5 Momen Menyedihkan saat Hari Terakhir Kerja di Kantor

- Hari terakhir kerja setelah resign tetap memicu perasaan campur aduk, meski keputusan telah direncanakan dan berbeda dari layoff.
- Ucapan rekan, pelepasan atasan, serta hadiah kenang-kenangan membuat karyawan menyadari kontribusi dan kepedulian orang-orang di kantor.
- Sudut-sudut kantor membangkitkan kenangan, sementara langkah keluar terakhir menghadirkan lega sekaligus kegelisahan menghadapi masa depan yang belum pasti.
Kamu telah punya rencana resign atau malah permohonanmu sudah disetujui atasan? Resign atau keputusan mengundurkan diri dari pekerjaan memang gak seberat seandainya dirimu kena layoff. Kamu punya kehendak penuh untuk memutuskan pengunduran diri.
Keputusan itu telah dipikirkan masak-masak bahkan dipersiapkan. Dana darurat sudah tersedia bahkan mungkin kamu telah punya rencana karier yang baru. Namun, bukan berarti momen perpisahan bakal sepenuhnya berisi kegembiraan.
Hari terakhir bekerja akan tetap menjadi salah satu hari terberat dalam hidupmu. Perasaanmu pasti campur aduk. Pikiran juga sejak pagi kurang bisa fokus ke tugas-tugas yang akan dibereskan olehmu untuk terakhir kalinya. Siap-siap air matamu keluar bahkan ketika dirimu mencoba tertawa keras bersama teman-teman.
1. Teman yang gak dekat pun kasih ucapan selamat melanjutkan hidup

ilustrasi teman kantor (pexels.com/Mikhail Nilov) Ada teman yang tiba-tiba mendatangi mejamu atau menghentikan langkahmu saat kalian bertemu. Dia bukan mau kasih dokumen pekerjaan, melainkan sengaja melakukannya buat memberimu ucapan selamat jalan. Kejadian ini saja sudah membuatmu merasa hari ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Padahal, hubungan kalian selama ini juga gak dekat. Kalau sahabat-sahabatmu di kantor, tentu dirimu tidak kaget. Kamu juga tak merasa memberitahukan keputusan resign ini ke banyak orang.
Akan tetapi, begitulah kabar karyawan akan resign pasti dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kantor. Teman yang beda divisi dan dirimu tidak hafal namanya pun dapat mengetahuinya serta kasih ucapan perpisahan. Kamu menjadi terharu. Ternyata mereka peduli padamu.
2. Pelepasan dari atasan membuatmu sadar selama ini kiprahmu diperhatikan

ilustrasi perpisahan (pexels.com/RDNE Stock project) Setiap kantor tentu berbeda-beda dalam menyikapi keputusan resign karyawannya. Ada kantor dengan tipe atasan tak mau membuang sedikit pun waktu kerja buat melepas karyawannya yang mengundurkan diri. Malah karyawan yang resign dapat merasa seperti tidak dianggap bahkan diusir.
Namun, tak sedikit atasan yang bersedia repot-repot gabung bersama anak buahnya untuk melepas salah satu karyawan. Sekalipun atasan dalam kesehariannya tak selalu ada di kantor. Pada kesempatan itu, dia juga kasih kalimat pelepasan untukmu.
Dari situ barangkali kamu baru tahu bahwa kalimat pelepasannya yang tanpa teks terasa begitu tulus. Atasan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kontribusimu selama ini. Ia juga menyebutkan karakter-karaktermu yang membuatnya kagum. Bisa-bisa kamu agak menyesal memutuskan resign setelah mendengarnya.
3. Berangkat hampir gak bawa apa-apa, pulang kayak pindahan

ilustrasi menerima hadiah (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA) Lantaran ini bukan pemecatan tentu kamu sudah mengepak sebagian besar barangmu di kantor sejak beberapa hari sebelumnya. Meja telah hampir bersih. Laci-laci sudah kosong.
Bahkan mungkin di hari terakhir kerja dirimu tidak membawa laptop pribadi. Semua dokumen pekerjaan sudah dipindah ke komputer kantor. Namun, nanti boleh jadi dirimu keluar kantor tetap seperti orang pindahan.
Teman-teman kompak kasih kamu berbagai hadiah sebagai kenang-kenangan. Lengkap dengan fotomu dan aneka ucapan yang bisa dibaca dengan jelas tanpa dirimu membuka bungkusnya. Kamu yang biasa pergi dan pulang kantor naik motor mungkin sampai pesan taksi online untuk mengangkut seluruh hadiah dari teman.
4. Setiap sudut kantor seperti bercerita

ilustrasi berfoto bersama (pexels.com/Vitaly Gariev) Ini bukan sekadar hari terakhir kerjamu di sebuah kantor. Tadinya kamu membayangkan hari terakhir masuk paling cuma memastikan semua transfer pekerjaan beres, pamitan ala kadarnya dengan teman-teman, dan menyerahkan id card. Ternyata gak sesimpel itu.
Ke mana pun pandanganmu tertuju, setiap titik di kantor seakan-akan bercerita. Kamu punya banyak kenangan di hampir semua tempat. Dirimu teringat kembali rasa gugup ketika pertama kali menginjak lantai lobi.
Kamu masih ingat di sofa sebelah mana duduk menunggu panggilan atasan. Bahkan bayangan dirimu masuk dan keluar toilet kantor pun muncul begitu saja. Apalagi kantin dan aneka menunya, tempat parkir, serta alat perekam sidik jari yang menjadi saksi berapa kali dirimu pernah terlambat.
5. Jalan baru terbuka, pintu lama tertutup

ilustrasi berjalan pulang (pexels.com/Felicity Tai) Pastinya momen meninggalkan kantor untuk yang terakhir kali akan membuat pikiran dan perasaan gak keruan. Satu sisi, kamu lega karena inilah yang selama ini diinginkan. Dirimu juga telah menyaksikan beberapa karyawan yang pergi dan tak pernah kembali lagi ke kantor.
Apalagi jika keputusanmu mengundurkan diri dari pekerjaan dipicu adanya beberapa masalah. Langkahmu cukup ringan. Boleh jadi kamu sudah punya rencana untuk bersenang-senang malam nanti guna merayakan kebebasanmu dari belenggu pekerjaan.
Namun, di sudut hatimu pasti juga ada bayangan yang cukup menggelisahkan. Dirimu paham betul konsekuensi dari keputusan ini. Jalan di hadapanmu memang terbentang tanpa ujung.
Kamu siap menyambut segala kemungkinan di masa depan. Akan tetapi, ada pula sedikit rasa gentar membayangkan dirimu tak mungkin kembali ke kantor yang sama. Kamu tak tahu hidupmu setelah ini bakal lebih baik dari semasa masih berkantor di sana atau tidak.
Tak ada perpisahan yang sama sekali tidak diwarnai kesedihan. Apalagi kamu sudah bekerja di kantor tersebut bertahun-tahun bahkan begitu lulus kuliah. Mungkin nanti malam dan beberapa hari ke depan suasana hatimu agak mendung. Tegarkan diri karena hidup harus terus berlanjut.
























