Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Zaman makin Canggih, Kenapa Orang Masih Mudah Percaya Hoaks?
ilustrasi berita hoaks (pexels.com/Insaanu Studio)
  • Emosi kuat seperti marah, takut, atau khawatir dapat membuat orang lebih mudah menganggap berita palsu benar, terutama bila tidak berhenti untuk menilai informasi secara analitis.
  • Penyebaran misinformasi diperkuat interaksi antara perhatian pengguna pada konten emosional dan algoritma media sosial; pengulangan klaim juga menciptakan kesan familiar yang terasa benar.
  • Bias konfirmasi, minimnya verifikasi kreator, dan kebiasaan membagikan informasi cepat meningkatkan risiko hoaks; literasi digital diperlukan untuk mengevaluasi sumber, konteks, dan fakta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di era digital seperti sekarang, informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik saja. Satu unggahan di media sosial bisa dibagikan oleh ribuan orang, kemudian diteruskan ke grup percakapan, hingga menjadi bahan perbincangan publik. Namun, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar fakta yang kuat.

Justru, berisi informasi palsu atau hoaks. Ironisnya, kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi tidak selalu membuat seseorang mampu membedakan berita benar dan hoaks. Bahkan, informasi yang keliru dapat dipercaya dan disebarkan kembali oleh pengguna internet. Lantas, mengapa orang masih mudah percaya hoaks meskipun teknologi semakin canggih? Berikut beberapa faktor orang masih mudah percaya dengan hoaks.

1. Emosi membuat kita lebih mudah mempercayai informasi

ilustrasi terbawa emosi ketika membaca berita di media sosial (pexels.com/Ivan S)

Pernahkah kamu menerima berita yang membuat marah, takut, atau khawatir, lalu langsung ingin membagikannya kepada orang lain? Reaksi semacam ini bisa terjadi ketika emosi memengaruhi cara kita memproses dan menilai informasi.

Penelitian berjudul Reliance on Emotion Promotes Belief in Fake News (2020) mengkaji hubungan antara ketergantungan pada emosi dan kepercayaan terhadap berita palsu. Penelitian tersebut mencakup empat eksperimen dengan total 3.884 peserta. Hasilnya memberikan bukti bahwa mendorong seseorang mengandalkan emosi ketika menilai berita dapat meningkatkan persepsi kebenaran terhadap berita palsu dibandingkan dengan kondisi kontrol atau dorongan untuk menggunakan penalaran analitis.

Meski demikian, faktor emosi bukan satu-satunya penyebab seseorang mempercayai hoaks. Cara seseorang menilai informasi juga dapat dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya, konteks berita, dan kebiasaan memeriksa sumber. Karena itu, ketika menemukan berita yang memicu emosi kuat, kita perlu berhenti sejenak sebelum mempercayai atau membagikannya. Perasaan yang muncul setelah membaca suatu berita bukanlah bukti bahwa informasi tersebut benar.

2. Algoritma media sosial dapat memperkuat penyebaran informasi menyesatkan

ilustrasi media sosial (pexels.com/Bastian Riccardi)

Saat ini, media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater, jumlah identitas pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta pada Oktober 2025, meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut setara dengan 62,9 persen dari total populasi Indonesia.

Besarnya jumlah pengguna media sosial membuat platform digital menjadi ruang penting untuk memperoleh dan menyebarkan informasi. Pengguna dapat menemukan konten sesuai dengan minat dan aktivitas mereka melalui sistem rekomendasi yang mengatur konten pada beranda.Namun, interaksi antara perilaku manusia dan algoritma juga dapat memengaruhi bagaimana informasi menyebar.

Sebuah penelitian mengenai Human-algorithm interactions help explain the spread of misinformation (2024), membahas hubungan antara kecenderungan perhatian manusia terhadap informasi emosional dan bermuatan moral dengan algoritma yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna.

Menurut kerangka yang dibahas dalam penelitian tersebut, misinformasi dapat memanfaatkan interaksi antara kecenderungan perhatian manusia dan amplifikasi algoritma untuk menyebar secara online. Para peneliti juga menekankan bahwa penyebaran misinformasi tidak dapat dijelaskan hanya melalui perilaku manusia atau algoritma secara terpisah, melainkan melalui interaksi keduanya.

Artinya, persoalan di era digital bukan sekadar seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan informasi yang muncul di dalamnya. Konten yang sering muncul atau mendapatkan banyak perhatian belum tentu memiliki tingkat kebenaran yang tinggi.

