5 Novel Fiksi Sejarah tentang Perlawanan yang Menggugah

- The Woman With No Name – Audrey Blake: Yvonne Rudellat direkrut oleh Intelijen Inggris sebagai agen rahasia, mengubah anggapan bahwa ia "tidak berguna" menjadi senjata utama dalam melawan penjajah.
- Burn Down Master’s House – Clay Cane: Novel ini menyoroti keberanian para budak yang melawan langsung sistem perbudakan, mengingatkan pembaca akan harga yang harus dibayar untuk sebuah pembangkangan.
- The Lilac People – Milo Todd: Menggambarkan perlawanan sebagai pilihan moral yang sunyi, dilakukan tanpa sorak-sorai, tetapi penuh risiko bagi komunitas LGBTQ di bawah rezim Nazi.
Sejarah tidak hanya dipenuhi oleh tokoh besar dan kemenangan heroik, tetapi juga oleh orang-orang biasa yang memilih melawan ketika dunia di sekeliling mereka runtuh. Novel fiksi sejarah bertema perlawanan sering kali menghadirkan sisi kemanusiaan yang jarang dibahas di buku pelajaran.
Lewat kisah-kisah personal dan emosional, novel-novel ini mengajak pembaca memahami bahwa perlawanan tidak selalu berupa senjata atau medan perang. Terkadang, bertahan hidup sudah menjadi bentuk perlawanan paling radikal. Berikut lima novel fiksi sejarah tentang perlawanan yang digambarkan dengan cara mengguggah dan membekas.
1. The Woman With No Name – Audrey Blake

Novel ini mengikuti kisah Yvonne Rudellat, seorang perempuan paruh baya yang nyaris tak dianggap oleh siapa pun di sekitarnya. Setelah apartemennya hancur akibat pengeboman dan Prancis jatuh ke tangan Nazi, Yvonne merasa hidupnya telah berakhir. Namun justru di titik itulah, ia direkrut oleh Intelijen Inggris untuk menjalani misi berbahaya sebagai agen rahasia.
Menariknya, anggapan bahwa Yvonne “tidak berguna” justru menjadikannya agen yang sempurna. Identitasnya yang diremehkan menjadi senjata utama dalam melawan penjajah. Fakta bahwa novel ini terinspirasi dari kisah nyata anggota Perlawanan Prancis yang identitasnya baru terungkap setelah kematiannya membuat ceritanya terasa semakin menggetarkan.
2. Burn Down Master’s House – Clay Cane

Burn Down Master’s House mengangkat sisi sejarah perlawanan terhadap perbudakan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Alih-alih hanya berfokus pada pelarian menuju kebebasan, novel ini menyoroti keberanian para budak yang melawan langsung sistem yang menindas mereka. Setiap kisah di dalamnya menunjukkan bahwa perlawanan bisa muncul dalam berbagai bentuk, sekecil apa pun.
Berdasarkan kisah nyata, buku ini tidak menghindari kekerasan dan konsekuensi brutal dari perlawanan tersebut. Justru di situlah kekuatannya, karena pembaca diajak memahami betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk sebuah pembangkangan. Novel ini menjadi pengingat bahwa sejarah perlawanan sering kali ditulis dengan darah dan pengorbanan.
3. The Lilac People – Milo Todd

Novel ini menyoroti kelompok yang sering terpinggirkan dalam narasi Perang Dunia II yakni komunitas LGBTQ di bawah rezim Nazi. Cerita berpusat pada Bertie, seorang pria trans, dan pasangannya, Sofie, yang hidup bersembunyi dengan identitas palsu di pedesaan Jerman. Mereka bertahan hidup dengan mengisolasi diri dari dunia luar yang mematikan.
Ketegangan meningkat ketika seorang pria muda berpakaian tahanan muncul di depan rumah mereka dalam kondisi sekarat. Membantu orang asing itu berarti mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri. The Lilac People menggambarkan perlawanan sebagai pilihan moral yang sunyi, dilakukan tanpa sorak-sorai, tetapi penuh risiko.
4. Human Acts – Han Kang

Human Acts mengambil latar pemberontakan mahasiswa di Gwangju, Korea Selatan, tahun 1980, yang berakhir dengan kekerasan negara. Setelah seorang anak laki-laki bernama Dong-ho tewas, ceritanya bergerak melalui berbagai sudut pandang orang-orang yang ditinggalkan.
Novel ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan bentuk perlawanan terhadap upaya melupakan tragedi. Dengan gaya narasi yang puitis namun menghantui, Han Kang memaksa pembaca untuk berhadapan langsung dengan trauma kolektif. Human Acts menunjukkan bahwa mengingat dan menceritakan ulang sejarah juga merupakan tindakan melawan penindasan.
5. Against the Loveless World – Susan Abulhawa

Against the Loveless World mengikuti perjalanan hidup Nahr, seorang perempuan Palestina yang merenungkan hidupnya dari balik sel isolasi penjara. Sejak lahir sebagai anak pengungsi di Kuwait hingga kembali terusir akibat invasi dan perang, hidup Nahr dibentuk oleh kekerasan politik dan kehilangan.
Novel ini menggambarkan bagaimana radikalisasi tidak lahir dari kebencian semata, melainkan dari luka yang terus-menerus. Perlawanan dalam cerita ini bersifat personal sekaligus politis, menunjukkan bagaimana tubuh dan kehidupan seseorang bisa menjadi medan konflik global. Kisah Nahr adalah potret seorang perempuan yang didorong hingga batas terakhirnya.
Novel-novel fiksi sejarah tentang perlawanan seperti ini bukan hanya menghidupkan kembali masa lalu, tetapi juga membantu kita memahami dunia hari ini. Mereka mengingatkan bahwa perlawanan bisa muncul dari siapa saja dan di mana saja. Dari kelima novel ini, kisah perlawanan mana yang paling membuatmu ingin membacanya?











![[QUIZ] Pilih Permainan Favorit Upin dan Ipin, Apakah Bakat Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250528/cover-quiz-10-497ec7ed7fc94e6ef9b9654a1b85ba9a.png)



![[QUIZ] Pilih Tokoh Upin dan Ipin untuk Melihat Tingkat Kedewasaanmu](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-205757-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-bbcab86100b55cd45d995c1c12e6c570.jpg)
![[QUIZ] Pilih Pelajaran Kesukaan Upin dan Ipin, Apakah Bakat Kamu di Kelas?](https://image.idntimes.com/post/20250923/1000005527_6a823f87-4199-4e1e-8c64-20dfa4bd0fe1.jpg)

![[QUIZ] Pilih Tokoh Upin dan Ipin untuk Lihat Seberapa Introvert Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-204844-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-ca38fe1743370ffbea49f2e1cbc2224b.jpg)