Makin banyak urusan yang harus dikerjakan, makin terasa kalau gak semuanya perlu dilakukan dengan cara yang paling ribet. Kadang kita memilih pesan makanan daripada masak, naik kendaraan daripada jalan kaki, atau membayar orang untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya masih sanggup kita lakukan sendiri. Bukan karena malas total, tetapi karena ada hal-hal yang rasanya gak sepadan dengan waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan.
Lazymaxxing Jadi Cara Cerdas untuk Atur Waktu dan Tenaga?

- Lazymaxxing dipahami sebagai upaya menyederhanakan tugas berulang, misalnya memakai pembayaran otomatis atau pengingat, agar urusan tetap selesai tanpa menguras waktu.
- Pilihan memakai laundry, pesan makanan, transportasi, atau jasa lain perlu mempertimbangkan waktu dan tenaga, bukan hanya biaya, terutama saat waktu luang terbatas.
- Pendekatan ini juga berarti memprioritaskan hal penting: hindari kerapian semu, kurangi komitmen yang tidak perlu, dan tunda tugas nonmendesak demi istirahat cukup.
Cara berpikir seperti ini belakangan sering disebut lazymaxxing. Istilahnya memang terdengar seperti mencari pembenaran untuk bermalas-malasan, tetapi dalam praktiknya gak selalu begitu, kok. Ngomong-ngomong, kalau dilakukan dengan pertimbangan yang tepat, apakah lazymaxxing justru bisa membantu kita mengatur waktu dan tenaga? Yuk cari tahu sama-sama!
1. Rasa malas bisa membuat kita mencari jalan pintas

ilustrasi pembayaran (pexels.com/Marcial Comeron) Pernah gak kamu harus melakukan hal yang sama berulang kali sampai akhirnya kepikiran, “Kenapa gak dibikin lebih gampang aja?” Misalnya, setiap bulan harus membayar beberapa tagihan secara manual. Buka aplikasi, cari menu pembayaran, masukkan nomor pelanggan, cek nominal, bayar, lalu ulangi lagi untuk tagihan berikutnya. Kalau cuma sekali mungkin gak terasa, tetapi kalau harus dilakukan setiap bulan, lama-lama males juga, kan?
Akhirnya, kamu memilih mengaktifkan auto payment atau membuat pengingat supaya gak perlu mengulang semuanya dari awal. Urusan kamu tetap selesai, tagihan tetap dibayar, tetapi kamu gak perlu meluangkan waktu khusus hanya untuk melakukan hal yang sama berkali-kali. Nah, rasa malas seperti ini justru bisa membuat seseorang menemukan cara yang lebih praktis karena sudah gak tahan kalau harus repot dengan hal yang sama terus-menerus.
2. Waktu dan tenaga juga perlu dihitung

ilustrasi laundry (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Kadang kita terlalu fokus menghitung uang sampai lupa ada hal lain yang ikut keluar ketika mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misalnya, harga laundry terasa mahal dibandingkan dengan mencuci di rumah. Padahal yang sering gak dihitung adalah waktu yang kamu habiskan buat mencuci, menjemur, menunggu kering, melipat, menyetrika, sampai menyusunnya di lemari. Kalau sedang senggang dan memang suka mengurus rumah, tentu gak masalah. Tapi kalau waktu luang kamu cuma sedikit, harga laundry mungkin gak lagi terasa semahal itu.
Hal yang sama berlaku untuk urusan kecil lainnya. Mau beli makan, misalnya, harga bahan makanan mungkin lebih murah daripada pesan lewat aplikasi, tetapi setelah pulang kerja belum tentu kamu masih punya tenaga buat masuk dapur. Begitu juga ketika memilih naik ojek, memakai jasa antar, atau membayar orang untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya sanggup kamu lakukan sendiri. Bukan berarti setiap urusan harus dilempar ke orang lain, cuma memang gak semua hal harus dikerjakan sendiri juga kalau kita memang gak memiliki banyak waktu.
3. Gak harus sempurna kalau tujuannya cuma inigin cepat beres