3. Hoaks yang diulang berkali-kali bisa terasa lebih benar

ilustrasi berita bohong (pexels.com/Insaanu Studio)

Bayangkan sebuah klaim muncul di media sosial hari ini. Besok, kamu melihat klaim serupa melalui unggahan orang lain. Beberapa hari kemudian, informasi yang sama kembali muncul dalam grup percakapan. Meskipun belum pernah memeriksa kebenarannya, klaim tersebut bisa terasa semakin familiar. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai illusory truth effect atau efek kebenaran semu.

Menurut The Illusory Truth Effect: A Review of How Repetition Increases Belief in Misinformation (2024), pengulangan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap informasi, termasuk berita palsu dan teori konspirasi. Penelitian tersebut juga membahas bahwa pengulangan dapat meningkatkan keinginan untuk membagikan berita. Dengan demikian, sering melihat suatu klaim bukanlah bukti bahwa klaim tersebut benar. Familiaritas dan kebenaran merupakan dua hal yang berbeda.

4. Kita lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan

ilustrasi membaca berita namun tidak bisa menerima fakta (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Setiap orang memiliki pengalaman, nilai, dan keyakinan yang memengaruhi cara mereka memahami informasi. Ketika menemukan berita yang sesuai dengan pandangan pribadi, seseorang mungkin tidak memeriksanya dengan tingkat kehati-hatian yang sama seperti informasi yang bertentangan dengan keyakinannya. Fenomena ini berkaitan dengan confirmation bias atau bias konfirmasi, yaitu kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, atau mengingat informasi yang mendukung keyakinan sebelumnya.

Penelitian berjudul The Impact of Confirmation Bias Awareness on Mitigating Susceptibility to Misinformation (2024) mengkaji peran kesadaran terhadap bias konfirmasi dalam menghadapi misinformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mendapatkan intervensi kesadaran bias konfirmasi memiliki kerentanan yang lebih rendah terhadap misinformasi dan kemampuan yang lebih baik dalam membedakan kebenaran informasi.

Meski demikian, kesesuaian suatu berita dengan keyakinan pribadi tidak otomatis membuat seseorang percaya pada berita palsu. Orang dengan pandangan yang berbeda juga dapat terpengaruh oleh informasi menyesatkan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis perlu diterapkan bukan hanya ketika kita menemukan informasi yang tidak disukai, tetapi juga ketika membaca berita yang ingin kita percayai.

5. Tidak semua kreator konten memeriksa fakta sebelum membagikan informasi

ilustrasi kreator konten (pexels.com/https://kaboompics.com)

Di tengah arus informasi yang cepat, pengguna media sosial bisa saja lebih berfokus pada membagikan berita daripada memeriksa akurasinya. Ditambah lagi, informasi yang dibagikan oleh kreator konten tidak selalu melalui proses verifikasi yang memadai. Padahal, konten yang mereka unggah dapat menjangkau banyak orang dan memengaruhi cara audiens memahami suatu peristiwa.

Laporan UNESCO berjudul Behind the Screens: Insights from Digital Content Creators (2024) melibatkan 500 influencer dari 45 negara. Hasil survei menunjukkan bahwa 62 persen kreator konten digital yang disurvei tidak melakukan pemeriksaan fakta secara ketat dan sistematis sebelum membagikan informasi. Selain itu, 42 persen responden menggunakan jumlah likes dan views sebagai indikator utama kredibilitas suatu sumber informasi.

Temuan tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam praktik verifikasi informasi di kalangan kreator konten. Namun, angka tersebut tidak berarti semua kreator konten menyebarkan hoaks atau tidak memiliki kepedulian terhadap akurasi. Survei UNESCO mengukur praktik dan kebiasaan responden yang diteliti, bukan membuktikan bahwa informasi yang mereka bagikan selalu salah.

Kredibilitas seorang kreator konten tidak otomatis menjamin kebenaran setiap informasi yang dibagikannya. Kebiasaan memeriksa fakta tetap penting, baik bagi pembuat konten maupun audiens yang menerima informasi.

6. Zaman semakin canggih, tetapi kemampuan literasi digital tetap perlu dilatih

ilustrasi bijak dalam menyebarkan informasi di media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Kemajuan teknologi telah membuat informasi lebih mudah diakses dan disebarkan. Namun, kemampuan menggunakan perangkat digital tidak otomatis membuat seseorang mampu menilai setiap informasi secara akurat.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa emosi, pengulangan misinformasi, serta kurangnya pemeriksaan fakta menjadi beberapa faktor yang memengaruhi orang masih mudah percaya hoaks atau informasi palsu. Peran algoritma media sosial dan kebiasaan pengguna dalam mengonsumsi informasi juga perlu diperhatikan.

Karena itu, literasi digital penting untuk diterapkan, bukan hanya saat menggunakan media sosial, tetapi juga saat mencari dan membagikan informasi di internet. Literasi digital membantu kita membangun kebiasaan mengevaluasi sumber, memahami konteks, dan menahan diri sebelum menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article