Comscore Tracker

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!

#IDNTimesLife Normal dilakukan, gak berarti itu benar

Bila sikap seseorang itu jelas-jelas berbahaya, atau merugikan orang lain, tentu akan sangat mudah menghindarinya. Karena sudah jelas, kalau sikap itu gak benar.

Yang jadi masalah, bila perilaku yang selama ini di tengah masyarakat kerap dianggap normal, padahal sebenarnya toksik. Bila gak cermat, bisa-bisa kamu malah ikut-ikutan melakukannya.

Supaya kamu gak ikut-ikutan toksik, kenali beberapa perilaku 'normal' yang ternyata beracun, lho. Pastikan kamu gak bertindak sama, jangan dilanggengkan, ya!

1. Berkomentar buruk di media sosial

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!ilustrasi perempuan bersedih (pexels.com/NEOSiAM 2021)

Bersikap anti kritik itu salah, karena gak semua kritikan itu buruk. Apalagi kalau ada orang yang memberi masukan dengan niat baik, tapi malah dituduh haters. Duh!

Namun, cara mengkritik pun harus benar. Jangan mentang-mentang di dunia maya, kamu bisa berlaku seenaknya. Misalnya saja, berkata kasar atau sampai melecehkan.

Ini umum terjadi pada selebritis atau seseorang yang sedang hits. Karena mereka publik figur, banyak orang merasa berhak untuk berkata apa saja. Toh, mereka memang profesinya artis, jadi sudah risiko jika punya haters.

No! Cara pandang ini toksik banget, lho. Menjadi artis bukan berarti tinggal leha-leha, terus dapat uang. Mereka meraih popularitas pun dengan kerja keras. Jadi, gak benar kalau mereka jadi sasaran ujaran kebencian, akibat profesi yang dijalani.

2. Bergunjing tentang kejelekan orang yang kamu kenal, di belakangnya

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!ilustrasi dua pria (pexels.com/Brett Sayles)

Membicarakan hal-hal buruk mengenai orang yang kamu kenal di belakangnya, itu gak baik, lho. Walaupun sering dilakukan, perbuatan ini bukan berarti benar.

Karena kalau kenal, apalagi dia adalah orang dekat, harusnya kalau berbuat salah, ya, diingatkan, bukan malah digunjingkan. Kalau memang kamu merasa gak enak untuk mengingatkannya, ya sudah, bersabar kuncinya!

3. Membuat orang lain merasa bersalah karena melakukan me time

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!ilustrasi perempuan melakukan me time (pexels.com/RODNAE Productions)

Biasanya yang sering jadi korban sikap toksik ini adalah kaum hawa. Ada ekspektasi di tengah masyarakat, kalau menjadi seorang istri dan ibu itu harus komitmen 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu.

Ketika seorang ibu, melakukan me time, langsung dituduh yang macam-macam. “Ibu yang gak benar”, “gak bertanggung jawab”, “abai terhadap anak-anak”, “gak sayang keluarga”, “egois”, dan berbagai komentar jahat lainnya.

Padahal, seorang ibu itu manusia biasa. Jadi, butuh waktu rehat juga. Dan itu sah-sah aja, kok.

Baca Juga: 5 Alasan Seseorang Enggan Mengunggah Kesehariannya di Media Sosial

4. Bertanya tentang kapan nikah atau sudah hamil atau belum

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!ilustrasi pasangan bersedih (pexels.com/Alex Green)

Perilaku toksik lainnya yang juga umum ditemui di tengah masyarakat, adalah terlalu ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Senang sekali menanyakan “Kapan nikah?”, atau “Kapan menyusul?”. Kalaupun sudah menikah, lanjut lagi dengan pertanyaan, “Sudah punya anak berapa?”, “Kok, nikah udah lama, belum juga punya momongan?."

Kenapa ini menjadi toksik? Karena kamu gak tahu bagaimana proses yang dijalani kehidupan tiap orang. Di balik pertanyaan yang tampak biasa itu, bisa jadi membuatnya merasa sakit hati.

Siapa tahu, kalau ternyata pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun itu, telah lama menginginkan seorang anak, tapi memang Tuhan belum beri. Dan pertanyaanmu itu, seperti pisau yang menyayat hati mereka.

5. Melakukan hal buruk, karena dulunya pernah jadi korban

5 Hal Toksik yang Sering Dianggap Normal, Stop Melanggengkannya!ilustrasi menolak (unsplash.com/Priscilla Du Preez)

Saat pernah terpuruk karena diperlakukan dengan buruk oleh orang lain, sikap yang benar, harusnya kamu gak mau kalau sampai orang lain merasakan hal sama. Bukan malah membalas dendam, dengan cara melakukan hal buruk itu ke orang lain.

Sebagai contoh, saat kecil pernah mengalami perundungan atau bullying. Ketika kamu sudah dewasa, dan punya kuasa, kamu pun melakukan perundungan ke pihak yang kamu anggap lemah. Ketika mendapat reaksi keras dari orang sekitar, jadi playing victim, beralasan kalau dulu kamu pernah diperlakukan seperti itu. Jika demikian cara pandangmu, udah, urusan bullying ini sampai kapan pun gak selesai-selesai, deh. 

Lebih baik, hentikan hal tersebut. Agar ke depannya tak ada lagi korban-korban yang tersiksa, ya. Jadikan itu masa lalu, agar tak ada lagi roda karma yang menyakitkan. 

Sekarang sudah sadar, ya, kalau hal-hal tadi yang sekilas tampak normal, tapi sebenarnya toksik. Jadi, dihindari, bukan malah ikut-ikutan. Kamu pasti bisa!

Baca Juga: 7 Cara Jauhi Toxic Positivity Ketika Teman Sedang Berduka 

L A L A Photo Verified Writer L A L A

I fear not the man who has practiced 10,000 kicks once, but I fear the man who has practiced one kick 10,000 times (Bruce Lee)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya