dan menikah pada 12 Mei 1962 di Bandung.

Setelah menikah, Habibie dan Ainun pindah ke Jerman dan memulai kehidupan rumah tangga dengan kondisi sederhana. Ainun menjadi pendamping yang selalu mendukung Habibie ketika membangun kariernya sebagai ilmuwan hingga kembali ke Indonesia. Setelah hampir 48 tahun bersama, Ainun meninggal dunia pada 22 Mei 2010 akibat kanker ovarium. Kepergian sang istri membuat Habibie sangat terpukul dan kemudian menuliskan perjalanan cinta mereka dalam buku Habibie & Ainun. Ketika Habibie meninggal pada 11 September 2019, ia dimakamkan tepat di samping Ainun di TMP Kalibata sesuai keinginannya.

4. Kisah cinta Gus Dur dan Sinta Nuriyah

Gus Dur dan Sinta Nuriyah (dok. Wikimedia Commons/National Library of Indonesia)

Dilansir Historia, kisah cinta Gus Dur dan Shinta Nuriyah bermula ketika Gus Dur masih muda dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, sepak bola, serta film. Belum tertarik menjalin hubungan, pamannya, K.H. Fatah, menyarankan agar Gus Dur menikah sebelum berangkat kuliah ke Kairo. Ia kemudian mengenalkan Gus Dur kepada Shinta Nuriyah, putri seorang pedagang di Jombang. Meski awalnya masih ragu, Shinta mulai tertarik kepada Gus Dur melalui surat-surat yang mereka kirimkan selama Gus Dur berada di Kairo. Hubungan keduanya semakin dekat hingga Gus Dur akhirnya memutuskan untuk meminang Shinta.

Pernikahan mereka berlangsung unik karena Gus Dur masih berada di Baghdad dan tidak dapat pulang ke Indonesia. Pada 1968, Gus Dur dan Shinta menikah dengan Kiai Bisri Syansuri, kakek Gus Dur, yang mewakilinya sebagai pengantin pria. Keduanya kemudian menjalani hubungan jarak jauh hingga Gus Dur pulang ke Jawa pada 1971 dan mereka menggelar resepsi pernikahan. Setelah itu, Shinta menjadi pendamping Gus Dur dalam menjalani kehidupan keluarga maupun berbagai aktivitasnya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat putri.

5. Kisah cinta Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas

Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas (dok. Wikimedia Commons/National Library of Indonesia)

Pertemuan Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas terjadi pada awal 1971 setelah keduanya dikenalkan oleh Guntur Soekarnoputra. Mengutip buku Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam: 70 Tahun Taufiq Kiemas, Taufiq saat itu bersama Guntur dan sejumlah sahabat baru saja berziarah ke makam Bung Karno di Blitar sebelum mampir ke kompleks perumahan AURI di Madiun, tempat Megawati tinggal. Pertemuan tersebut menjadi awal kedekatan keduanya. Tak membutuhkan waktu lama, hubungan mereka berkembang menjadi asmara dan berujung pada pernikahan pada Maret 1973 di Panti Perwira, Jakarta Pusat.

Megawati memasuki pernikahan tersebut dengan dua putra dari pernikahan sebelumnya, Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda. Taufiq menerima keduanya dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Setahun kemudian, pasangan ini dikaruniai seorang putri, Puan Maharani. Kehidupan rumah tangga mereka juga tidak terlepas dari situasi politik karena Taufiq merupakan seorang Soekarnois dan mantan tahanan politik, sedangkan Megawati adalah putri Bung Karno.

6. Kisah cinta SBY dan Ani Yudhoyono

SBY dan Ani Yudhoyono (dok. Wikimedia Commons/Ministry of Defence of Indonesia)

Pertemuan SBY dan Ani Yudhoyono bermula ketika SBY masih menjadi taruna Akabri. Dalam buku SBY, Sang Demokrat terbitan Dharmapena Publishing, SBY menceritakan pertemuan pertama mereka ketika ia harus melapor kepada ayah Ani, Sarwo Edhie Wibowo, di Magelang. Ani yang sedang berlibur di sana menarik perhatian SBY. Sejak itu, SBY kerap menyempatkan diri datang ke rumah dinas gubernur saat waktu pesiar dengan harapan bisa bertemu Ani.

Hubungan mereka kemudian melewati masa jarak jauh. Ani sempat mengikuti ayahnya bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Korea Selatan, sedangkan SBY melanjutkan pendidikan militer di Amerika Serikat. Keduanya bertunangan pada Februari 1974 dan menikah pada 30 Juli 1976 di Hotel Indonesia. Pernikahan tersebut digelar bersamaan dengan dua saudara Ani. SBY dan Ani kemudian menjalani kehidupan rumah tangga selama puluhan tahun hingga Ani meninggal dunia pada 2019.

7. Kisah cinta Joko Widodo dan Iriana

Joko Widodo dan Iriana (dok. Wikimedia Commons/Government of Indonesia)

Jauh sebelum Joko Widodo atau Jokowi menjadi presiden, kisah cintanya dengan Iriana sudah dimulai sejak mereka masih muda. Saat Jokowi menjadi mahasiswa semester III Universitas Gadjah Mada, Iriana masih duduk di kelas III SMA dan sering berkunjung ke rumah Jokowi karena berteman dengan adiknya. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Jokowi mulai tertarik pada kesederhanaan Iriana, sementara Iriana juga menyukai sosok Jokowi yang pintar dan pendiam. Setelah berpacaran selama sekitar empat tahun, keduanya menikah di Solo pada 24 Desember 1986.

Kehidupan rumah tangga Jokowi dan Iriana kemudian diwarnai berbagai perjuangan. Setelah menikah, Jokowi memboyong Iriana ke Aceh untuk bekerja dan mereka sempat tinggal di rumah panggung sederhana selama sekitar tiga tahun. Di sana, anak pertama mereka, Gibran Rakabuming Raka, lahir. Setelah kembali ke Solo, keluarga mereka terus berkembang hingga dikaruniai tiga anak, Gibran, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep. Iriana juga setia mendampingi Jokowi ketika menjadi pengusaha, Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI selama dua periode.

8. Kisah cinta Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto

Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto (dok. Gerindra)

Hubungan Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto bermula dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Titiek merupakan salah satu murid Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo. Dari kedekatan tersebut, Prabowo dan Titiek kemudian saling mengenal dan menjalin hubungan.

Sumitro yang mengetahui kedekatan keduanya juga berpesan kepada Prabowo agar menjalani hubungan tersebut dengan serius. Keduanya akhirnya menikah pada Mei 1983 dan dikaruniai seorang putra, Ragowo Hediprasetyo atau Didit Prabowo.

Setelah sekitar 15 tahun membina rumah tangga, Prabowo dan Titiek bercerai pada Mei 1998 di tengah situasi politik Indonesia yang sedang bergejolak. Berbagai spekulasi mengenai penyebab perceraian sempat beredar, termasuk isu yang berkaitan dengan hubungan Prabowo dan keluarga Soeharto, tetapi penyebab pastinya tidak pernah dipastikan.

Meski telah berpisah, hubungan keduanya tetap terjalin baik. Prabowo dan Titiek bahkan masih beberapa kali tampil bersama dalam berbagai kesempatan.

Dari pertemuan sederhana hingga melewati berbagai ujian kehidupan, kisah cinta presiden Indonesia membuktikan bahwa setiap pasangan punya perjalanan yang berbeda. Mana yang paling berkesan menurutmu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article