ilustrasi pemimpin (pexels.com/Artem Podrez)
Dalam ruangan itu, semua orang menunggu satu orang selesai berbicara. Pendapatnya didengarkan, keputusannya dipertimbangkan, dan arah pembicaraan sering kali mengikuti apa yang dia katakan. Selama ini, dia terbiasa menjadi orang yang memberikan jawaban, bukan orang yang diminta menjelaskan kesalahannya sendiri.
Lalu, suatu hari keputusan yang dibuatnya dipertanyakan. Beberapa orang menyampaikan keberatan, tetapi dia justru semakin teguh mempertahankan pilihannya. Barangkali dia khawatir pengakuan akan membuat orang lain meragukan kemampuannya. Barangkali pula, dia merasa mengubah pendapat sama dengan kehilangan kendali atas keadaan yang ada.
Menurut Carol Tavris, psikolog sosial, “Entah bagaimana, kita belajar bahwa mengakui kesalahan sama artinya dengan mengakui bahwa kita bodoh. Padahal, anggapan itu sepenuhnya merupakan pemahaman yang terbentuk dari budaya. Banyak orang belajar, baik secara individu maupun dalam komunitas atau organisasi yang tidak berpikir demikian, bahwa mereka bisa mengakui kesalahan tanpa berarti mereka bodoh,” dikutip dari Point of Inquiry.
Orang-orang tidak selalu mengingat siapa yang paling keras mempertahankan pendapatnya. Mereka justru mengingat siapa yang bersedia mendengarkan, memperbaiki keputusan, dan bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan semestinya. Wibawa gak selalu runtuh ketika seseorang mengakui kesalahan. Justru dari pengakuan itulah kepercayaan orang lain bisa tumbuh kembali.
Lampu ruangan masih menyala ketika kursi-kursi mulai bergeser dan langkah kaki terdengar menjauh. Di depan, seseorang masih sibuk menjelaskan mengapa keputusannya tak seharusnya dipersoalkan, sementara orang-orang yang awalnya menyimak memilih untuk pulang dengan membawa persoalan yang belum selesai. Mungkin bagi orang tersebut, penjelasan itu cukup untuk menjaga harga dirinya. Tetapi di luar ruangan itu, ada orang-orang yang tetap harus menanggung akibat dari keputusannya. Yang ia tidak tahu, keberanian terbesar justru terletak pada kesediaan untuk berhenti sejenak dan mengakui kesalahan diri sendiri.