Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Candaan di Kantor Bisa Berubah Menjadi Bullying?
ilustrasi melakukan prank pada teman (pexels.com/Ron Lach)
  • Candaan kantor bisa berubah menjadi bullying ketika satu orang terus-menerus dijadikan sasaran, termasuk kesalahan masa lalu yang berulang kali diungkit sebagai bahan lelucon.
  • Niat bercanda tidak menghapus dampak: lelucon yang merendahkan, mempermalukan, atau menyentuh fisik, keluarga, ekonomi, agama, dan kehidupan pribadi dapat menyakiti.
  • Situasi makin serius saat ketidaknyamanan korban diabaikan; candaan berulang dapat membuat seseorang takut, menghindari interaksi, diam dalam rapat, dan merasa terisolasi di tempat kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Candaan di kantor sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Di tengah pekerjaan yang menumpuk dan rutinitas yang kadang melelahkan, bercanda dengan rekan kerja bisa menjadi cara untuk mencairkan suasana. Saling menggoda atau menertawakan kejadian tertentu bahkan bisa membuat hubungan antarpegawai terasa lebih dekat. Namun, candaan yang awalnya dianggap biasa bisa berubah menjadi masalah ketika hanya satu orang yang terus dijadikan sasaran.

Perubahan tersebut terkadang tidak langsung terlihat karena semuanya masih dibungkus dengan tawa. Orang yang menjadi sasaran mungkin ikut tertawa kendati di dalam lubuk hati sebenarnya merasa malu atau tidak nyaman, sementara rekan kerja lain menganggap situasinya tidak serius. Jika candaan terus diulang, menyentuh hal yang bersifat pribadi, atau tetap dilakukan setelah seseorang meminta berhenti, perilaku tersebut bisa mengarah pada bullying di tempat kerja. Lantas, mengapa candaan di kantor bisa berubah menjadi bullying?

1. Candaan terus diarahkan kepada orang yang sama

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/PICHA Stock)

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah frekuensi. Candaan mungkin masih terasa wajar jika terjadi sesekali dan dilakukan dalam hubungan yang saling menghargai. Namun, situasinya bisa berbeda ketika satu orang terus-menerus dijadikan bahan lelucon.

Misalnya, seorang karyawan pernah melakukan kesalahan dalam presentasi. Rekan-rekannya kemudian beberapa kali mengungkit kejadian tersebut untuk menertawakannya, bahkan ketika situasinya sudah lama berlalu.

Pada titik tertentu, masalahnya bukan lagi tentang apakah candaan tersebut lucu atau tidak. Perilaku yang terus berulang bisa membuat orang yang menjadi sasaran merasa bahwa dirinya memang sengaja diposisikan sebagai bahan hiburan.

2. Pelaku menganggap niat lebih penting daripada dampaknya

ilustrasi melakukan prank pada teman (pexels.com/Ron Lach)

Kalimat seperti “Kan cuma bercanda” cukup sering muncul ketika seseorang merasa candaan yang dibuatnya dipermasalahkan. Padahal, niat bercanda tidak otomatis menghilangkan dampak yang ditimbulkan.

Seseorang mungkin memang tidak bermaksud menyakiti rekan kerjanya. Namun, jika candaan tersebut membuat orang lain merasa direndahkan, dipermalukan, atau takut berada di lingkungan kerja, dampaknya tetap perlu diperhatikan. Karena itu, mengatakan bahwa sesuatu hanya bercanda tidak selalu cukup untuk membuat perilaku tersebut menjadi wajar.

3. Candaan mulai menyentuh hal yang bersifat pribadi

ilustrasi tertawa bersama (pexels.com/nappy)

Tidak semua topik cocok dijadikan bahan bercanda di tempat kerja. Masalah fisik, kondisi keluarga, kehidupan pribadi, ekonomi, agama, hubungan romantis, hingga kesalahan masa lalu bisa menjadi hal yang sensitif bagi seseorang.

Contohnya, komentar tentang tubuh mungkin dianggap lucu oleh sebagian orang. Namun, jika seseorang merasa tidak nyaman setiap kali tubuhnya dijadikan bahan lelucon, komentar tersebut sebaiknya tidak terus dilakukan.

4. Korban sudah menunjukkan ketidaknyamanan, tetapi diabaikan

ilustrasi laki-laki sedang tertawa (unsplash.com/Brian Lundquist)

Salah satu tanda penting yang kerap terlupakan adalah respons orang yang menjadi sasaran. Ia mungkin sudah mengatakan tidak suka, berhenti tertawa, menghindari percakapan, atau bahkan secara langsung meminta agar candaan tersebut dihentikan. Jika setelah itu perilaku yang sama masih terus dilakukan, maka situasinya menjadi lebih serius.

Candaan yang awalnya mungkin tidak disengaja menyakiti bisa berubah menjadi perilaku yang mengabaikan batas orang lain. Apalagi jika pelaku justru menertawakan reaksi korban atau menganggapnya terlalu sensitif.

5. Candaan membuat seseorang merasa takut atau terisolasi

ilustrasi korban bullying merasa takut (pexels.com/undefined Keira Burton)

Tidak semua bullying terlihat dalam bentuk bentakan atau penghinaan secara terang-terangan. Candaan yang dilakukan terus-menerus juga bisa membuat seseorang merasa tidak aman di tempat kerja. Ia mungkin mulai enggan makan bersama, menghindari ruang tertentu, takut berbicara dalam rapat, atau memilih diam karena khawatir perkataannya kembali dijadikan bahan lelucon. 

Candaan memang bisa membuat hubungan antarpegawai lebih dekat selama dilakukan dengan mempertimbangkan batas masing-masing. Namun, ketika seseorang sudah merasa direndahkan atau tidak nyaman, mengatakan “cuma bercanda” seharusnya bukan alasan untuk mengabaikannya. Ada kalanya yang perlu dihentikan bukan rasa humor seseorang, melainkan kebiasaan menjadikan orang lain sebagai bahan lelucon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article