Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melihat SMERTI, Koleksi IWAN TIRTA yang Membawa Memori ke Masa Kini

4 min read
Melihat SMERTI, Koleksi IWAN TIRTA yang Membawa Memori ke Masa Kini
SMERTI - Iwan Tirta Runway Collection 2027 (IDN Times/Maura Thirza)

Jakarta, IDN Times - Pada hari Rabu malam (7/10/2026), lampu Gedung Kesenian Jakarta perlahan meredup ketika satu per satu model mulai berjalan di atas runway dan melewati deretan kursi penonton. Motif batik flora dan fauna muncul dalam berbagai warna dan bentuk, dari hijau pekat hingga merah, biru, sampai dengan cokelat. Alunan musik dari band Efek Rumah Kaca seakan menambah kesan magis pada suasana malam itu. Batik tidak hanya hadir sebagai motif yang dikenakan saja. Batik membawa cerita tentang sesuatu yang pernah ada, tersimpan dalam ingatan, kemudian muncul kembali dengan bentuk yang berbeda. 

Inilah yang coba diterjemahkan IWAN TIRTA melalui SMERTI - Iwan Tirta Runway Collection 2027. Koleksinya hadir untuk berbicara tentang memori, alam, dan apa yang dibawa manusia menuju masa depan. Sebanyak 50 rancangan pria dan wanita diperlihatkan melalui perpaduan motif batik, siluet kontemporer, dan styling. Dari permainan motif hingga musik yang mengisi ruangan, ada beberapa hal yang membuat SMERTI terasa seperti sebuah perjalanan.

  1. 1. Motif batik seperti membawa kembali potongan memori

    Seorang perempuan mengenakan look biru-abu berupa jaket bermotif floral dalam potret fesyen bergaya kasual.
    Look biru-abu dengan jaket bermotif floral (IDN Times/Maura Thirza)

    Dari kejauhan, motif yang muncul di atas kain terasa seperti sesuatu yang pernah dikenal. Namun, ketika model berjalan melewati cahaya, bentuknya seolah berubah. Ada yang diperbesar, diulang, atau ditempatkan kembali dalam komposisi yang berbeda. Rasanya seperti ketika kita mengingat sesuatu dari masa lalu. Kita masih mengenali bentuknya, tetapi detailnya mungkin sudah bergeser.

    SMERTI menggali sejumlah motif dari khazanah IWAN TIRTA dan menafsirkannya kembali melalui perubahan skala, komposisi, repetisi, serta penempatan. Beberapa elemen hadir utuh, sementara lainnya terfragmentasi, seperti ingatan yang tidak selalu kembali sebagai cerita lengkap. Motif-motif justru diberi ruang untuk bergerak. Warisan pun tidak sekadar diingat, tetapi menemukan kelanjutan hidupnya dalam bentuk yang baru. Sebagaimana yang diungkapkan Widiyana Sudirman, CEO IWAN TIRTA.

    “SMERTI lahir dari cara kami memandang memori sebagai sesuatu yang hidup. Karya dan pemikiran IWAN TIRTA memberikan pijakan bagi kami untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik dalam konteks hari ini,” ujar Widiyana Sudirman.

  2. 2. Kain bergerak membawa batik ke masa kini

    Atasan merah bermotif burung warna-warni dengan pita putih pada bagian depan sebagai detail busana yang manis.
    Look atasan merah dengan motif burung dan pita putih (IDN Times/Maura Thirza)

    Ketika model mulai berjalan, perhatian perlahan berpindah fokus dari motif ke gerak. Kain yang mengikuti tubuh, jatuh mengikuti langkah, lalu kembali membentuk siluetnya. Struktur busana tetap terasa, tetapi tidak kehilangan kelembutannya.

    SMERTI mengeksplorasi pendekatan soft structured atau soft architectural, yang mempertemukan konstruksi terukur dengan garis dan pergerakan yang lebih lembut. Batik berbahan 100 persen katun dan material TENCEL™ menjadi bagian dari koleksi, sementara sutra dan denim hadir sebagai styling items. Perbedaan material membuat setiap busana memiliki karakter yang khas ketika bergerak di atas runway.

    Di sana, batik tidak lagi terasa seperti motif yang sekadar menghiasi permukaan kain. Ia ikut bergerak bersama tubuh. Setiap langkah membuat pola dan tekstur menampilkan bentuk yang sedikit berbeda. Seperti warisan yang dibawa dari satu generasi ke generasi berikutnya, batik pun tidak harus berjalan dengan langkah yang sama. Ia dapat berubah, selama jejak yang membentuknya tetap dibawa.

  3. 3. Suasana gedung dan musik ikut bercerita

    Para penampil berkolaborasi dengan Efek Rumah Kaca pada peragaan SMERTI Iwan Tirta Runway Collection 2027.
    Kolaborasi penampil dari Efek Rumah Kaca pada SMERTI Iwan Tirta Runway Collection 2027 (IDN Times/Maura Thirza)

    Ada ruang dan tempat yang menyimpan lebih banyak daripada apa yang terlihat. Dinding menyimpan gema dari pertunjukan, lantai menyimpan jejak langkah para model, sementara sebuah gedung membawa ingatan tentang mereka yang pernah mengisinya.

    Gedung Kesenian Jakarta menjadi ruang semacam itu bagi SMERTI. Untuk pertama kalinya, gedung ini menjadi lokasi peragaan busana. Arsitekturnya yang menyimpan perjalanan seni dan budaya kemudian bertemu dengan batik yang juga membawa jejak sejarah.

    Runway pun tidak terasa sekadar ditempatkan di dalam gedung. Gerak model, pencahayaan, musik, dan ritme pertunjukan terlihat dirancang untuk merespons karakter dari ruang yang digunakan. Ketika musik kolaborasi dengan band Efek Rumah Kaca memenuhi ruangan, koleksi terasa seperti bagian dari sebuah pertunjukan. 

    Shadtoto Prasetio, Art Director dari Shadtoto Studio, mengungkapkan, “SMERTI dirancang dengan mendengarkan ruangnya. Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi membangun presentasi yang merespons karakter Gedung Kesenian Jakarta melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme,” ujar Shadtoto Prasetio.

    SMERTI tidak hanya meninggalkan pakaian untuk dikenang. Namun juga sebuah suasana. Motif yang terasa familiar, kain yang bergerak mengikuti irama tubuh, musik yang memenuhi ruang, dan sebuah gedung lama yang malam itu mendapatkan cerita baru.

    Sebab warisan tidak selalu harus dijaga dengan membuatnya tetap sama. Seperti memori, warisan justru akan terus hidup ketika dibawa berjalan, berubah, dan menjelma menjadi bentuk baru bersama dengan iringan zaman.


Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More