ilustrasi membersihkan kamar (pexels.com/cottonbro studio) Kalau lagi malas beberes, rasanya pengin semua barang cepat hilang dari pandangan. Baju yang masih bersih dicampur saja dengan yang lain, charger dilempar ke laci, meja yang penuh barang tinggal digeser ke satu sisi. Kamar memang kelihatan lebih rapi, tetapi besok pagi kamu sendiri yang bakal kelimpungan mencari barang yang entah ditaruh di mana.
Hal serupa juga berlaku buat urusan lain yang sebenarnya gak perlu dibuat ribet. Gak harus membereskan kamar sampai kinclong kalau memang cuma punya waktu 10 menit, yang penting barang yang dipakai setiap hari masih gampang dicari. Mau menunda sesuatu juga boleh, kok, kalau sifatnya memang belum mendesak, tetapi jangan sampai karena malas sekarang, besok malah harus menghabiskan waktu lebih banyak buat membereskannya. Toh, kalau tujuan awalnya cuma ingin hidup lebih santai, buat apa malah bikin masalah baru?
4. Kalau gak penting, kenapa harus dilakukan?

ilustrasi menolak ajakan (pexels.com/Budgeron Bach) Ada saja urusan yang sebenarnya bisa dilewatkan karena hasilnya juga gak terlalu berpengaruh. Gak ikut nongkrong setiap kali diajak, gak harus membalas semua pesan saat itu juga, atau gak perlu datang ke semua acara hanya karena merasa gak enak kalau menolak. Kadang kita capek bukan karena satu urusan besar, melainkan karena terlalu banyak hal kecil yang terus diiyakan.
Begitu juga di rumah. Kalau ada barang yang jarang dipakai, buat apa terus dipindah-pindah setiap kali beberes? Kalau ada aplikasi yang gak pernah dibuka, kenapa masih di-install hanya untuk memenuhi layar ponsel? Hal-hal seperti ini memang kelihatannya sepele, tetapi semakin sedikit yang harus dipikirkan dan diurus, semakin sedikit pula tenaga yang terbuang untuk sesuatu yang sebenarnya gak penting-penting amat.
5. Jangan dipaksakan semua selesai hari ini

ilustrasi berantakan (pexels.com/cottonbro studio) Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi masih ada saja yang pengin kamu bereskan. Jemuran belum dilipat, meja kerja masih berantakan, sepatu belum dicuci, belum lagi hal-hal yang sebenarnya bisa dikerjakan besok. Kalau semua tetap dituntaskan malam itu juga, tahu-tahu jam sudah lewat tengah malam dan waktu tidur tinggal sedikit.
Padahal, gak semua pekerjaan rumah harus selesai sebelum tidur. Kalau besok pagi ada presentasi atau pekerjaan yang butuh pikiran jernih, tidur cukup mungkin lebih berguna daripada memaksakan diri untuk menyelesaikan semua hal malam itu. Besok pulang kerja masih bisa diurus.
Lazymaxxing memang terdengar seperti membenarkan rasa malas. Padahal, kadang kita cuma sedang mencari cara supaya gak menghabiskan waktu dan tenaga untuk urusan yang sebenarnya bisa dibuat lebih gampang. Kalau kamu sendiri, setelah membaca ini, kebiasaan apa yang ternyata selama ini bisa dibuat lebih simpel?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Dari Love Language, Seberapa Akrab Hubunganmu dengan Diri Sendiri?](https://image.idntimes.com/post/20250208/love-yourself-beab7a05d394bc9725846ba0664ebe43-8974ac5049088dd23b4fdc945c214ddc.jpg)

![[QUIZ] Pilih Keadaan, Ini Batas Empati Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260709/pexels-mart-production-7699371_570f49dd-45de-4257-8939-7f7fc87f2f84.jpg)


![[QUIZ] Kamu Tipe Tahan Banting atau Perlu Waktu?](https://image.idntimes.com/post/20250531/screenshot-2025-05-31-185403-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-786476ab1d8f15d8942038d9afd86312.png)



![[QUIZ] Dari Warna Favorit, Kamu Tipe Jujur atau Diplomatis?](https://image.idntimes.com/post/20250920/girl_b255f961-225f-4484-9769-6ca360919028.jpg)




![[QUIZ] Dari Tokoh Doraemon, Apa Mimpimu yang Terwujud di Masa Depan?](https://image.idntimes.com/post/20260324/01ker2a6artv77xb64kczmja4c-picsay_5bae9f6a-5d08-4610-a782-1ee38b695169.jpg)
