Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Ada Orang Sulit Mengakui Kesalahan meski Sudah Dikritik?

4 min read
Kenapa Ada Orang Sulit Mengakui Kesalahan meski Sudah Dikritik?
ilustrasi kritik di tempat kerja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Sebagian orang sulit mengakui kesalahan karena ego rapuh dan harga diri mudah goyah, sehingga koreksi terasa seperti ancaman pribadi.
  • Rasa tidak nyaman dan bersalah mendorong orang membela diri lewat alasan, menyalahkan keadaan atau pihak lain, serta mengecilkan dampak kesalahan.
  • Kritik dapat dianggap mengancam wibawa dan kemampuan, padahal mengakui kesalahan, memperbaiki keputusan, serta bertanggung jawab dapat membangun kembali kepercayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ruangan itu mendadak hening ketika seseorang mulai mempertanyakan keputusan yang baru saja dibuat. Beberapa pasang mata saling bertukar pandang, sementara seseorang di ujung meja sibuk merapikan berkasnya, seolah sedang menimbang apakah pendapatnya perlu disampaikan atau lebih baik ia simpan sendiri. Di hadapan mereka, orang yang memimpin percakapan tersebut tetap berbicara dengan nada mantap. Setiap kritik dijawab, setiap keberatan dibantah, dan setiap pertanyaan disambut dengan penjelasan-penjelasan yang baru.

Tak ada yang benar-benar tahu apakah orang tersebut benar-benar gak menyadari kesalahannya atau sekadar gak ingin terlihat keliru. Yang jelas, semakin banyak alasan yang disampaikan, semakin jauh konteks percakapan itu dari persoalan semula. Orang-orang akhirnya pulang tanpa sebuah jawaban, tetapi malah membawa pertanyaan yang sama. “Kenapa ya, orang begitu sulit mengakui kesalahan?”, gumam salah satu dari mereka.

  1. 1. Takut terlihat salah di mata orang lain

    ilustrasi tidak mengakui kesalahan
    ilustrasi tidak mengakui kesalahan (pexels.com/Tiger Lily)

    Kamu sedang mengobrol dengan seorang teman ketika menyadari ada informasi yang disampaikannya ternyata keliru. Kamu mencoba meluruskan dengan menunjukkan bukti yang mendukung penjelasanmu. Namun bukannya mengakui kekeliruannya, dia malah buru-buru menjelaskan maksud perkataannya. Ketika penjelasan itu tidak menjawab persoalan, muncul alasan lain. Kamu mulai merasa bahwa ia bukan lagi mempertahankan pendapatnya, tetapi harga dirinya. 

    Dalam laman Psychology Today, Guy Winch, Ph.D., psikolog berlisensi, menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki ego yang begitu rapuh dan harga diri yang mudah goyah, sampai-sampai mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan atau keliru terasa sebagai ancaman yang terlalu besar untuk diterima. Menerima kenyataan bahwa dirinya salah bisa terasa begitu mengguncang secara psikologis, sehingga mekanisme pertahanan dirinya melakukan sesuatu yang luar biasa demi menghindarinya: mereka benar-benar mendistorsi cara pandang terhadap kenyataan agar terasa tidak terlalu mengancam. 

    Barangkali, itu sebabnya ketika kamu mencoba memberikan koreksi sederhana kepada temanmu, bisa terasa seperti serangan pribadi. Temanmu mungkin mempertimbangkan bagaimana dirinya akan dipandang setelah kesalahan itu diakui. Padahal, keliru dalam satu hal gak berarti ia kehilangan seluruh kemampuannya.

  2. 2. Selalu punya alasan untuk membenarkan diri

    ilustrasi membenarkan kesalahan
    ilustrasi membenarkan kesalahan (pexels.com/Budgeron Bach)

    Pagi itu, kamu datang terlambat di kantor dan dengan cepat menjelaskan panjang lebar tentang kemacetan yang kamu alami. Siang harinya, ketika atasanmu meminta hasil pekerjaan, kamu tersadar bahwa pekerjaan itu lupa kamu kerjakan. Sebuah alasan lain kamu kemukakan lagi agar dirimu gak langsung disalahkan. 

