Cara Menghadapi Hubungan Toxic karena Punya Trauma Masa Lalu

- Trauma masa lalu dapat memengaruhi pola interaksi dan konflik dalam hubungan, membuat pasangan terjebak dalam siklus negatif tanpa sadar karena luka emosional yang belum pulih.
- Pola pengasuhan di masa kecil sering menjadi akar trauma yang membentuk cara seseorang berhubungan; mengenali dan memproses emosi seperti marah atau malu menjadi langkah awal penyembuhan.
- Melepaskan emosi dengan jujur melalui pengakuan perasaan, menulis, atau berbagi dengan profesional membantu meredakan beban trauma dan memperbaiki dinamika hubungan agar lebih sehat.
Pola interaksi dalam hubungan dapat dipengaruhi oleh trauma di masa lalu. Luka emosional yang belum sepenuhnya pulih, dapat memengaruhi cara seseorang dalam memandang hubungan hingga merespons konflik. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam pola hubungan yang cenderung tidak sehat.
Trauma masa lalu memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya bisa memengaruhi dinamika hubungan di masa kini. Lalu, bagaimana cara mengatasi siklus negatif dalam hubungan yang disebabkan oleh trauma masa lalu?
1. Menyadari siklus hubungan negatif berakar dari masa lalu

Pasangan yang terjebak dalam siklus negatif, tanpa sadar memicu reaksi traumatis terhadap yang lain. Pola interaksi atau dinamika hubungan tidak selalu disebabkan oleh perilaku pasangan saat ini, tetapi dapat berakar dari pengalaman traumatis di masa lalu yang belum diselesaikan.
Psikiater dan Clinical Professor, Fredric N. Busch dalam Psychology Today, berpendapat trauma yang dibawa oleh masing-masing individu dapat memicu konflik dalam hubungan yang terus berulang. Akibatnya, pasangan cenderung saling menyalahkan tanpa menyadari reaksi tersebut muncul karena luka emosional yang belum tuntas. Untuk itu, memutus pola negatif dengan memahami trauma dan pola interaksi yang terbentuk untuk membangun regulasi hubungan yang sehat, menjadi langkah tepat.
2. Pola pengasuhan dapat menjadi akar trauma, segera identifikasi!

Apa pun pengalaman negatif yang dimiliki, hubungan dengan pengasuh utama akan menciptakan keyakinan akan hubungan secara umum dan bagaimana kita berperilaku di dalamnya. Pengalaman negatif itu tetap bersama diri kita meski telah ada upaya untuk melupakannya.
Masalahnya, kita tak punya kendali untuk mengubah masa lalu, apalagi perilaku orangtua kepada kita. Untuk itu, terapis berpengelaman Beverly Engel, dalam Psychology Today, menyarankan agar melakukan upaya seperti memproses perasaan marah, sakit, dan malu terkait trauma sebelumnya. Selain itu, kita juga perlu menyelesaikan urusan dengan orang-orang yang membuat trauma. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi trauma kita.
Tentu ini bukan hal yang mudah. Pengalaman traumatis kerap muncul pada ingatan di masa sekarang. Gejalanya juga mengganggu keseharian hingga kesehatan fisik seperti munculnya serangan panik, kecemasan, depresi, dan lainnya.
3. Melepaskan emosi dengan jujur

Mengidentifikasi dan melepaskan emosi yang melekat pada trauma tentu bukan langkah yang mudah. Beverly mengidentifikasi emosi yang paling signifikan dan perlu diproses yakni kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan rasa malu atau bersalah akan sesuatu. Emosi inilah yang paling menonjol ketika seseorang mengalami trauma.
Sebagai profesional, Beverly mendorong orang agar memproses emosinya dengan mengidentifikasi perasaan tersebut. Akui emosi yang ada pada tubuh, tanpa melawannya atau menyangkal. Setelah memahami perasaan apa saja yang mungkin tengah dialami, tuliskan dan ekspresikan emosi tersebut. Kamu juga bisa melepaskan energi yang diciptakan oleh emosi, misalnya dengan menangis atau melakukan kegiatan aman untuk meluapkan amarah. Terakhir, berbagi cerita dengan terapis, psikologi, atau profesional akan sangat membantu dalam merilis emosi.
Bagi kamu yang merasa tengah terjebak dalam siklus hubungan negatif karena memiliki trauma di masa lalu, beberapa tahap di atas dapat menjadi salah satu langkah untuk merespons hal tersebut. Disarankan untuk tidak melakukan self diagnosis dan menghubungi profesional jika membutuhkan bantuan.






















