ilustrasi membuat konten manipulatif demi ekposur (pexels.com/Nathan J Hilton)
Rasa takut tertinggal tren alias fomo ternyata gak cuma rentan dialami oleh penonton, tapi juga sangat menjangkiti para kreator itu sendiri. Saat melihat kompetitor sukses mendulang untung dengan strategi pemasaran yang manipulatif, banyak kreator yang akhirnya ikutan latah meniru hal serupa tanpa pikir panjang. Mereka dihinggapi ketakutan kalau gak ikut bikin konten sensasional yang sedikit memelintir fakta, penonton setia mereka bakal segera beralih ke akun tetangga.
Lambat laun, kebiasaan menormalisasi kebohongan demi mendulang eksposur ini mulai mengikis habis nilai-nilai etika dasar saat kita berkomunikasi di ruang digital. Kamu pasti sering menjumpai fenomena orang bikin ulasan makanan pakai gaya marah-marah seolah keracunan, yang ternyata cuma sekadar gimmick buat dapet perhatian pemilik resto. Tentu saja, ujung-ujungnya netizen yang polos inilah yang menjadi korban utama karena tanpa Memang cukup melelahkan menghadapi realita saat batas antara kebohongan publik dan strategi konten makin kabur di media sosial, tapi kamu memegang kendali penuh, kok. Jangan pernah biarkan layar gawaimu secara sepihak mendikte emosi, kewarasan, dan keputusanmu dalam menjalani rutinitas hidup sehari-hari, ya.