Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Orang Malah Malu Memakai Pakaian dengan Logo Merek Besar?

Kenapa Orang Malah Malu Memakai Pakaian dengan Logo Merek Besar?
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Reynaldo Yodia)
Intinya Sih
  • Fenomena quiet luxury menggambarkan tren memakai barang mahal tanpa menonjolkan logo merek, fokus pada kenyamanan dan kesederhanaan daripada pencitraan.
  • Banyak orang merasa tidak nyaman memakai pakaian dengan logo besar karena takut jadi pusat perhatian, dikira pamer, atau bahkan ditanya soal kekayaan.
  • Rasa malu juga muncul karena khawatir dianggap tidak pantas, disangka memakai produk palsu, atau dibandingkan dengan orang kaya yang tampil sederhana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

style="text-align: justify;">Pernahkah kamu mendengar istilah quiet luxury? Gampangnya, quiet luxury adalah kemewahan senyap atau kemewahan dalam diam. Seseorang memakai produk-produk yang cukup mahal, tetapi tidak menonjolkan merek secara mencolok.

Ia berfokus pada kenyamanan saat menggunakan produk tersebut dan bukan karena ingin dilihat oleh orang lain. Kalaupun ada logo merek pada outfit-nya, biasanya kecil sekali atau hanya pada label kerah atau sisi samping pakaian. Bukan logo besar yang dari jauh pun sudah kelihatan.

Justru ia mudah merasa malu apabila memakai produk yang mereknya amat terlihat. Mungkin ini mengherankanmu. Bukankah seharusnya dia bangga sebab tidak semua orang bisa membelinya? Orang yang malu memakai pakaian dengan logo merek besar atau terlihat jelas punya alasan di bawah ini.

1. Gak nyaman menjadi pusat perhatian ke mana pun melangkah

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Dany Kurniawan)

Dia hanya menginginkan kebebasan dan ketenangan. Kalau ia mengenakan pakaian dengan logo merek yang terlihat jelas, ia pasti menjadi pusat perhatian di mana pun. Memang tidak semua orang memahami logo merek ternama.

Ada juga orang yang gak memperhatikan hal-hal semacam itu atau tahu, tetapi tidak peduli. Akan tetapi, hari ini makin banyak orang yang mengerti brand-brand terkenal. Jika merek pakaiannya gampang diketahui orang dan menjadi pusat perhatian, dia tidak lagi sebebas dahulu.

Ia dilihat dari atas ke bawah oleh orang lain saja sudah gak nyaman. Rasanya seperti sedang dinilai dari segala sisi. Mending mengenakan pakaian tanpa logo merek yang jelas biar aman dari tatapan orang-orang.

2. Ditanya-tanya soal pakaian, pekerjaan, bahkan kekayaan

merapikan pakaian
ilustrasi merapikan pakaian (pexels.com/Joon Tae Kim)

Cuma gara-gara logo merek pakaian tampak jelas, orang juga bisa kebanjiran pertanyaan bernada kepo. Orang-orang di sekitarnya mungkin memulai obrolan dengan pujian bahwa pakaiannya bagus. Disusul pertanyaan tentang harga serta tempat membelinya.

Gak semua orang nyaman ditanya seperti ini terkait produk yang dipakainya. Ada rasa cemas, jangan-jangan menyebutkan angkanya dengan jujur memunculkan reaksi yang kurang diharapkan. Seperti komentar, "Mahal amat? Mending uangnya buat yang lain."

Tak berhenti sampai di situ. Merek pakaian yang terlalu terekspos juga kadang diikuti dengan pertanyaan seputar pekerjaan dan kekayaan. Orang penasaran bagaimana dia dapat membeli pakaian semahal itu. Bila pekerjaannya terdengar kurang prospektif, mereka malah bisa curiga akan sumber kekayaannya yang sesungguhnya.

3. Jangan-jangan dikira produk KW

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/PNW Production)

Orang pasti kesal bukan main kalau sudah membeli produk mahal, malah dikira memakai barang palsu. Tampaknya orang-orang yang melihat logo merek pada pakaiannya justru kurang percaya. Seakan-akan merek besar sengaja dipilih cuma buat bikin mereka kagum.

Walaupun mereka tidak mengatakannya secara langsung, dibicarakan atau ditertawakan di belakang juga bukan pengalaman yang menyenangkan. Buat mengantisipasi bertemu orang-orang yang kurang paham merek asli dan tiruan, pilihannya hanya dua. Gunakan produk dengan logo merek kecil dan tersembunyi atau sekalian memakai produk tak bermerek ternama.

4. Takut dianggap tidak pantas

pria muda
ilustrasi pria muda (pexels.com/Miff Ibra)

Orang-orang tidak meragukan keaslian produk setelah melihat logo mereknya yang jelas. Akan tetapi, gak semua orang berpendapat dia pantas mengenakannya. Terkadang komentar mereka bahkan bisa sangat menyakitkan.

Misalnya, pakaian mahal tapi wajah kampungan ya akan tetap kampungan. Komentar begini tentu amat menyakitkan dan meruntuhkan kepercayaan diri. Juga sindiran halus seperti menyebutnya bergaya bak eksekutif muda.

Meski sekilas seperti candaan, kalimat tersebut bikin orang merasa dirinya sedang dinilai gak pantas. Baik tak pantas memakai pakaian bermerek tersebut maupun menjadi seorang eksekutif muda. Padahal, sebenarnya tidak penting statusnya eksekutif muda atau bukan. Sah-sah saja siapa pun yang punya uang membeli serta memakainya. Bahkan jika pakaian itu hadiah dari orang lain juga tak jadi soal.

5. Malu pada orang yang lebih kaya dan terlihat sederhana

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Heru Dharma)

Apabila sosok yang kaya tapi penampilannya sederhana cuma dilihat dari televisi atau media sosial, barangkali gak berpengaruh terlalu besar. Beda dengan seandainya orang yang seperti itu benar-benar ada di sekitarnya. Misalnya, bosnya sangat sukses mendirikan dan membesarkan perusahaan.

Namun, penampilannya malah sangat sederhana. Entah pakaiannya bermerek ternama atau tidak, yang jelas tak tampak logonya. Gak cuma soal pakaian. Kendaraan, gawai, hingga cara bicara dan tingkah lakunya pun sederhana.

Ini membuatnya seperti ditampar. Masa dia yang dari segi finansial gak ada apa-apanya mau mengenakan pakaian yang menonjolkan logo merek? Rasanya malah malu sendiri.

Malu memakai pakaian dengan logo merek besar yang mencolok menandakan seseorang kurang suka menjadi pusat perhatian. Atau, dia tidak keberatan menjadi pusat perhatian tapi jangan hanya karena apa yang tampak dari luar. Ia lebih suka dihargai karena sifat dan kemampuan dirinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More