Makin banyak urusan yang harus dikerjakan, makin terasa kalau gak semuanya perlu dilakukan dengan cara yang paling ribet. Kadang kita memilih pesan makanan daripada masak, naik kendaraan daripada jalan kaki, atau membayar orang untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya masih sanggup kita lakukan sendiri. Bukan karena malas total, tetapi karena ada hal-hal yang rasanya gak sepadan dengan waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan.
Cara berpikir seperti ini belakangan sering disebut lazymaxxing. Istilahnya memang terdengar seperti mencari pembenaran untuk bermalas-malasan, tetapi dalam praktiknya gak selalu begitu, kok. Ngomong-ngomong, kalau dilakukan dengan pertimbangan yang tepat, apakah lazymaxxing justru bisa membantu kita mengatur waktu dan tenaga? Yuk cari tahu sama-sama!
