Menurut Diana Mutz dari University of Pennsylvania dalam penelitiannya, “Respons fisiologis tubuh meningkat tajam ketika kita menyaksikan konflik yang intens. Respons tersebut berkaitan erat dengan tingkat perhatian kita,” dikutip dari Psychology Today.
Konflik Orang Asing Jadi Tontonan, Kenapa Kita Ikut Penasaran?

- Konflik orang asing menarik perhatian karena otak merespons situasi menegangkan dan tak terduga dengan peningkatan fokus fisiologis.
- Penonton terdorong menilai siapa yang benar atau salah dengan mengamati kata-kata, nada bicara, ekspresi, serta membaca opini di kolom komentar.
- Konflik yang berakhir tanpa penyelesaian memicu ketidakpastian, sehingga penonton mencari kelanjutan cerita atau video bagian berikutnya.
Kamu sedang asyik scrolling TikTok, hingga satu video muncul dan membuat jempolmu berhenti bergerak. Dua orang yang tidak kamu kenal terlihat beradu argumen di sebuah restoran. Suara mereka meninggi, orang-orang di sekitar mulai memperhatikan, sementara beberapa orang merekam kejadian itu dari kejauhan.
Awalnya, kamu cuma berniat menonton beberapa detik saja. Namun ketika salah satu dari mereka mulai menjelaskan duduk perkaranya, kamu justru semakin penasaran. “Siapa sih yang sebenarnya salah?”, pikirmu. Tanpa sadar, kamu sudah menonton video tersebut sampai habis, bahkan membuka kolom komentar untuk mencari tahu pendapat orang lain. Padahal, kamu tidak mengenal siapa pun yang terlibat dalam konflik di video tersebut.
1. Otak lebih cepat menangkap situasi yang menegangkan

ilustrasi konflik (pexels.com/Gustavo Fring) Perbedaan sikap terlihat ketika kamu sedang scrolling video di layar ponselmu. Video pertama memperlihatkan dua orang sedang mengobrol santai di kafe, sedangkan video kedua menampilkan seseorang yang tiba-tiba membentak orang lain di sebuah bus. Pada video kedua ini, tiba-tiba kamu jadi lebih lama menonton videonya.
Situasi yang penuh ketegangan pada video tersebut cenderung lebih mudah menarik perhatianmu karena mengandung sesuatu yang tidak terduga. Ketika kamu melihat orang tersebut bertengkar, kamu mungkin langsung bertanya-tanya apa yang terjadi, bagaimana konflik itu bermula, dan apakah situasinya akan semakin buruk. Ada banyak hal yang belum kamu ketahui, sehingga kamu terdorong untuk terus memperhatikan.
2. Ingin tahu siapa yang benar dan siapa yang salah

ilustrasi konflik (pexels.com/Yan Krukau) Dalam sebuah video, terlihat seorang pelanggan memarahi pegawai toko. Pada awalnya, kamu mungkin langsung menganggap pelanggan tersebut keterlaluan. Namun setelah menonton bagian lain yang memperlihatkan kejadian sebelumnya, penilaianmu bisa berubah. Kamu memperhatikan pilihan kata mereka, nada bicara, sampai ekspresi wajah yang muncul ketika salah satu pihak memberikan penjelasan.
Lalu, kamu beralih membaca kolom komentar. Ada yang menyalahkan satu pihak, ada pula yang merasa pihak lainnya yang justru memancing keributan. Kamu tanpa sadar mulai menyusun penilaianmu sendiri. Mungkin kamu tidak berniat mengubah apa pun yang terjadi diantara kedua orang tersebut. Namun, kamu tetap ingin tahu siapa yang benar dan yang salah.
3. Kita ingin mengetahui kelanjutan konflik yang belum selesai

ilustrasi konflik (pexels.com/Keira Burton) Kamu fokus memperhatikan video yang memperlihatkan kedua orang mulai saling membalas argumen. Tiba-tiba video tersebut berakhir, tanpa kamu tahu bagaimana penyelesaiannya. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang akhirnya pergi atau bagaimana masalah mereka diselesaikan. Kamu pun membuka kolom komentar, berharap seseorang mengetahui kelanjutannya. Niatnya cuma menonton sebentar, tetapi sekarang kamu justru sibuk mencari bagian kedua dari konflik yang bahkan tidak melibatkanmu.
Dalam artikel Psychology Today, Shahram Heshmat, Ph.D., profesor di University of Illinois, menjelaskan bahwa ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dapat menciptakan ketegangan. Ketika akhir sebuah konflik belum terlihat, kamu terdorong untuk terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Barangkali kamu berharap video berikutnya bisa menjawab pertanyaan yang tertinggal. Kamu pun semakin sulit untuk tidak menggulir layar ketika cerita yang kamu tonton belum menemukan akhirnya.
Jempolmu kembali menggulir layar ponsel melewati video pertengkaran tadi. Beberapa menit kemudian, kamu bahkan sudah lupa wajah dua orang yang sempat membuatmu berhenti scroll. Namun selama beberapa detik tadi, konflik kedua orang asing itu berhasil mencuri perhatianmu. Kamu tidak mengenal mereka, tidak tahu bagaimana cerita mereka berakhir, dan mungkin tidak akan pernah mengetahuinya. Lalu ketika video serupa muncul lagi di beranda, kamu berhenti sekali lagi, seolah ada bagian dari dirimu yang masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.























