Ilustrasi sarapan (pixabay.com/JillWellington)
Rutinitas pagi tidak akan maksimal jika malam sebelumnya mahasiswa hanya tidur tiga atau empat jam. Kualitas tidur tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental. Setelah bangun, lengkapi energi dengan sarapan bergizi yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta buah atau sayuran.
Tidur yang cukup membuat otak lebih siap memproses informasi, sementara sarapan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama mengikuti perkuliahan. Kombinasi keduanya mampu mengurangi rasa lelah, mudah marah, maupun kehilangan fokus di tengah aktivitas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep (Oxford Academic) tahun 2025 berjudul "The Relationship of Sleep Hygiene, Sleepiness, and Sleep Quality to Mental Health (Burnout, Depression, Anxiety, and Stress) Among College Students", menyebutkan bahwa kualitas tidur dan kebiasaan tidur yang baik memiliki hubungan erat dengan burnout, depresi, kecemasan, dan stres pada mahasiswa. Para peneliti menyimpulkan bahwa memperbaiki kebiasaan tidur merupakan salah satu target intervensi yang menjanjikan untuk melindungi mahasiswa dari burnout.
"Tingkat kelelahan (burnout) pada mahasiswa dilaporkan berkisar antara 10,3 persen hingga 71,0 persen, dan gejala kesehatan mental memburuk pada kaum muda dalam beberapa tahun terakhir. Gangguan tidur telah dikaitkan dengan kelelahan dan masalah kesehatan mental (misalnya, berkurangnya keterlibatan, prestasi akademik yang buruk, rendahnya efikasi diri, rendahnya harga diri, gangguan tidur, dan pikiran untuk bunuh diri) dan dapat meningkatkan kerentanan," kutip dari penelitian tersebut.
Menjalani kuliah tanpa burnout bukan berarti harus memiliki morning routineyang rumit seperti yang sering viral di media sosial. Justru, dari kebiasaan sederhana tadi sudah cukup dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan mental dan produktivitas.