4 Risiko Punya Pacar Sekantor, Banyak Ruginya!

Menjalin hubungan asmara dengan rekan sekantor bisa menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Risiko utama meliputi rasa bosan karena terlalu sering bertemu, jadi bahan gosip di kantor, serta kesulitan move on jika hubungan berakhir.
Selain itu, kegagalan hubungan dapat memicu keinginan resign dan menghambat karier.
Kemungkinan menemukan pasangan memang bisa dimana saja, termasuk di kantor tempat kamu bekerja. Frekuensi pertemuan yang tinggi dengan teman sekantor, bisa banget mengakibatkan munculnya benih-benih perasaan suka atau bahkan sayang.
Gak ada yang melarang memang. Boleh-boleh saja kamu memiliki pacar sekantor selama perusahaan tidak menetapkan larangan secara resmi. Tapi, tahu gak sih bahwa keputusan mempunyai pacar di tempat kerja ini ada risikonya? Penasaran apa saja? Yuk, simak langsung!
1. Besar kemungkinan kamu akan cepat merasa bosan

Memiliki pacar sekantor pasti akan membuat kamu dan pacar sering bertemu. Tingginya intensitas pertemuan kemungkinan besar akan membuat kamu dan pacar menjadi mudah mengalami kejenuhan.
Bayangkan saja, kamu dan dia misalnya bekerja 5 - 6 hari seminggu, lalu masih bertemu saat weekend untuk sekadar jalan berdua. Ketika masih satu atau dua bulan pacaran, rasa bosan kemungkinan belum begitu kuat. Pasalnya, kamu dan dia masih diliputi perasaan excited dan cinta yang menggebu-gebu. Tapi, gimana setelah bertahun-tahun pacaran? Rasa bosan dan jenuh karena sering bertemu justru bisa muncul dan menimbulkan permasalahan. Resiko hubungan berantakan dan berakhir putus pun menjadi sangat besar.
2. Kamu dan pasangan harus siap jadi bahan omongan di kantor

Saat hal privasi malah menjadi konsumsi publik, tentu kamu akan merasa risih. Memiliki pacar sekantor membuat hubungan kamu dan pasangan rawan menjadi gosip di kalangan teman-teman sekantor. Misalnya saat kamu dan pasangan yang biasanya mesra justru terlihat tidak akur.
Kondisi seperti ini jelas tidak akan bisa dihindari. Ketika sudah berani memutuskan untuk berpacaran dengan teman sekantor dan go public, risiko jadi bahan omongan teman-teman kantor pun mau gak mau harus diterima.
3. Move on setelah putus akan menjadi sangat sulit

Hanya ada dua pilihan ketika kamu menjalani hubungan pacaran, lanjut sampai menikah atau kandas di tengah jalan. Jika berhasil sampai menikah, tentu kamu akan bahagia memiliki pasangan teman sekantor, namun apa jadinya kalau yang terjadi justru sebaliknya?
Yup, putus hubungan dengan teman sekantor mengharuskan kamu menanggung beban berlipat. Selain rasa sakit karena hubungan berakhir, kamu juga harus siap untuk tetap bertemu dengan mantan sehari-harinya. Hal ini tentu membuat proses move on menjadi semakin berat. Apalagi kalau mantan pacar terlihat sudah menggandeng pasangan baru, penderitaanmu pun otomatis semakin bertambah.
4. Keinginan untuk resign jadi semakin kuat

Ketika hubungan sudah gagal, opsi untuk resign biasanya menjadi opsi yang paling banyak diambil oleh orang yang punya pacar sekantor. Gak semuanya memang, ada juga yang bisa tetap bersikap profesional dan fokus bekerja. Namun, perkara perasaan bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Kebanyakan orang cenderung gak kuat untuk mengendalikan diri dan tetap bertahan di kantor bersama mantan pacar. Hal ini pastinya jadi sangat merugikan, apalagi kalau kamu memiliki karir yang sudah bagus dan punya potensi untuk terus berkembang di kantormu.
Jika dilihat lagi, sepertinya memang lebih banyak risiko yang harus ditanggung ketika memiliki pacar sekantor. Keuntungannya tetap ada, tapi potensi kerugiannya tetap lebih besar. Jadi sebaiknya, pikir ulang sebelum kamu mantap untuk berpacaran dengan teman sekantormu, ya!


















