Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Konten Self-Improvement Bisa Bikin Orang Muak?
ilustrasi konten kreator (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Konten self-improvement yang memuat terlalu banyak saran sekaligus dapat membuat audiens kehilangan fokus dan merasa lelah, alih-alih terbantu menyelesaikan masalah yang dicari.
  • Dorongan untuk terus lebih produktif, sehat, dan sukses bisa membuat kehidupan terasa selalu kurang; pencapaian orang lain pun berpotensi memicu rasa minder atau tertinggal.
  • Nasihat singkat sering sulit diterapkan karena kondisi tiap orang berbeda dan masalah tidak selalu punya solusi seragam; audiens dapat memilih satu saran yang paling dibutuhkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konten self-improvement semakin mudah ditemukan di media sosial. Isinya beragam, mulai dari cara mengatur waktu, membangun kebiasaan baik, sampai tips agar lebih produktif. Meski begitu, semakin sering melihat konten seperti ini, sebagian orang justru merasa jenuh dan tidak lagi tertarik mengikuti sarannya.

Padahal, tujuan awal dibuatnya konten self-improvement adalah untuk memberikan edukasi yang positif. Seakan konten dengan tema tersebut telah bergeser fungsi. Kira-kira, kenapa konten self-improvement bisa bikin orang muak?

1. Terlalu banyak saran dalam satu konten

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Anna Shvets)

Satu konten self-improvement bisa berisi banyak saran sekaligus. Baru membahas cara mengatur waktu, pembahasannya sudah melebar ke olahraga, makanan, pekerjaan, sampai ke kebiasaan sebelum tidur. Kalau terlalu banyak hal dibahas dalam satu waktu, orang justru bisa kehilangan fokus pada masalah yang awalnya ingin mereka cari solusinya.

Hal seperti ini cukup sering ditemukan di konten yang ingin membahas “cara memperbaiki hidup”. Satu masalah seolah tidak pernah cukup sehingga selalu ada hal lain yang ikut disarankan. Lama-lama, melihat konten seperti ini bukan lagi terasa membantu, tetapi malah bikin capek.

2. Hidup seolah harus terus diperbaiki

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ron Lach)

Ada konten yang membuat kehidupan sehari-hari terlihat seperti sesuatu yang selalu kurang. Belum cukup rajin, harus lebih produktif; belum cukup sehat, harus mulai olahraga; belum punya tabungan, harus segera belajar mengatur uang. Akibatnya, orang bisa merasa selalu punya sesuatu yang harus diperbaiki.

Padahal, tidak semua hal dalam hidup harus berubah dalam waktu yang sama. Ada masa ketika seseorang sedang fokus bekerja, ada saatnya ingin menghemat pengeluaran, dan ada juga waktu ketika istirahat memang lebih dibutuhkan. Kalau setiap kekurangan terus dijadikan bahan untuk membuat konten baru, orang bisa bosan mendengar bahwa dirinya masih belum cukup baik.

3. Nasihat yang diberi kadang sulit dipraktikkan

ilustrasi memberi nasihat (pexels.com/SHVETS production)

Beberapa masalah memang terdengar sederhana ketika dibahas di media sosial. Misalnya, seseorang disarankan untuk lebih disiplin, berhenti menunda pekerjaan, atau mulai menabung. Masalahnya, menjalankan saran tersebut tidak selalu semudah mengucapkannya di depan kamera.

Orang yang menunda pekerjaan belum tentu tidak tahu cara mengatur waktu. Begitu juga, orang yang belum bisa menabung belum tentu tidak tahu bahwa pengeluaran perlu dikurangi. Ketika masalah yang berbeda-beda terus dijawab dengan nasihat yang sama, konten self-improvement bisa terdengar seperti mengulang hal yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang.

4. Melihat pencapaian orang lain bisa bikin minder

ilustrasi pencapaian (pexels.com/Anna Shvets)

Konten self-improvement sering memperlihatkan perubahan yang sudah berhasil dicapai seseorang. Ada yang menunjukkan bahwa kariernya berkembang, tabungannya bertambah, tubuhnya berubah, atau hidupnya menjadi lebih teratur. Melihat hal tersebut berulang kali bisa membuat orang mulai memperhatikan apa yang belum mereka punya.

Masalahnya, setiap orang memulai dari keadaan yang berbeda. Orang yang sedang melihat konten tersebut mungkin baru bekerja, sedang mencari pekerjaan, punya penghasilan terbatas, atau punya kebutuhan lain yang harus didahulukan. Kalau setiap pencapaian orang lain dijadikan ukuran untuk diri sendiri, konten yang awalnya ingin memberi semangat justru bisa membuat seseorang merasa tertinggal.

5. Seolah semua masalah punya solusi yang sama

ilustrasi masalah (pexels.com/El Jundi)

Konten self-improvement kadang membuat persoalan hidup terlihat gampang diselesaikan. Sedang tidak betah bekerja, disarankan mencari pekerjaan baru. Sulit mengatur uang, disuruh membuat anggaran. Merasa tidak percaya diri, diminta untuk mulai belajar mencintai diri sendiri.

Inilah yang membuat konten self-improvement bisa bikin orang muak. Sebab, masalah seseorang tidak selalu bisa selesai hanya dengan satu langkah sederhana. Ada orang yang tahu harus mengatur keuangan, tetapi penghasilannya memang belum cukup. Ada juga yang ingin pindah pekerjaan, tetapi belum bisa meninggalkan pekerjaannya sekarang. Ketika persoalan seperti itu terus dijawab dengan tips singkat, orang bisa merasa pembahasannya tidak benar-benar relate dengan masalah yang mereka alami.

Konten self-improvement memang bisa berguna, tetapi tidak semua sarannya harus diikuti. Kadang, kita hanya perlu mengambil satu hal yang memang sedang dibutuhkan dan langsung mencobanya. Selebihnya, tidak masalah kalau hidup tidak selalu terlihat produktif seperti yang ada di media sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article