5 Tips Mengatur Keuangan bagi yang Malas Catat Pengeluaran

Batasi uang belanja per hari untuk kontrol pengeluaran yang lebih baik
Catat kebutuhan sebelum berbelanja, termasuk merek dan alternatifnya
Pakai prinsip cari duit sebanyak mungkin, belanja sesedikit mungkin untuk keuangan yang sehat
Keuangan yang tidak pernah diatur sangat rawan kebocoran. Itu akan menyebabkan masalah finansial. Beban keuangan terasa berat sekali dan tidak sebanding dengan pendapatan. Itu sebabnya sangat penting untukmu belajar mengatur keuangan.
Salah satunya adalah dengan melakukan pencatatan keuangan baik secara manual maupun dengan bantuan aplikasi. Akan tetapi, tahap dasar ini juga dapat terasa sangat membebani kalau kamu gak suka mencatat.
Rasanya ribet. Pun dirimu sudah lupa dengan detail pengeluaran dalam sehari. Terutama untuk pemakaian uang yang nilainya kecil, tapi sering dan tidak ada struknya. Daripada kamu stres mencatat pengeluaran, ada lima cara simpel mengatur keuangan bagi yang malas catat pengeluaran. Tinggal pilih yang sesuai kamu, ya!
1. Batasi uang belanja per hari

Jika kamu mencatat pengeluaran, belanja sudah telanjur dilakukan. Seperti air yang kadung keluar dari keran tidak bisa dikembalikan ke dalam keran tersebut dan jaringan pipa. Kontrol yang lebih baik buat pengeluaran sesungguhnya justru dari atas alias dengan menutup atau membatasi bukaan keran.
Dalam pengaturan keuangan, strateginya ialah membatasi uang belanja harian. Kenapa uang belanja harian yang dibatasi dan bukan sekadar uang belanja mingguan atau bulanan? Tujuannya supaya kontrol rutin setiap hari membentuk kebiasaan baik dalam hidupmu.
Pengendalian belanja juga menjadi lebih mudah. Bila kamu hanya menetapkan uang 1 juta rupiah untuk belanja sebulan, boleh jadi setengahnya ludes di awal bulan. Tiga minggu berikutnya dirimu mesti bersusah payah berhemat. Menjatah uang belanja harian mendorongmu untuk lebih disiplin.
2. Bukan pengeluaran yang dicatat, tapi kebutuhan sampai ke mereknya

Apakah kamu tipe orang yang setelah mengeluarkan uang lupa tadi buat apa saja? Kalau ya, pencatatan pengeluaran memang gak cocok buatmu. Apalagi dirimu tak sempat langsung menuliskannya. Sudah pasti banyak pengeluaran terlupakan begitu saja.
Lebih gampang buatmu melakukan pencatatan kebutuhan alias di awal sebelum berbelanja. Ini sekaligus menjadi cara untuk merencanakan apa saja yang akan dibeli nanti. Jangan sampai ada kebutuhan yang terlewatkan dan kamu malah membeli barang lain yang kurang penting.
Akan tetapi, guna menertibkan pengeluaran dan sebisa mungkin lebih hemat, apa-apa yang perlu dibeli mesti diperinci. Jangan hanya ditulis sabun mandi, sabun cuci piring, dan sebagainya. Sertakan dengan ukuran serta merek yang diutamakan dan alternatifnya. Belanja terencana dengan baik, keuangan pun aman.
3. Pakai prinsip cari duit sebanyak mungkin, belanja sesedikit mungkin

Cara ini terbilang cukup ekstrem, tapi cocok sekali buatmu yang benar-benar mudah frustrasi bila harus mencatat pengeluaran. Kamu bukan tipe orang yang berfokus pada detail. Dirimu lebih peduli pada segala hal yang garis besarnya saja.
Intinya kan, kamu ingin keuangan yang sehat. Jangan sampai besar pasak daripada tiang atau pengeluaran melebihi pemasukan. Maka dari itu, dirimu dapat membangun jarak selebar mungkin antara pendapatan dengan uang yang dibelanjakan.
Penghematan bisa dilakukan, tapi tentu gak mungkin sampai keterlaluan atau hidupmu menjadi begitu memprihatinkan. Imbangi usaha berhemat dengan sekreatif mungkin dalam dirimu mencari uang. Apabila pemasukanmu terus membesar dan belanja tidak ugal-ugalan otomatis keuanganmu sangat sehat.
4. Membagi penghasilan jadi dua, boleh atau tidak boleh dibelanjakan

Bagi orang yang detail, uang bisa dibagi ke lebih banyak pos. Bahkan sampai pos listrik, air, dan lainnya. Akan tetapi, kamu gak cermat dalam hal beginian. Terlalu menguras pikiran.
Nanti malah dirimu tidak tokus melakukan aktivitas lain. Bila demikian, pendapatan bulanan langsung saja dibagi menjadi dua. Yaitu, bagian yang boleh dibelanjakan bahkan dihabiskan serta bagian yang sama sekali dilarang diutak-atik.
Tentu pembagiannya bukan 50:50, kecuali pendapatanmu sangat besar. Bila penghasilanmu 20 juta rupiah dan kamu lajang, misalnya. 10 juta rupiah buat hidup sudah cukup. 10 juta rupiah lagi langsung dikunci sebagai tabungan.
Kalau pendapatanmu 2 sampai 3 juta rupiah, tak masalah hanya ada 100 atau 200 ribu rupiah yang dilarang disentuh. Setiap uang yang tak boleh dipakai tersebut otomatis membangun kekayaanmu perlahan-lahan. Nominalnya memang kecil. Namun, uang itu telah dipastikan aman.
5. Memaksimalkan transaksi nontunai dengan satu rekening atau dompet digital

Jurus berikutnya sudah sangat familier bagi kebanyakan generasi Z. Yaitu transaksi digital. Keuntungan dari membayar secara nontunai ialah angka yang dibayarkan bisa tepat sesuai belanjaan.
Kalaupun beberapa pilihan pembayaran dikenai biaya admin, sering kali banyak promo menarik seperti cashback. Pun riwayat transaksi terekam dengan jelas. Tinggal kapan pun dirimu luang ,dapat memeriksa dan menjumlahkannya.
Kamu tak perlu lagi melakukan pencatatan sendiri. Tentu di kota besar sekalipun tidak semua transaksi bisa nontunai. Akan tetapi, paling tidak sebagian besar aliran uang keluar sudah terekam.
Kamu cuma perlu mengingat dan mencatat sangat sedikit pengeluaran tunai. Andai terlupakan pun nilainya tak seberapa. Keuanganmu gak akan begitu terpengaruh. Guna memudahkan penjumlahan pengeluaran di akhir bulan, pakai satu saja rekening atau dompet digital buat berbelanja.
Meski mencatat pengeluaran penting guna melacak aliran uangmu, ini memang bisa terasa sulit bagi sebagian orang. Bila dirimu sudah berkali-kali gagal melakukannya, cobalah lima cara mengatur keuangan bagi yang malas catat pengeluaran, seperti pada penjelasan di atas. Barangkali salah satunya berhasil buat menyehatkan keuanganmu.


















