Orang superkaya sekalipun tidak selalu bergaya hidup mewah. Sebaliknya, orang yang gak kaya bahkan belum bekerja dan menghasilkan uang sendiri bisa suka bermewah-mewah. Termasuk mahasiswa. Dari mana uangnya? Beberapa mahasiswa mungkin sudah bekerja dan punya pemasukan lumayan besar. Sebagian lagi karena orangtuanya kaya atau malah mereka terjebak pinjol. Pokoknya, demi gaya hidup atau lifestyle mewah, apa pun dilakukan.
Pentingnya Jaga Lifestyle saat Kuliah, Tak Usah Bermewah-mewah

- Mahasiswa diimbau hidup sederhana agar dana kos dan kuliah tidak habis untuk gaya hidup, yang berisiko mengganggu tempat tinggal serta kelanjutan pendidikan.
- Gaya hidup mewah dapat membentuk pertemanan eksklusif, membatasi pergaulan lintas latar belakang, dan berpotensi terbawa hingga bekerja sehingga penghasilan sulit menjadi aset.
- Ketergantungan pada kemewahan bisa memicu masalah saat uang saku dihentikan, mengurangi peluang kerja, serta mengalihkan fokus dari kuliah dan pencapaian akademik.
Jika kamu juga mendapati fenomena gaya hidup mewah membelit teman-temanmu di kampus, jangan mengikutinya. Tetaplah hidup sederhana dan menjadi diri sendiri. Bergaya hidup mewah selama dirimu kuliah gak penting. Kamu harus bisa menjaga diri dari pengaruh circle yang kurang baik. Ini penjelasan mengenai pentingnya jaga lifestyle saat kuliah.
1. Jangan sampai uang kos dan kuliah habis buat bergaya

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Florencia Pérez) Kalau kamu ngekos, uang kos mungkin dikirim orangtua ke rekeningmu. Dirimu yang akan membayarkannya ke pemilik kos secara berkala. Makin gede uang kosmu, memang makin terlihat menggiurkan.
Rasanya kamu menjadi ingin memakainya buat keperluan lain, seperti bersenang-senang. Akan tetapi, bila uang kos sampai terpakai untuk hal-hal yang tidak utama dan mustahil dikembalikan, bagaimana nasibmu? Pemilik kos tak bakal terus menoleransi keterlambatan pembayaran.
Peminat kosnya banyak. Bisa-bisa kamu diusir tengah malam sekalipun. Begitu pula apabila uang yang seharusnya untuk membiayai kuliah justru ludes untuk gaya hidup. Belum tentu orangtuamu punya lebih banyak uang. Cita-cita menjadi sarjana dapat gagal tercapai.
2. Biar kamu gak terjebak dalam pertemanan yang eksklusif

ilustrasi pertemanan (pexels.com/kandhi bharata) Menjadi mahasiswa sangat menyenangkan. Kampus mempertemukanmu dengan begitu banyak orang berlatar belakang beragam. Ketika dirimu bersekolah, teman-temanmu masih satu kota.
Bila pun ada siswa pindahan dari luar kota, paling cuma 1 atau 2. Sementara kawan kuliah datang dari seluruh penjuru Indonesia. Ini menjadi kesempatan mahal untukmu untuk berteman dengan mereka dan mengetahui budaya masing-masing.
Rugi besar jika dirimu malah mengembangkan pertemanan eksklusif karena gaya hidup bermewah-mewah. Lingkaran pertemananmu menjadi sempit sekali. Otomatis, cara berpikirmu juga gak luas. Apabila kamu lebih low profile, dirimu dapat dengan mudah berkawan dengan siapa pun.
3. Kebiasaan bermewah-mewah terbawa ketika bekerja

ilustrasi wisuda (pexels.com/Tri Warno) Kamu masih berstatus mahasiswa dan belum bekerja saja suka bermewah-mewah pakai duit orangtua. Apalagi nanti setelah dirimu lulus serta bekerja. Kamu makin merasa berhak menggunakan gajimu untuk apa pun.
Itu memang hakmu. Namun, belum tentu gajimu ketika bekerja sebesar uang saku dari orangtua. Sementara orangtua juga gak mungkin selamanya membiayaimu. Artinya, seharusnya dari sekarang dirimu belajar untuk tidak hedon.
Andai pun kamu beruntung begitu bekerja langsung punya penghasilan tinggi, gaya hidup mahal membuatnya percuma. Sebanyak apa pun total uang yang dibawa pulang tiap bulan, akan tetap ludes untuk membiayai lifestyle. Kamu kerja sekian tahun, uangnya tak ada yang berubah menjadi aset.
4. Kalau uang saku distop orangtua, kamu kebingungan

