ilustrasi trauma akibat hubungan inses (pexels.com/MART PRODUCTION)
Dalam sebuah penelitian berjudul "Loss, Trauma, and Human Resilience: Have We Underestimated the Human Capacity to Thrive After Extremely Aversive Events?" yang dijelaskan dalam Psychology Today, membuktikan bahwa 2 dari 3 individu memiliki resilience kembali tanpa melakukan intervensi apa pun. Tidak peduli jenis, durasi, atau tingkat keparahan peristiwa yang berpotensi menciptakan trauma, manusia lebih mungkin untuk kembali tangguh karena adanya support system.
Menurut George Bonanno penulis buku The End of Trauma (2024), resiliensi bukan berarti seseorang tidak terdampak oleh trauma, melainkan mampu mempertahankan atau kembali pada fungsi mental yang sehat seiring waktu. Ketahanan ini didorong oleh flexibility mindset atau pola pikir yang fleksibel yang terdiri dari tiga keyakinan yang saling berkaitan, yakni tetap optimis terhadap masa depan, percaya pada kemampuan diri untuk menghadapi kesulitan, serta mampu melihat ancaman sebagai tantangan yang dapat dilalui.
Seseorang yang dapat pulih dari trauma bukan berarti menghapus pengalaman tidak menyenangakn tersebut. Melainkan, memulihkan trauma dengan membangun flexibility mindset yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru yang dihadapi.
George menjelaskan makna resilience, “Pola kesehatan mental yang tetap baik setelah mengalami peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma, atau lebih tepatnya, lintasan fungsi yang sehat dan stabil dari waktu ke waktu".