Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Cara Mengurangi Stres Akibat Konten Prestasi Orang Lain

6 Cara Mengurangi Stres Akibat Konten Prestasi Orang Lain
ilustrasi laki-laki sedang melihat media sosial (unsplash.com/Rasheed Kemy)
Intinya Sih
  • Ingat bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan seseorang.

  • Fokus pada perkembangan diri sendiri, bukan membandingkan diri dengan orang lain.

  • Hargai pencapaian kecil dan jadikan prestasi orang lain sebagai inspirasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pada era media sosial seperti sekarang, rasanya hampir setiap hari kita melihat kabar tentang pencapaian orang lain. Ada yang diterima di kampus impian, mendapatkan beasiswa luar negeri, naik jabatan, meraih penghargaan, hingga memulai bisnis yang terlihat sukses. Di satu sisi, konten seperti ini memang bisa menjadi sumber motivasi. Namun, di sisi lain, tidak sedikit orang yang justru merasa stres setelah melihatnya.

Perasaan, "Kok hidupku jalan di tempat?", "Kenapa aku belum sampai di sana?", atau, "Aku kalah jauh dibanding mereka," sering muncul tanpa disadari. Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan membandingkan diri bisa membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri dan sulit menikmati proses hidup. Kalau kamu mulai merasa lelah setiap kali membuka media sosial, beberapa cara berikut mungkin bisa membantu mengurangi stres akibat konten prestasi orang lain.

1. Sadari bahwa media sosial hanya menampilkan potongan kehidupan

ilustrasi membuat konten
ilustrasi membuat konten (pexels.com/CoWomen)

Salah satu hal yang sering terlupakan ialah media sosial bukan gambaran utuh kehidupan seseorang. Kebanyakan orang hanya membagikan momen terbaik mereka, bukan seluruh perjalanan yang mereka lalui. Kita mungkin melihat seseorang mengunggah foto wisuda, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal sebelumnya. Kita melihat kabar diterima kerja, tetapi tidak mengetahui berapa puluh lamaran yang pernah ditolak. Akibatnya, kita tanpa sadar membandingkan kehidupan lengkap kita dengan cuplikan terbaik milik orang lain. Ketika mulai merasa minder, cobalah mengingat bahwa setiap unggahan hanyalah sebagian kecil dari cerita yang sebenarnya.

2. Kurangi konsumsi konten yang memicu tekanan

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (pexels.com/Pixabay)

Tidak semua akun media sosial memberikan dampak yang sama terhadap kondisi mental. Ada akun yang membuat kita termotivasi, tetapi ada juga yang justru membuat kita merasa tertinggal setiap hari. Jika ada akun yang terus-menerus memicu kecemasan atau membuatmu merasa tidak cukup baik, tidak ada salahnya untuk mengurangi interaksi dengan akun tersebut. Kamu bisa membatasi waktu melihat konten, melakukan mute, atau bahkan berhenti mengikuti jika memang diperlukan. Media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sumber stres yang terus-menerus menguras energi.

3. Fokus pada perjalanan pribadi

ilustrasi mahasiswa sedang belajar
ilustrasi mahasiswa sedang belajar (pexels.com/Yan Krukau)

Setiap orang memiliki titik awal, kemampuan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara langsung sering kali tidak adil. Mungkin ada teman yang sudah mendapatkan pekerjaan impian pada usia 22 tahun, sementara orang lain baru menemukannya pada usia 30 tahun. Ada yang berhasil masuk kampus favorit setelah sekali mencoba, ada juga yang harus melalui beberapa kali kegagalan terlebih dahulu. Daripada terus melihat seberapa jauh orang lain melangkah, lebih baik sesekali melihat ke belakang dan menyadari sejauh apa dirimu sudah berkembang dibanding beberapa tahun lalu. Kemajuan kecil tetaplah kemajuan.

4. Ubah rasa iri menjadi sumber pembelajaran

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (unsplash.com/Annie Spratt)

Merasa iri bukan berarti kamu orang yang buruk. Perasaan tersebut sebenarnya cukup manusiawi dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Yang penting ialah bagaimana cara menyikapinya. Daripada terus memikirkan mengapa orang lain bisa berhasil, cobalah mencari tahu apa yang bisa dipelajari dari perjalanan mereka. Mungkin ada kebiasaan positif, strategi belajar, atau pola kerja yang dapat kamu tiru. Dengan cara ini, energi yang sebelumnya digunakan untuk membandingkan diri bisa diubah menjadi dorongan untuk berkembang.

5. Hargai pencapaian kecil yang sudah kamu miliki

ilustrasi bersenang-senang dengan sahabat
ilustrasi bersenang-senang dengan sahabat (pexels.com/Helena Lopes)

Salah satu alasan seseorang mudah stres saat melihat prestasi orang lain ialah karena terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki. Akibatnya, berbagai pencapaian pribadi yang sebenarnya layak diapresiasi justru terasa tidak berarti. Padahal, menyelesaikan tugas tepat waktu, berhasil konsisten belajar, mengelola keuangan dengan lebih baik, atau berani mencoba hal baru juga merupakan bentuk kemajuan. Membiasakan diri menghargai pencapaian kecil dapat membantu membangun rasa syukur dan membuat kita lebih percaya diri menghadapi perjalanan masing-masing.

6. Ingat bahwa hidup bukan perlombaan

ilustrasi beasiswa kuliah
ilustrasi beasiswa kuliah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Media sosial sering menciptakan kesan bahwa semua orang sedang berlomba mencapai garis finis yang sama. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda. Ada yang fokus membangun karier, ada yang memprioritaskan keluarga, ada yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan, dan ada pula yang sedang berusaha menjaga kesehatan mental. Karena tujuan setiap orang berbeda, tidak ada alasan untuk memaksakan diri mengikuti kecepatan hidup orang lain. Yang jauh lebih penting ialah terus bergerak maju sesuai kemampuan dan kondisi yang dimiliki.

Pada akhirnya, konten prestasi orang lain tidak selalu harus menjadi sumber stres. Jika disikapi dengan cara yang tepat, konten tersebut justru bisa menjadi inspirasi tanpa membuat kita kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Fokus pada langkah yang sedang kamu jalani hari ini sering kali jauh lebih bermanfaat daripada terus menghitung seberapa jauh orang lain telah melangkah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More