ilustrasi bersama ayah (pexels.com/Muhaimin Abdul Aziz) Orangtuamu baik. Namun, sebaik-baiknya orangtua juga bisa kecewa berat bahkan marah jika tahu gaya hidupmu di luar rumah semewah itu. Sampai uang kos dan kuliah disalahgunakan seperti dalam poin pertama.
Atau, kamu menjerat diri sendiri dengan pinjol dan judol dengan harapan bisa terus hidup mewah. Orangtua dapat mengambil langkah tegas sekaligus menghentikan seluruh uang bulananmu. Mereka masa bodoh dengan nasibmu.
Sebab jika itu tidak dilakukan, dirimu seperti tak ada kapoknya. Gak gampang lho, mendadak harus berubah dari biasanya bergaya hidup mewah menjadi sangat sederhana karena orangtua tak lagi kasih duit. Dalam mode bertahan hidup pakai sisa-sisa uang dari bulan sebelumnya, kamu harus berjuang sangat keras buat mencari pekerjaan. Duniamu seketika berjungkir balik.
5. Terlihat glamor ketika mencari kerja kurang menguntungkan

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/SHVETS production) Mungkin kamu berpikir penampilan yang menakjubkan karena busana serba mahal dan riasan ala selebritas yang hendak syuting akan memikat semua orang. Sayangnya, itu gak selalu tepat. Dalam beberapa situasi, malah dapat mengurangi keberuntunganmu saat mencari pekerjaan.
Dari tampilanmu pertama kali memasuki ruang wawancara, misalnya, telah tampak bahwa biaya hidupmu per bulan melampaui UMR. Sementara perusahaan yang dilamar cuma bisa kasih penghasilan setara UMR atau sedikit lebih tinggi. Tanpa mereka bertanya padamu pun, sudah yakin dirimu gak bakal mau digaji segitu.
Pewawancara boleh jadi juga langsung berpikir kamu bakal terlalu banyak menuntut kalau diberi kesempatan bekerja di sana. Berbagai instansi yang merasa tidak bisa mengimbangi standar hidupmu memilih untuk langsung berpaling ke kandidat yang lain saja. Orang yang memenuhi kualifikasi sekaligus terlihat cukup bersahaja.
6. Sibuk mengurus gaya hidup malah tidak fokus kuliah

ilustrasi mengerjakan tugas (pexels.com/C.T. PHAT) Alasan pentingnya jaga lifestyle saat kuliah adalah agar kamu mengingat tujuan utamamu menempuh pendidikan akademik. Apa tujuanmu susah-susah mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi? Pasti karena kamu ingin menjadi seorang insinyur, dokter, akuntan, dan sebagainya sesuai jurusan yang dipilih. Untuk mencapai semua itu, dibutuhkan daya konsentrasi yang tinggi pada perkuliahan.
Bukan malah dirimu terdistraksi oleh gaya hidup mewah. Setiap saat pikiranmu diisi dengan membeli barang branded apa lagi atau nongkrong dan jalan-jalan ke mana yang kira-kira bisa mendongkrak gengsi. Belum lagi memikirkan sumber uangnya, kalau sebetulnya kiriman orangtua tak seberapa.
Semua itu akan sangat mengganggu fokusmu dalam belajar. Kamu masih berangkat kuliah setiap hari, tapi pikiran tak lagi tertuju pada materi yang disampaikan dosen. Nilai setiap mata kuliah tidak maksimal. Meski dirimu berhasil lulus, gelarmu tidak menggambarkan kedalaman ilmu yang dikuasai.
Orang yang sudah bekerja dan punya penghasilan lumayan saja sebaiknya tidak bergaya hidup mewah. Apalagi, dirimu yang masih berstatus mahasiswa serta sepenuhnya bergantung pada uang saku dari orangtua. Sudah seharusnya gaya hidupmu biasa-biasa saja.





