    Karina Schumann, Ph.D., profesor psikologi di University of Pittsburgh, “Kita sering berusaha lepas dari tanggung jawab atas tindakan sendiri. Ini hal yang umum terjadi ketika kita melakukan kesalahan, sebab mengakuinya membuat kita merasa tidak nyaman dan ingin menghindari rasa bersalah. Ada banyak cara yang kita lakukan untuk membela diri. Kita bisa menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, mencari berbagai alasan untuk membenarkan tindakan kita, atau menganggap dampak yang kita timbulkan terhadap orang lain tidak sebesar kenyataannya,” dikutip dari American Psychological Association.

    Masalahnya, alasan yang terdengar masuk akal gak otomatis menghapus akibat dari kesalahanmu. Jalanan boleh macet, keadaan boleh berubah, dan orang lain boleh ikut melakukan kesalahan. Tetapi ketika semua hal itu kamu jadikan penyebab utama kecuali dirimu sendiri, tanggung jawab yang seharusnya ada padamu hanya berputar-putar tanpa pengakuan.

  3. 3. Takut kehilangan wibawa ketika menerima kritik

    ilustrasi pemimpin
    ilustrasi pemimpin (pexels.com/Artem Podrez)

    Dalam ruangan itu, semua orang menunggu satu orang selesai berbicara. Pendapatnya didengarkan, keputusannya dipertimbangkan, dan arah pembicaraan sering kali mengikuti apa yang dia katakan. Selama ini, dia terbiasa menjadi orang yang memberikan jawaban, bukan orang yang diminta menjelaskan kesalahannya sendiri.

    Lalu, suatu hari keputusan yang dibuatnya dipertanyakan. Beberapa orang menyampaikan keberatan, tetapi dia justru semakin teguh mempertahankan pilihannya. Barangkali dia khawatir pengakuan akan membuat orang lain meragukan kemampuannya. Barangkali pula, dia merasa mengubah pendapat sama dengan kehilangan kendali atas keadaan yang ada.

    Menurut Carol Tavris, psikolog sosial, “Entah bagaimana, kita belajar bahwa mengakui kesalahan sama artinya dengan mengakui bahwa kita bodoh. Padahal, anggapan itu sepenuhnya merupakan pemahaman yang terbentuk dari budaya. Banyak orang belajar, baik secara individu maupun dalam komunitas atau organisasi yang tidak berpikir demikian, bahwa mereka bisa mengakui kesalahan tanpa berarti mereka bodoh,” dikutip dari Point of Inquiry.

    Orang-orang tidak selalu mengingat siapa yang paling keras mempertahankan pendapatnya. Mereka justru mengingat siapa yang bersedia mendengarkan, memperbaiki keputusan, dan bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan semestinya. Wibawa gak selalu runtuh ketika seseorang mengakui kesalahan. Justru dari pengakuan itulah kepercayaan orang lain bisa tumbuh kembali.

    Lampu ruangan masih menyala ketika kursi-kursi mulai bergeser dan langkah kaki terdengar menjauh. Di depan, seseorang masih sibuk menjelaskan mengapa keputusannya tak seharusnya dipersoalkan, sementara orang-orang yang awalnya menyimak memilih untuk pulang dengan membawa persoalan yang belum selesai. Mungkin bagi orang tersebut, penjelasan itu cukup untuk menjaga harga dirinya. Tetapi di luar ruangan itu, ada orang-orang yang tetap harus menanggung akibat dari keputusannya. Yang ia tidak tahu, keberanian terbesar justru terletak pada kesediaan untuk berhenti sejenak dan mengakui kesalahan diri sendiri.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More