ilustrasi lukisan ikan koi (unsplash.com/Elena Mozhvilo)
Secara sederhana, mindfulness-based art therapy (MBAT) menggabungkan manfaat latihan kesadaran (mindfulness, meditasi) dalam struktur kerangka terapi seni. Dr. Chris Mosunic, psikolog klinis dan dietisien (ahli gizi medik/klinis), dikutip dari Calm, menjelaskan bahwa mindfulness-based art therapy adalah praktik terapeutik, yang dipimpin oleh seorang praktisi, yang menggabungkan teknik kesadaran seperti fokus pada momen sekarang ke dalam aktivitas kreatif seperti menggambar, melukis, atau memahat.
Berbeda dengan praktik seni tradisional, MBAT gak fokus pada menciptakan karya seni yang sempurna. Dalam MBAT, kamu diajak untuk menikmati setiap proses membuat karya dengan penuh kesadaran. Kamu akan diarahkan untuk memperhatikan apa yang sedang dirasakan pada setiap sapuan kuas atau bentuk yang sedang diciptakan. Pendekatan ini membantumu tetap terhubung dengan momen saat ini dan membebaskan pikiran dari kekhawatiran tentang masa lalu atau masa depan.
Dalam sesi MBAT, terapis akan membimbing kamu untuk melibatkan berbagai indra agar lebih bisa hadir dan merasakan proses berkarya, seperti merasakan kuas saat menyentuh kanvas, memperhatikan warna yang menarik perhatian, atau mendengarkan suara pensil saat menggambar. Perpaduan antara mindfulness dan ekspresi kreatif membuat sesi MBAT dapat menjadi ruang yang aman untuk mengeksplorasi dan memproses emosi.