ilustrasi konflik (pexels.com/Keira Burton)
Kamu fokus memperhatikan video yang memperlihatkan kedua orang mulai saling membalas argumen. Tiba-tiba video tersebut berakhir, tanpa kamu tahu bagaimana penyelesaiannya. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang akhirnya pergi atau bagaimana masalah mereka diselesaikan. Kamu pun membuka kolom komentar, berharap seseorang mengetahui kelanjutannya. Niatnya cuma menonton sebentar, tetapi sekarang kamu justru sibuk mencari bagian kedua dari konflik yang bahkan tidak melibatkanmu.
Dalam artikel Psychology Today, Shahram Heshmat, Ph.D., profesor di University of Illinois, menjelaskan bahwa ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dapat menciptakan ketegangan. Ketika akhir sebuah konflik belum terlihat, kamu terdorong untuk terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Barangkali kamu berharap video berikutnya bisa menjawab pertanyaan yang tertinggal. Kamu pun semakin sulit untuk tidak menggulir layar ketika cerita yang kamu tonton belum menemukan akhirnya.
Jempolmu kembali menggulir layar ponsel melewati video pertengkaran tadi. Beberapa menit kemudian, kamu bahkan sudah lupa wajah dua orang yang sempat membuatmu berhenti scroll. Namun selama beberapa detik tadi, konflik kedua orang asing itu berhasil mencuri perhatianmu. Kamu tidak mengenal mereka, tidak tahu bagaimana cerita mereka berakhir, dan mungkin tidak akan pernah mengetahuinya. Lalu ketika video serupa muncul lagi di beranda, kamu berhenti sekali lagi, seolah ada bagian dari dirimu yang masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.