Berbuat baik sering kali dipandang sebagai tindakan positif yang menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Namun, di tengah kehidupan sosial yang semakin terhubung dengan media sosial, kebaikan juga bisa menjadi cara untuk membangun citra diri. Fenomena ini dikenal sebagai performative kindness, yaitu ketika tindakan baik lebih banyak diarahkan untuk menciptakan kesan tertentu daripada benar-benar memahami kebutuhan orang yang dibantu. Meski begitu, tindakan yang terlihat bukan berarti selalu palsu karena niat seseorang tidak bisa dinilai hanya dari apa yang tampak.
Menariknya, performative kindness menyimpan sejumlah paradoks yang membuat kebaikan justru berpotensi kehilangan makna awalnya. Seseorang bisa terlihat sangat peduli, tetapi mengabaikan perasaan orang yang ingin dibantu. Ada pula tindakan yang tampak tulus, tetapi diam-diam bergantung pada pengakuan. Berikut ini beberapa paradoks performative kindness yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, simak satu per satu!
